Bab Seratus Empat Puluh Lima: Krisis Datang
Keesokan paginya, Wang Wen terbangun dari tidurnya, sementara Lin Feng perlahan membuka mata setelah selesai bermeditasi.
Setelah membasuh diri secara sederhana di tepi danau, Wang Wen bertanya hendak pergi ke mana. Lin Feng merenung sejenak, lalu mengeluarkan jimat komunikasi yang dahulu diberikan Long Jun kepadanya.
Meskipun Sekte Panah Bintang telah ditaklukkan oleh Sekte Sumber Roh, sekte itu belum musnah. Dengan demikian, seharusnya Long Jun tidak mengalami masalah besar. Sambil berpikir demikian, Lin Feng menyalurkan sedikit tenaga vital ke dalam jimat tersebut. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, jimat itu terbakar tanpa angin dan berubah menjadi abu.
“Seberapa jauh Sekte Panah Bintang dari Gunung Cangwu? Dengan kecepatan terbang seorang praktisi Alam Pembuka Roh, berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai ke sana?” Setelah mengirimkan pesan, Lin Feng bertanya kepada Wang Wen.
“Tidak terlalu jauh. Kita bisa tiba dalam beberapa jam,” jawab Wang Wen dengan patuh setelah berpikir sejenak.
“Baiklah. Kalau begitu, kita tunggu sebentar di sini.” Lin Feng lalu duduk bersila.
“Kenapa harus menunggu di sini? Membosankan sekali.” Wang Wen berjalan ke samping Lin Feng dan langsung berbaring di atas rerumputan.
“Kita tidak tahu berapa hari telah kita habiskan di makam kuno itu, tetapi kurasa ujian tersebut telah berakhir. Kini, satu-satunya cara untuk memasuki Sekte Sumber Roh adalah melalui hubungan di Sekte Panah Bintang. Aku memiliki seorang sahabat di sana. Kurasa dia dapat membantu kita. Tadi aku sudah mengirimkan pesan kepadanya. Jika tidak ada halangan, dia akan tiba dalam beberapa jam.” Lin Feng menutup mata dan berkata perlahan.
“Oh, begitu. Kalau begitu kita tunggu saja.” Wang Wen menatap langit biru dengan mata terbelalak, seakan baru menyadarinya.
Lin Feng hanya bergumam pelan. Setelah menelan beberapa butir pil, ia mulai menggerakkan tenaga vitalnya untuk menyingkirkan luka dalam yang dideritanya akibat pertarungan di Paviliun Rahasia Langit.
Luka dalam itu tidak terlalu parah. Selama berada di makam kuno, berkat tubuh Lin Feng yang luar biasa kuat, beberapa jam pengobatan, serta pengaturan tenaga yang dilakukannya semalam, luka tersebut telah pulih hampir sepenuhnya. Ia yakin hanya perlu beberapa hari lagi untuk sembuh total. Namun, demi keamanan, Lin Feng tetap merasa lebih baik jika seluruh luka itu dibersihkan.
Beberapa saat kemudian, Wang Wen tampaknya mulai merasa bosan. Ia menoleh kepada Lin Feng dan mendapati permukaan tubuhnya diselimuti cahaya merah. Wajah mungilnya dipenuhi rasa ingin tahu.
“Bodoh, sedang apa kau?”
Lama tidak mendapat jawaban, ia pun mengerucutkan bibir. Dari pinggang rampingnya, ia mengambil seruling air mata, menempelkannya ke bibir, lalu meniupkannya perlahan.
Alunannya indah dan ceria, menyegarkan hati serta pikiran.
Lin Feng belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Namun, begitu suara seruling tersebut masuk ke telinganya, tubuhnya bergetar. Aliran tenaga vital di dalam tubuhnya tiba-tiba meningkat pesat, bahkan lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelumnya!
Hati Lin Feng bergetar. Tanpa sempat bertanya kepada Wang Wen, ia kembali menelan sebutir pil. Khasiat pil itu segera diserap, dan luka dalamnya perlahan pulih. Ketika Wang Wen menyelesaikan lagunya, tidak ada lagi sedikit pun luka dalam di tubuh Lin Feng.
