Bab 146: Terjebak dalam Situasi Berbahaya
“Puncak Pembantai Siluman?” Lin Feng menunjukkan kebingungan, meski samar-samar ia telah menebak maksudnya.
“Benar. Saat ini Puncak Pembantai Siluman sedang merekrut murid dari luar. Aku berniat bergabung dengan puncak itu. Jika aku berhasil masuk, meskipun orang-orang Sekte Panah Bintang mengetahui bahwa aku pernah menemuimu, mereka tidak akan berani berbuat apa-apa kepadaku!” Mata Long Jun memancarkan ketajaman ketika ia berkata perlahan.
Setelah mendengarnya, Lin Feng termenung sejenak sebelum bertanya, “Pendiri Puncak Pembantai Siluman itu sangat kuat?”
“Sangat kuat! Di Sekte Sumber Roh, dia termasuk salah satu yang terkuat. Mungkin, jika hanya mengandalkan kekuatannya seorang, dia sudah mampu memusnahkan Sekte Panah Bintang!” Saat mengucapkannya, mata Long Jun memancarkan kilatan cahaya dan semangat yang membara.
Hati Lin Feng bergetar. “Siapa namanya? Bagaimana sifatnya?”
“Konon, orang itu sangat melindungi orang-orangnya. Menurut kabar yang beredar, marganya Yang dan gelar Tao-nya adalah Putra Awal Langit, tetapi nama aslinya tidak diketahui.” Long Jun menjawab. Ia samar-samar telah menebak pikiran Lin Feng, lalu bertanya, “Jangan-jangan kau juga ingin bergabung dengan puncak itu?”
Lin Feng mengangguk. “Memang itu niatku.”
“Namun, dengan keadaanmu sekarang, sebaiknya kau tidak muncul di hadapan orang lain.” Long Jun mengerutkan kening, sedikit cemas.
“Aku tahu apa yang kulakukan. Kau masih belum percaya kepadaku?” Lin Feng tersenyum misterius.
“Baiklah. Penerimaan murid resmi Puncak Pembantai Siluman akan dilaksanakan di sekitar Prefektur Lichou, setengah bulan lagi.” Long Jun menghela napas tak berdaya dan memberitahukan rincian kabar itu kepada Lin Feng.
“Baik, terima kasih.” Lin Feng tersenyum tipis.
Tiba-tiba Long Jun teringat sesuatu. Dengan wajah serius, ia berkata, “Oh, ya. Selama perjalananmu menuju Lichou, kau harus lebih berhati-hati. Setelah kabar bahwa kau telah meninggalkan gunung tersebar, berita bahwa kau membunuh adik Qi Ping juga terbongkar. Tetua Sekte Sumber Roh yang berada pada Alam Penempaan Tubuh—Qi Hen, ayah Qi Ping—telah keluar dari tempat pertapaannya dan sedang melacak keberadaanmu.”
Hati Lin Feng tersentak. Wajahnya seketika menjadi muram.
“Namun, jika kau berhasil masuk ke Puncak Pembantai Siluman, orang itu tidak akan berani bertindak terang-terangan. Yang perlu dikhawatirkan adalah serangan dari balik layar...” Nada suara Long Jun berubah, lalu ia menggelengkan kepala.
Lin Feng mengangguk dalam diam.
Melihat hal itu, Long Jun pun tidak berkata apa-apa lagi. Mereka berdua melanjutkan perjalanan dalam keheningan, dan tanpa disadari kecepatan mereka meningkat cukup banyak.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah kota kecil. Penduduknya tidak banyak; di jalan utama hanya terlihat beberapa orang.
Long Jun membawa Lin Feng melewati gang-gang sepi. Setelah berbelok beberapa kali, mereka memasuki sebuah rumah besar.
Di dalamnya tidak ada seorang pun. Long Jun memilih sebuah kamar secara acak dan masuk ke dalam.
Kamar itu tampak sangat bersih, seolah-olah ada seseorang yang membersihkannya secara berkala.
