Bab Lima Puluh Empat: Melawan Takdir dan Mengubah Nasib
Batang dupa ketiga ditempatkan di sisi kanan tungku dupa, sebagai undangan untuk Dewa Agung Lao Jun. Hal ini juga pernah disampaikan oleh Ma Xiaoshan padaku.
Jika menggunakan empat batang dupa, yang terakhir diletakkan di depan batang dupa tengah. Jika menggunakan lima, batang yang kelima diletakkan di depan batang keempat. Jika memakai tujuh, maka tiga batang di belakang, dua di depan, lalu satu lagi di depan dua batang tadi, dan satu lagi di depan yang sebelumnya. Bila memakai sembilan, maka akan sejajar tiga-tiga-tiga.
Aku tak pernah menyangka, segala omongan tak masuk akal yang dulu sering diucapkan Ma Xiaoshan di telingaku—yang dulu kukira membosankan dan tak berarti—ternyata demikian lekat terpatri dalam benakku. Setiap kata, setiap kalimat, ternyata adalah petuah berharga.
Aku memperhatikan secara saksama gerakan tangan Paman Guru Enam saat menyalakan dupa. Sebab dulu, sewaktu di rumah duka, aku kerap melihat guruku menyalakan dupa dengan cara yang selalu sama setiap hari, sangat memperhatikan setiap detail.
Kudapati Paman Guru Enam menyalakan dupa dengan tangan kiri. Setelah menyalakan dupa, ia merangkapkan kedua tangan membentuk kepalan, tangan kanannya menggenggam ibu jari kiri. Tangan kiri di luar, tangan kanan di dalam.
Pernah kudengar, kiri melambangkan yang terang, kanan yang gelap. Barangkali dengan cara itu Paman Guru Enam hendak menunjukkan terang di luar, gelap di dalam.
Selanjutnya, tiba giliran melukis jimat.
Paman Guru Enam mengajari kami dasar-dasar membuat jimat sembari menggambar.
“Dalam menggambar jimat, harus dilakukan dalam satu tarikan napas, dimulai dengan membersihkan tangan, membakar dupa, pikiran fokus, mulut dan hidung tertutup, bagian bawah tubuh pun demikian. Satu tarikan napas tanpa boleh berbicara atau tertawa.”
Kulihat Paman Guru Enam memutar kuas di atas dupa sebanyak tiga kali. Menghadap ke timur, ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menulis.
Ia menahan napas itu hingga selesai menggambar jimatnya.
Setelah jimat selesai, Paman Guru Enam memegangnya, lalu memutarnya di atas dupa tiga kali searah jarum jam, tiga kali berlawanan arah jarum jam, dan digerakkan turun naik tiga kali, total sembilan kali.
Kemudian terdengarlah ia berbisik pelan, melafalkan mantra:
“Bersinar terang, mentari tenggelam di barat, aku membawa jimat ini, menyapu segala malapetaka. Dewa Langit dan Dewa Bumi, manusia dijauhkan dari mara bahaya, segala bencana berubah menjadi debu.”
Aku pun diam-diam ikut menghafal dalam hati: bersinar terang, mentari tenggelam di barat, aku membawa jimat ini...
Ah, sayang, otakku memang tak terlalu tajam, belum lagi aku tak kenal satu pun huruf, dan kalimat-kalimat berima empat suku kata ini terasa seperti kitab langit saja—tak bisa kuingat, tak bisa kupahami, tak mampu kuhafal!
Setelah menggambar jimat, Paman Guru Enam juga mengajarkan mantra pengantaran dewa.
“Langit penuh berkah, bumi penuh berkah,
Air penuh berkah, api penuh berkah,
Langit, bumi, air, dan api semua penuh berkah,
Aku mengantar para dewa kembali ke tempat asal.
Semoga hari ini segala jimat yang kulukis benar-benar manjur,
Atas nama Dewa Agung Lao Jun, segera seperti perintah!”
Pelajaran dasar melukis jimat hari itu, dimulai dengan semangatku yang menggebu mengikuti pelajaran, berakhir dengan kepalaku dipenuhi mantra dan jimat hingga terasa pusing.
Setelah itu, Paman Guru Enam tak memperkenankan kami, para murid, meninggalkan ruangan. Konon, sebentar lagi Ketua Yinshanbu akan datang langsung untuk memberikan wejangan pada para murid baru.
Ketua Yinshanbu, bukankah itu Xu Hucheng? Toh kemarin aku sudah menyinggung perasaannya saat bertemu. Mendengar ia akan datang, aku hanya bisa menundukkan kepala serendah mungkin, berharap sama sekali tak menarik perhatiannya.
Sekitar setengah cawan teh kemudian, masuklah serombongan orang ke aula utama.