Saat itu, Lin Feng membuka mata dan menatap Wang Wen.
Wang Wen masih tenggelam dalam alunan seruling. Baru saja ia menurunkan alat musik itu, ia mendapati Lin Feng sedang menatapnya dan langsung terkejut.
“Bodoh, kenapa kau melihatku?”
“Apa nama lagu yang baru saja kau mainkan?” tanya Lin Feng dengan nada serius.
Lagu itu terlalu mengerikan. Lagu tersebut bahkan mampu mempercepat laju kultivasi pendengarnya. Jika kabar ini tersebar, keadaan Wang Wen akan menjadi sangat berbahaya!
“Judulnya Nada Angin Berdentang. Aku baru mempelajarinya dari Kakak Xiang Fei. Bagaimana? Enak didengar, bukan? Hehe.” Wang Wen tersenyum bangga, memperlihatkan gigi putihnya.
“Berapa banyak lagu yang kau pelajari darinya?” Lin Feng terdiam sejenak sebelum kembali bertanya.
“Tiga. Katanya masih ada beberapa lagu yang belum bisa kumainkan dengan tingkat kultivasiku. Untuk memainkan Nada Angin Berdentang ini saja aku harus mengerahkan tenaga spiritual, dan rasanya cukup berat.” Wang Wen berpikir sejenak, lalu mengernyitkan dahi.
“Mulai sekarang, jangan pernah memainkan lagu ini di hadapan orang lain. Jangan di hadapan siapa pun!” Lin Feng mengangguk dan berkata dengan tegas.
Wang Wen tertegun. Ia tidak mengerti alasannya, lalu bertanya dengan bingung, “Kenapa? Menurutku lagu ini sangat indah.”
Wajah Lin Feng tetap keras. “Tidak ada alasan. Dengarkan saja kataku.”
“Baiklah... kalau begitu aku berjanji.” Wang Wen sedikit ragu, lalu bergumam.
“Bagus. Sekarang mainkan dua lagu lainnya. Biar kudengar.” Wajah Lin Feng melunak.
Wang Wen mengangguk. Bibirnya bergerak sedikit, dan seketika terdengar melodi yang sama sekali berbeda dari sebelumnya!
Lagu itu dipenuhi aura pembantaian, membuat pendengarnya seolah-olah terjerumus ke neraka tanpa jeda. Alunannya sama sekali tidak merdu, tetapi mampu mencengkeram kesadaran pendengar dengan erat, menenggelamkannya ke dalam lagu dan memaksanya menanggung siksaan tanpa batas!
Wajah Lin Feng berubah. Tenaga vital segera bergolak di dalam tubuhnya, dan dalam sekejap pendengarannya tertutup. Rasa ngeri dalam kesadarannya pun perlahan mereda.
Ekspresi Lin Feng berubah-ubah. Lagu itu terlalu keji. Seharusnya lagu semacam itu tidak pernah berada di tangan Wang Wen!
“Berhenti!” seru Lin Feng pelan.
Wang Wen menurunkan kedua tangannya dan menatap Lin Feng dengan bingung.
“Mainkan lagu yang terakhir.”
Wajah Lin Feng tampak agak muram.
Wang Wen tidak benar-benar memahami maksudnya, tetapi tetap mulai meniup seruling.
Namun, kali ini bibir Wang Wen memang tampak bergerak, tetapi tidak terdengar suara sedikit pun!
Lin Feng mengernyit dan menatap Wang Wen.
Saat melihatnya dengan saksama, ekspresi Lin Feng langsung berubah. Ruang di hadapannya beriak, lalu riak itu melesat ke arahnya dengan ketajaman luar biasa!
Wajah Lin Feng berubah drastis. Ia segera menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan telentang di tanah. Tepat pada saat ia berbaring, ia merasakan hembusan angin tipis melintas di atas dadanya. Tubuhnya seketika terasa sedingin berada di dalam gua es!
