Seribu tahun yang lalu, sebuah peradaban punah, meninggalkan satu kelompok ras jenius yang menjaga sisa-sisa terakhir kekayaan peradaban manusia. Namun, salah satu dari mereka tiba-tiba berkhianat, me
Di sebuah hutan purba yang belum pernah dijamah manusia di daratan luas, tersembunyi sebuah lembah kecil. Di dalam lembah itu berdiri sebuah desa mungil, rumah-rumahnya seluruhnya terbuat dari kayu, tampak begitu sederhana. Namun, meski sesederhana apapun, sebuah rumah tetaplah tempat bernaung bagi manusia.
Di salah satu rumah kayu itu, seorang pria terbaring lemah di atas ranjang. Dari sekali pandang saja sudah jelas bahwa usianya tinggal menghitung hari. Di sampingnya, seorang pemuda berlutut dengan tenang, tanpa guratan duka di wajahnya—begitu datar, seolah lelaki yang sekarat di depannya bukanlah siapa-siapa baginya.
Tiba-tiba, sang lelaki tua terbatuk keras, darah bercampur liur mengalir dari sudut bibirnya. Dengan mata yang setengah terpejam dan suara lirih, ia berkata kepada pemuda itu, “Setelah aku tiada, apa yang akan kau lakukan?”
“Aku ingin merebut kembali segalanya yang dulu menjadi milik keluarga kita,” jawab pemuda itu datar.
Mata lelaki tua yang semula redup tiba-tiba memancarkan sinar tipis, napasnya memburu menahan gejolak di dalam hati. “Bagus… sangat bagus…” katanya dengan napas tersengal, lalu terbatuk lagi, kali ini darah segar kembali memenuhi mulutnya.
“Jalan yang akan kau lalui jauh melampaui derita yang sanggup ditanggung manusia pada umumnya. Ratusan tahun sudah kami semua gagal. Kini beban berat itu jatuh ke pundakmu… Apakah kau takut?” tanya lelaki tua itu.
“Aku hanya takut tak bisa merebut kembali semua yang menjadi milik kita,” jawab pemuda itu mantap.
“Kau takut… Itu baik.”
Takut? Baik? Apakah