Bab Empat Puluh Sembilan: Naga atau Ikan
Aku terus mengikuti instruksi. Tetap berusaha setengah jongkok, namun entah mengapa, yang menantiku tetap saja sebuah jatuhan bokong yang memalukan.
Du Yuming benar-benar kecewa berat padaku, mulutnya tak henti-hentinya memaki.
“Sialan, benar-benar bodoh sekali! Sepanjang hidupku, belum pernah aku melihat orang sebodoh ini! Mulai besok, lebih baik kau ganti namamu saja. Jangan lagi dipanggil Shi Xian, ganti saja jadi Shi Bodoh atau Shi Dungu juga tak masalah!”
Delapan belas murid baru lainnya tak satu pun lagi menertawakanku. Mereka hanya menatapku dingin, memandangiku seolah aku makhluk asing bagi mereka.
Aku bahkan lebih rela jika semua orang mencemooh, memaki, atau mempermainkanku, daripada mereka memisahkanku lewat pandangan aneh seperti itu.
Sejak saat itu pula, aku benar-benar telah terpisah derajat dari yang lain.
Du Yuming selalu mengulang-ulang satu kalimat kepada kami.
“Yinshan Bu bukanlah tempat bagi pemalas. Siapa pun murid di sini, jika turun ke dunia, pasti menjadi pahlawan.
Mulai hari ini, sampai satu bulan ke depan, apakah kalian naga atau hanya ikan, akan segera terlihat.
Yang jadi naga, tetaplah di Yinshan Bu, di Aula Kebajikan kita, belajar ilmu, membanggakan keluarga. Yang hanya ikan, segeralah berkemas dan pulang, kembali ke kampung asal, melanjutkan hidup sebagai udang busuk dan belut lumpur.”
Setiap kali ia mengucapkan kalimat itu, para murid di belakangnya selalu penuh semangat. Di sini, semua ingin menjadi naga, tak ada yang mau jadi udang busuk.
Hanya aku, yang sudah lebih dulu memperlihatkan diri sebagai belut lumpur di mata semua orang. Begitu kotor, begitu bodoh, tak pantas jadi besar.
Sedangkan 18 murid baru lainnya, satu per satu penuh semangat, tinggal menunggu waktu untuk melompat melewati gerbang naga.
Terutama Yan Qi Ya itu. Apa yang ia katakan memang benar, ia yang paling berbakat di antara kami semua. Hanya dalam satu kelas, Du Yuming sudah memilihnya sebagai pemimpin kami, menggantikan guru mengawasi latihan tinju Fu Hu.
Pelajaran bela diri pertama berlalu dengan cepat. Kami semua sudah bermandi peluh, jubah Tao basah kuyup.
Pelajaran kedua tidak terlalu menguras tenaga, melainkan pelajaran budaya, belajar membaca dan menulis.
Tempat belajar budaya adalah sebuah kuil Sanqing.
Konon, kuil Sanqing ini adalah tempat paling sakral di Yinshan Bu. Letaknya di puncak tertinggi, tepat di tengah, bangunan megah bergaya Tang, menjulang seperti menara.
Setiap pelajar Maoshan, selalu memuja Sanqing.
Sanqing adalah tiga dewa tertinggi dalam kepercayaan Tao: Yuqing, Yuan Shi Tianzun; Shangqing, Lingbao Tianzun; Taiching, Daode Tianzun. Yuan Shi Tianzun adalah yang paling luhur di antara Sanqing, dan merupakan dewa utama dalam dunia para dewa.
Kami, sembilan belas murid baru, duduk di dalam kuil Sanqing. Guru yang mengajar adalah seorang sesepuh dari Yinshan Bu.
Usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, rambutnya putih, janggutnya panjang menyerupai Guan Gong. Konon, ia adalah tokoh paling senior di Yinshan Bu, bahkan lebih tinggi dari kepala perguruan.
Bahkan Tujuh Pendekar Yinshan pun pernah menjadi muridnya.
Pelajaran kali ini bukan hanya oleh sang sesepuh, ada juga seorang pendamping penting, yaitu Zhang Hongsheng.
Kami semua duduk bersila di atas matras wol berwarna hitam, masing-masing di depan meja rendah berkaki pendek.
Di atas meja sudah disiapkan kuas, pena, tempat tinta, tinta pekat, serta buku-buku bacaan yang bagiku seperti tulisan langit – tak satu pun yang kukenal.
Pelajaran dimulai, semua murid memberi hormat dengan menunduk dan membungkuk kepada sang guru.
Setelah semua duduk, sang guru memandangi kami lewat kacamata tuanya, lalu menatapku.
Ia segera mengenaliku.
Kemudian sambil memegang kuas, ia menunjukku dan bertanya,
“Hari ini ada murid baru. Nak, sebutkan namamu, supaya guru bisa mencatat.”
Aku menunduk, menjawab lirih, suara serupa dengungan nyamuk.
“Namaku Shi Xian.”
“Baik, ‘Shi’ dari ‘berbagi berkah’. Xian itu...?”
Guru berhenti menulis, menatapku tajam.
“Xian yang mana?”
“Malu... mempermalukan...”
Baru saja aku ingin menjelaskan asal usul namaku, tiba-tiba Zhang Hongsheng menyela, menjelaskan pada guru.
“Guru Sun, Shi Xian, artinya Mewujudkan. Seperti dalam syair ‘Cahaya emas muncul dari kolam timah, butir raksa mengalir ke ibu kota.’ Xian dari kata ‘muncul’.”
Guru Sun mendengar itu, memintal janggut panjangnya.