Ia mendapat firasat bahwa jika dirinya terlambat menghindar sedikit saja, ia mungkin akan menderita luka berat.
“Berhenti!”
Lin Feng kembali berseru. Bersamaan dengan itu, dari belakang dan sekelilingnya terdengar suara tak terhitung banyaknya pohon tumbang!
Wajah Lin Feng kembali berubah. Ia buru-buru melihat sekeliling dan mendapati pepohonan yang tak terhitung jumlahnya telah patah di bagian tengah, lalu roboh dengan suara menggelegar, menimbulkan kepulan debu di mana-mana!
Lin Feng menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga. Setelah beberapa lama, barulah ia tersadar dan menoleh kepada Wang Wen. Gadis kecil itu tampak sedang menggenggam seruling dengan satu tangan, sementara tubuhnya terbaring di atas rerumputan. Wajahnya pucat dan kedua matanya terpejam rapat.
Lin Feng mengernyitkan dahi. Ia mendatangi Wang Wen, lalu menempelkan dua jarinya pada pergelangan tangannya yang putih seperti batu giok. Beberapa saat kemudian, ia baru mengembuskan napas lega.
Gadis kecil itu hanya menghabiskan seluruh tenaga spiritual di dalam tubuhnya. Karena kelelahan yang teramat sangat, ia pun jatuh pingsan.
Setelah memastikan Wang Wen tidak terluka, Lin Feng kembali tenggelam dalam pemikiran.
Tiga lagu milik gadis kecil itu ternyata semakin lama semakin aneh. Terutama lagu terakhir, yang mampu membentuk serangan gelombang suara tak kasatmata dan membunuh tanpa wujud. Sungguh sangat keji!
Beberapa waktu kemudian, Lin Feng perlahan mengembuskan napas. Ia hendak kembali bermeditasi, tetapi saat itu juga terdengar suara deru dari langit. Semangat Lin Feng langsung bangkit dan wajahnya dipenuhi kegembiraan.
“Siapa yang sanggup membuat Lin Feng yang termasyhur menghela napas seperti itu?”
Bersamaan dengan suara tersebut, seberkas cahaya melesat turun dari langit dan berubah menjadi seorang pemuda bertubuh agak gemuk, mengenakan jubah putih.
Di rambut pemuda itu tampak beberapa helai uban. Ia benar-benar seorang pemuda yang telah beruban sebelum waktunya!
Orang itu tentu saja Long Jun.
“Saudara Long, lama tak berjumpa!” Melihatnya, Lin Feng melangkah maju, mengepalkan tangan, lalu tersenyum.
“Hahaha, Saudara Lin baru saja turun gunung, tetapi sudah menimbulkan keributan sebesar ini. Menerobos wilayah inti Gunung Cangwu, melarikan diri dari tangan seorang tetua Sekte Panah Bintang di Alam Pengorbanan Tubuh, lalu membawa kabur putri keluarga Wang dari Lima Keluarga Agung. Sungguh prestasi yang membuatku kagum!” Long Jun membalas salam dengan mengepalkan tangan sambil tertawa.
Lin Feng tertawa getir dan berkata tanpa daya, “Saudara Long, jangan mengejekku lagi.”
“Hahaha...” Long Jun langsung tertawa terbahak-bahak. Setelah itu, ia menatap Wang Wen yang terbaring di rerumputan dengan wajah iri.
“Hei, hei, hei... keberuntunganmu dengan wanita sungguh luar biasa, Saudara Lin. Selama ini ditemani seorang wanita secantik itu, bahkan dikejar-kejar pun rasanya tetap menyenangkan!”
Lin Feng kembali tertawa getir. Kemudian, dengan wajah serius, ia berkata, “Saudara Long, bisakah kau menceritakan keadaan di luar kepadaku?”
Mendengar itu, Long Jun juga menghentikan tawanya. Wajahnya berubah berat.