“Rumah ini kubeli di dunia fana. Biasanya, ketika merasa jenuh dalam berkultivasi, aku datang ke sini untuk menenangkan diri. Tidak ada orang lain yang tahu tempat ini. Kau bisa berlindung di sini untuk sementara. Sepuluh hari lagi, berangkat ke Lichou pun masih sempat.” Long Jun duduk di depan meja segi delapan, menuangkan secangkir air putih untuk dirinya, lalu meminumnya sebelum melanjutkan.
Lin Feng membaringkan Wang Wen dengan lembut di atas ranjang dan menyelimutinya. Setelah itu, ia berjalan mendekat, meneguk air, lalu berkata, “Terima kasih, Saudara Long.”
“Kita ini saudara. Jangan bicara seformal itu. Aku harus kembali ke sekte, kalau tidak para tetua akan curiga.” Long Jun berdiri, mengepalkan tangan sebagai salam, kemudian meninggalkan rumah. Tubuhnya berubah menjadi seberkas cahaya dan menghilang di ujung cakrawala.
Setelah menutup pintu, Lin Feng duduk di kursi sambil memegang cangkir porselen berisi air putih, lalu tenggelam dalam pikirannya.
Dalam lamunannya, ia tidak menyadari bahwa batu giok di leher Wang Wen berkilat samar sesaat, kemudian kembali tenang.
Waktu berlalu perlahan. Satu jam kemudian, Lin Feng tersadar dari lamunannya. Ia berjalan ke sisi ranjang, duduk bersila, lalu perlahan menggerakkan tenaga darah dan energinya.
Namun, tak lama setelah Lin Feng memejamkan mata, suara menggelegar seperti guntur bergulung tiba-tiba terdengar dari langit. Lin Feng segera membuka mata, wajahnya berubah muram.
“Lin Feng, cepat keluar! Lepaskan Wang Wen dan serahkan harta karun itu. Kami masih bisa berunding untuk membiarkan mayatmu tetap utuh!”
Saat itu, lebih dari sepuluh sosok bercahaya muncul di langit kota kecil tersebut. Semuanya adalah ahli Alam Pembuka Roh!
Lin Feng bangkit dengan cepat. Aura membunuh memenuhi tubuhnya, sementara pikirannya berputar, berusaha menebak bagaimana mereka bisa menemukan keberadaannya.
Pikiran pertama yang muncul adalah bahwa Long Jun telah mengkhianatinya. Namun, sesaat kemudian ia menolak kemungkinan itu. Meskipun Long Jun agak licik, ia adalah orang yang selalu menepati kata-katanya. Ia tidak mungkin mengkhianati seorang sahabat.
Jika Long Jun bukan pelakunya, maka hanya Sekte Panah Bintang atau Keluarga Wang yang tersisa.
Lin Feng berbalik memandang Wang Wen yang tertidur. Ia segera menyadari bahwa batu giok di leher gadis itu kini memancarkan cahaya hijau.
“Lin Feng, jika kau masih tidak keluar, jangan salahkan kami karena bertindak kejam!” Suara tajam itu kembali terdengar dari langit. Wajah Lin Feng semakin muram.
Ia mendengus dingin, melangkahkan kaki, lalu langsung berjalan keluar dari rumah.
Setelah keluar, Lin Feng tidak berhenti. Dengan kecepatan luar biasa, ia menuju hutan.
Kemunculan Lin Feng segera menimbulkan keributan di antara orang-orang yang berada di langit. Lebih dari sepuluh sosok itu berubah menjadi berkas cahaya dan mengejarnya. Dalam beberapa tarikan napas, mereka telah tiba di atas hutan.
Desing tajam terdengar. Lebih dari seratus anak panah kecil berwarna merah darah membentuk hujan panah dan melesat serempak ke arah mereka.
Wajah lebih dari sepuluh orang itu berubah. Mereka bukan terkejut oleh kekuatan anak-anak panah tersebut, melainkan oleh asal-usul teknik roh itu.