“Keluarga Shi punya dua putra, satu dalam seni bela diri, satu dalam ilmu pengetahuan. Keduanya punya kemampuan tersendiri, masing-masing menempuh jalannya. Suatu hari ditanya ilmunya, sang ayah mengajarkan pada anaknya. Namun gagal di negeri Qin dan Wei, akhirnya hanya menimbulkan perseteruan. Di mana mereka berlindung, sepasang angsa mandarin, jantan dan betina hidup bersama, berbagi makan dan selalu saling membersihkan bulu...
Baik, nama keluarga yang bagus, nama yang baik. Shi Xian, Mewujudkan! Bagus, bagus, nama ini membawa peruntungan besar.”
Setelah berkata demikian, ia membuka buku di atas meja. Menunduk, tanpa melihat kami, hanya menggelengkan kepala sambil mulai mengajar.
“Kemarin sudah aku jelaskan. Mengapa manusia harus belajar? Pertama, pepatah kuno berkata, dalam buku terkandung rumah emas, dalam buku terkandung wanita cantik. Segala sesuatu di dunia ini lebih rendah, hanya ilmu yang tertinggi. Di istana pun, semua yang mulia adalah orang yang berilmu...
Kedua, sebagai murid Maoshan, ingin belajar ilmu gaib harus pandai menulis mantra, dan untuk menulis mantra harus tahu huruf. Belajar fengshui harus paham yin dan yang, delapan trigram, Qian, Kan, Gen, Zhen, Xun, Li, Kun, Dui, semua itu dasar-dasarnya adalah mengenal huruf dan kata.
Mau itu mengobati, membuat pil keabadian, meramal, mencuri makam, menangkap setan, mengusir roh, semuanya membutuhkan tulisan...”
Apa yang dikatakan Guru Sun, meski semuanya dapat kupahami, tetap saja aku tak mengerti sepenuhnya.
Yang kutahu, Zhang Hongsheng sekali lagi ‘menyelamatkanku’ di depan semua orang.
“Cahaya emas muncul dari kolam timah, butir raksa mengalir ke ibu kota.” Aku tak pernah tahu, kata ‘xian’ yang selama ini kupikir berarti malu, ternyata bisa punya makna seindah itu.
Aku menatap Zhang Hongsheng penuh rasa terima kasih. Saat ia mengangkat kepala, matanya tepat bertemu dengan tatapanku. Ia buru-buru memberi isyarat agar aku memperhatikan pelajaran dan tak melamun.
Guru Sun masih terus berbicara panjang lebar, baru setelah lama kemudian masuk pada inti pelajaran.
“Baik, anak-anak, kemarin kita sampai pada bagian mana?”
Yan Qi Ya segera mengangkat tangan.
“Guru Sun, kemarin sampai pada Bab Kelima Kitab Syair, Zhou Nan, Belalang.
Sayap belalang, bergerak lembut.
Semoga anak cucumu tumbuh makmur.
Sayap belalang, mengepak pelan.
Semoga anak cucumu berkembang.
Sayap belalang, menunduk santun.
Semoga anak cucumu hidup damai.”
Guru Sun mengangguk, lalu tiba-tiba memanggil namaku.
“Murdi baru, Shi Xian, guru ingin bertanya, sudah pernah membaca Kitab Syair?”
Aku menggeleng.
“Belum.”
Guru Sun bertanya lagi.
“Kalau Empat Kitab, Lun Yu, Kitab Tiga Aksara, Tiga Ratus Puisi Tang, mana yang sudah kau baca?”
Aku kembali menggeleng.
“Tidak ada yang pernah kubaca.”
Guru Sun menghela napas panjang.
“Ah! Manusia tak boleh tak belajar. Tak belajar, akal tak terang, budi tak sempurna.
Shi Xian, katakan pada guru, adakah huruf yang kau kenal? Bisa menghafal tulisan atau sejarah apa?”
Aku hanya bisa menjawab jujur.
“Sejak kecil aku tak pernah sekolah, satu huruf pun aku tak kenal.”
Mendengar jawabanku, semua murid di kuil Sanqing itu terkejut bukan main. Mata mereka membelalak, mulut ternganga, sampai dagu pun hampir terjatuh. Mereka memandangku seolah aku makhluk aneh.
Baru kemudian Yan Qi Ya bercerita padaku, bahwa untuk bisa masuk ke Yinshan Bu, setiap murid telah diseleksi ketat dari seluruh penjuru negeri.
Bukan hanya menilai asal usul, bakat, latar belakang, juga tata krama, hingga dasar ilmu bela diri dan kebugaran tubuh.
Yan Qi Ya sendiri tidak berasal dari keluarga terpandang. Kakek moyangnya pernah menjadi algojo di akhir Dinasti Qing, membunuh banyak orang. Akibatnya, keluarga Yan mendapat kutukan, setiap generasi lahir anak laki-laki, namun semuanya tuli dan bisu.
Konon, orang yang tuli dan bisu adalah mereka yang di kehidupan sebelumnya terlalu cerdik dan peka. Maka di kehidupan ini menerima cobaan, telinga tak mampu mendengar suara angin dan hujan, lidah ada namun tak mampu bicara.
Yan Qi Ya adalah pewaris tunggal ketujuh di keluarganya, maka namanya mengandung kata ‘Qi’, tujuh.
Ayah, kakek, dan buyut Yan Qi Ya semuanya penyandang disabilitas, tuli dan bisu, turun temurun tak mampu bekerja, hanya bergantung hidup dari mengangkut limbah malam.
Ketika Yan Qi Ya lahir, ibunya dan neneknya, berjalan tiga langkah lalu berlutut, sembilan langkah lalu bersujud, mendaki ke Tebing Selatan, berdoa di sepuluh kuil, satu per satu memberikan persembahan, hingga akhirnya melahirkan anak yang sehat sempurna.