“Sekte Panah Bintang telah menyelidiki seluruh latar belakangmu. Mereka juga mengetahui hubunganmu denganku. Jika aku tidak memiliki kedudukan tertentu di dalam sekte, saat ini aku mungkin sudah ditahan. Namun, meskipun demikian, mereka tetap menyita metode komunikasiku. Untungnya, aku telah memasang jebakan pada metode itu. Karena itu, tempat ini bukan lokasi yang aman untuk berlama-lama! Ikutlah denganku. Akan kuceritakan semuanya dalam perjalanan.”
Wajah Lin Feng berubah. Ia tidak menyangka keadaan telah menjadi separah ini. Ia segera mengangkat Wang Wen yang masih tertidur, menyelipkan seruling air mata di pinggang ramping gadis itu, lalu mengikuti Long Jun berlari ke dalam hutan.
“Meskipun aku telah memasang jebakan pada metode komunikasiku, setelah kau mengirim pesan, aku hanya bisa menyembunyikan keberadaanmu dari mereka selama satu jam. Kurasa sekarang para ahli dari sekte itu sudah mulai berdatangan. Karena itu, kita hanya bisa bergerak lewat darat.” Long Jun melompat dari satu pohon ke pohon lainnya sambil berkata dengan suara rendah.
Wajah Lin Feng tampak berat. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun dan hanya terus bergerak dalam diam.
“Siapa saja yang mengetahui bahwa kau memiliki Lencana Panah Bintang?” tanya Long Jun dengan bingung sambil terus berlari.
Lin Feng tertawa getir, lalu menceritakan seluruh kejadian yang berlangsung di Paviliun Rahasia Langit.
Setelah mendengarnya, Long Jun mendengus dingin.
“Lima Keluarga Agung benar-benar tidak tahu malu. Mereka bahkan mengatakan bahwa kau menculik putri keluarga Wang, menyusup ke Paviliun Rahasia Langit, dan merencanakan pencurian harta Kaisar Shun! Kini banyak pemuda berbakat mulai mencarimu di berbagai pegunungan dan sungai, dengan alasan hendak menyelamatkan putri keluarga Wang. Huh, bukankah para munafik itu sebenarnya hanya mengincar harta Kaisar Shun?”
Tatapan Lin Feng memancarkan hawa dingin sesaat, lalu ia kembali tertawa getir.
“Di dalam makam Kaisar Shun tidak ada harta apa pun. Semuanya telah dikosongkan ribuan tahun lalu.”
“Benar juga. Makam Kaisar Shun telah ditemukan selama puluhan ribu tahun. Bahkan sejak sepuluh ribu tahun lalu sudah ada orang yang memasukinya. Kalau memang ada harta, mana mungkin masih tersisa untuk kita, para generasi belakangan?” Long Jun menggelengkan kepala dan mencibir.
“Saudara Long, setelah menyelamatkanku kali ini, bagaimana nasibmu?” Wajah Lin Feng dipenuhi kekhawatiran. Ia juga merasa bersalah.
Setelah Lin Feng mengirimkan jimat komunikasi, itu sama saja dengan memberitahu Sekte Panah Bintang bahwa dirinya telah muncul kembali dan telah bertemu dengan Long Jun!
“Tidak masalah. Jimat komunikasi ini bukan hanya kuberikan kepadamu. Aku bisa mencari alasan apa saja untuk mengelak. Selain itu, belakangan ini kaum iblis melakukan invasi besar-besaran. Tak terhitung banyaknya pejuang telah membentuk pasukan para praktisi di Pegunungan Hengduan untuk melawan pasukan iblis. Sekte Panah Bintang juga demikian, sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk mengurus terlalu banyak hal!
“Lagipula, karena perang tersebut, seorang senior misterius dari Sekte Sumber Roh telah mendirikan Puncak Pembantai Iblis di dalam Sekte Sumber Roh, sebuah wilayah yang berdiri di luar kendali sekte itu sendiri!”
Long Jun sama sekali tidak tampak cemas. Ia perlahan mengungkapkan pemikirannya.