“Mantra Aura Panah! Bagaimana mungkin orang ini berasal dari Sekte Panah Bintang?” pemimpin mereka berseru lirih, seolah tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Dari suaranya, dialah orang yang sebelumnya berteriak dari langit.
Meskipun terkejut, gerakannya sama sekali tidak lambat. Dalam sekejap, lebih dari seratus anak panah kecil itu dihancurkan oleh mereka hingga menjadi abu.
“Siapakah sebenarnya dirimu? Mengapa kau menguasai teknik roh Sekte Panah Bintang?” Pemimpin itu adalah seorang pemuda. Ia berdiri di atas pedang raksasa berwarna hijau dan bertanya dengan suara dingin.
Lama tidak ada jawaban dari bawah hutan. Pemuda itu terus mengerutkan kening.
“Saudara Wang Ming, orang ini benar-benar tidak tahu diri. Tingkat kultivasinya bahkan belum mencapai Alam Pembuka Roh, tetapi sudah begitu angkuh. Bagaimana kalau kita turun, menangkapnya, memaksanya mengungkap rahasia Makam Kaisar Shun, lalu menyerahkannya kepada Sekte Panah Bintang?” ujar seorang pemuda berusia sekitar tiga puluh tahun di belakang Wang Ming.
Tatapan Wang Ming berubah-ubah. Setelah beberapa saat, ia berkata, “Baiklah. Aku ingin melihat tipu muslihat apa yang sedang dimainkannya. Ayo, kita turun.”
Lebih dari sepuluh orang itu segera menunjukkan kegembiraan, lalu berubah menjadi berkas cahaya dan melesat ke bawah.
Begitu mereka memasuki hutan, lebih dari sepuluh tombak pendek berwarna merah darah melesat sambil mendengung ke arah mereka.
Serangan itu datang terlalu mendadak. Wajah mereka semua berubah, dan masing-masing segera menghindar.
Tombak-tombak pendek itu berbeda dari anak panah sebelumnya. Anak panah tadi menyerang secara berkelompok, sedangkan tombak-tombak ini berfokus pada satu sasaran. Meskipun mereka semua berada di Alam Pembuka Roh, jika tertusuk, mereka tetap akan mengalami luka.
Di balik sebatang pohon, Lin Feng menatap seorang pemuda yang berada paling dekat dengannya dengan senyum dingin. Ia melangkah keluar, tiba-tiba muncul di bawah pemuda itu, lalu menghentakkan tumitnya ke tanah. Tubuhnya melesat ke udara, dan pada saat yang sama kaki kanannya menendang secepat kilat.
Buk!
Semua itu terjadi dalam sekejap. Pemuda tersebut sama sekali tidak sempat bereaksi ketika tendangan Lin Feng menghantam pinggangnya. Wajahnya memerah, lalu ia memuntahkan darah. Tubuhnya jatuh menghantam tanah, menimbulkan kepulan debu, kemudian terbaring tanpa bergerak. Hidup atau mati, tidak ada yang tahu.
Lin Feng mendarat dengan mantap. Orang-orang lainnya akhirnya tersadar dan segera menjauh darinya, menatapnya dengan amarah.
Lin Feng memandang mereka dengan tenang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Jadi, kaulah Lin Feng?” Wang Ming melirik pemuda yang tergeletak di tanah, lalu menyipitkan mata ke arah Lin Feng.
“Siapa kau?” tanya Lin Feng dengan tenang.
“Kau... mencari mati!” Salah seorang di belakang Wang Ming langsung murka. Ia mengendalikan cahaya pelariannya dan hendak menyerang, tetapi Wang Ming menahannya.
“Aku Wang Ming dari Keluarga Wang, salah satu dari Lima Keluarga Besar. Aku adalah sepupu Wang Wen.” Setelah menghentikan beberapa orang itu, Wang Ming mengepalkan tangan sebagai salam. Sikapnya tampak cukup sopan.
Tatapan Lin Feng berkilat, lalu ia terdiam.
“Kekuatan Saudara Lin sungguh luar biasa. Beranikah kau bertarung melawanku?” Wang Ming tidak marah. Sebaliknya, ia berkata dengan tenang.
Kilatan tajam muncul di mata Lin Feng. “Apa yang perlu kutakutkan?”
Sejak awal, ia telah melihat bahwa kultivasi Wang Ming berada di puncak tahap awal Alam Pembuka Roh dan hampir menembus tahap menengah. Di antara semua orang yang hadir, dialah yang terkuat. Namun, sebagai anggota Keluarga Wang, harta dan teknik rohnya tentu jauh lebih baik daripada milik orang biasa.
“Kalian mundur. Biar aku yang menghadapinya.” Mata Wang Ming memancarkan kilatan tajam. Ia mengusir lebih dari sepuluh orang di belakangnya, lalu menatap Lin Feng sambil mengepalkan tangan. “Saudara Lin, mohon beri petunjuk.”
Lin Feng juga membalas salam itu sekilas, lalu menggerakkan tubuhnya dan melesat ke arah Wang Ming.
Senyum masih tampak di wajah Wang Ming, tetapi jauh di dalam matanya terlintas cahaya dingin. Begitu melihat Lin Feng menyerang, kedua tangannya segera membentuk rangkaian segel. Cahaya hijau yang menyilaukan langsung memancar dari tubuhnya.
Lin Feng menyipitkan mata, tetapi bukannya melambat, ia justru mempercepat gerakannya. Tenaga darah dan energinya terkumpul di tangan, lalu ia menghantamkan tinju ke arah Wang Ming.
Wang Ming tidak menghindar. Senyumnya malah semakin lebar.
Hati Lin Feng menegang. Namun, ia sudah tidak sempat menarik kekuatannya. Ia menggertakkan gigi dan mempercepat tinjunya lebih jauh.
Akan tetapi, ketika tinju Lin Feng menyentuh lapisan cahaya hijau di permukaan tubuh Wang Ming, gerakannya tiba-tiba menjadi sangat lambat. Tidak hanya itu, pada saat yang sama cahaya hijau tersebut berubah menjadi dinding kayu berwarna hijau. Dinding itu menjepit pergelangan tangan Lin Feng dan mengurung tinjunya dengan kuat, membuat wajah Lin Feng seketika berubah.
“Heh, matilah kau!” Wang Ming tertawa dingin. Ekspresinya berubah kejam. Dengan membalikkan tangan, ia memunculkan sebuah pedang roh berwarna hijau, lalu tanpa ragu menebaskannya ke arah pergelangan tangan Lin Feng.
Wajah Lin Feng kembali berubah. Ia berhenti meronta dengan tangan kanannya dan segera mundur sambil membawa dinding kayu itu.
Namun, bagaimana mungkin kecepatan mundurnya dapat menandingi kecepatan pedang roh? Pedang itu menebas tepat ke pergelangan tangannya. Untungnya, pergelangan tangan Lin Feng dilindungi oleh sarung tangan kaca berkilau, sehingga tebasan tersebut hanya mengenai sarung tangan itu.
Terdengar suara benturan logam. Pedang roh itu segera terpental, dan wajah Wang Ming ikut berubah.
Dalam jeda singkat tersebut, Lin Feng telah mundur lebih dari sepuluh zhang. Ia berdiri jauh dari Wang Ming dengan tatapan muram. Api muncul dari tangannya dan menyelimuti dinding hijau itu. Dalam sekejap, dinding tersebut berubah menjadi abu di depan mata.
Wajah Wang Ming telah kembali normal. Ia menatap Lin Feng dengan dingin.
“Aku memang meremehkanmu. Tak kusangka kau memiliki artefak roh tingkat menengah, bahkan artefak itu memiliki roh di dalamnya.”