Yang memimpin tentu saja Xu Hucheng. Ia mengenakan jubah Tao berwarna kuning tua, dengan pola ikan yin-yang di dada, dan naga biru besar bersulam di bagian belakang. Ia tampak gagah dan berwibawa.
Di belakangnya berbaris delapan pendeta, tinggi pendek berbeda, semuanya bersemangat. Sekilas, aku langsung melihat Zhang Hongsheng juga ada di antara mereka.
Kedelapan orang ini adalah ketua dari delapan aula utama di bawah naungan Yinshanbu.
Sementara itu, dua wakil ketua dari tiap aula hanya bisa berjalan di belakang, tak berani menonjol. Seperti Du Yuming yang siang hari tadi mengajari kami bela diri—tampak gagah—kali ini harus puas berdiri paling belakang, bahkan kepalanya pun hampir tak kelihatan.
Xu Hucheng melangkah ke depan, hanya Paman Guru Enam yang diperkenankan berdiri di sisinya.
Yang satu tinggi, satu pendek; satu kurus, satu gemuk; yang satu penuh wibawa, yang satu ramah dan berpenampilan lembut. Siapa sangka, dua orang yang sangat berbeda ini ternyata sesama murid satu perguruan, bahkan termasuk di antara Tujuh Jawara Yinshan di masa lalu.
Dibandingkan Paman Guru Enam yang sopan santun, tenang, dan berilmu luas, Ketua Yinshanbu yang masyhur ini justru tampak sangat angkuh. Baik wajah, suara, maupun caranya berbicara, semua menunjukkan kecongkakan yang menggebu.
Xu Hucheng berdiri di depan, kedua tangannya bersedekap di belakang. Dengan suara lantang ia berseloroh pada kami:
“Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada kalian semua! Selamat telah menjadi murid Maoshan, salah satu dari Empat Gerbang Besar, dan kini resmi berada di bawah naungan Yinshanbu!
Harus kalian tahu, Yinshanbu kita adalah yang terdepan di antara empat gerbang! Gabungan para elit dari Mangshanbu, Tongshanbu, dan Lüshanbu saja tak sanggup menandingi satu aula murid-murid kita di Yinshanbu.”
Ucapan Xu Hucheng benar-benar tanpa tedeng aling-aling, singkat dan jelas, meninggikan diri sendiri sambil meremehkan yang lain. Dengan begitu ia menambah wibawanya, sambil menjatuhkan tiga sekte lain.
Xu Hucheng mendongak, lalu melanjutkan,
“Sejak didirikan, Yinshanbu telah berdiri lebih dari tiga ratus tahun. Dulu maupun sekarang, siapapun yang mendengar nama Yinshanbu pasti akan terpukau!
Kalian pasti pernah dengar istilah ‘Empat Gerbang Tiga Departemen’, bukan?
Ada Departemen Pil, Departemen Jimat, dan Departemen Makam. Ketiga departemen ini setiap tiga tahun sekali mengadakan ujian. Kini, sebagian besar talenta di tiga departemen berasal dari Yinshanbu.
Dengan kata lain, 70% anggota tiga departemen adalah lulusan Yinshanbu, mereka semua adalah kakak dan paman seperguruan kalian!
Ada yang bertanya, apa untungnya masuk tiga departemen?
Apakah untuk mendalami ilmu Tao? Apakah demi menjadi dewa atau makhluk abadi? Atau demi dihormati banyak orang?
Omong kosong! Semuanya hanya alasan yang dibuat-buat!”
Tak pernah terlintas dalam benakku Xu Hucheng akan berbicara sejujur ini. Begitu banyak orang di dunia ini yang rela melakukan apa saja demi dapat masuk Maoshan, menjadi murid Maoshan, hanya untuk menguasai satu keahlian. Mirip seperti para sarjana masa lalu yang ikut ujian negara, berapa banyak yang sungguh-sungguh ingin mengabdi untuk rakyat? Kebanyakan hanya mengincar dua hal: uang dan kekuasaan.
Xu Hucheng mengeraskan suara,
“Kenapa masuk Yinshanbu? Kenapa masuk tiga departemen?
Singkatnya, hanya untuk satu hal. Uang!
Jangan sok bilang pada saya kalian tidak butuh uang. Memang, di antara kalian ada yang dari keluarga berada, tak kekurangan apapun.
Tapi apa yang kalian cari? Nama, keuntungan, kemampuan, agar orang di sekitar kalian menghormati kalian!
Saya tak sedang membual! Murid-murid yang lulus dari Yinshanbu, setelah turun gunung, tak ada satupun yang hidup melarat.
Paling tidak, kalian bisa membantu orang-orang terpandang menentukan feng shui atau memindahkan makam! Asal kalian bilang kalian lulusan Yinshanbu, nama Yinshanbu itu sendiri sudah jadi kartu emas kalian. Orang biasa pasti kenal!
Tentu saja, mungkin ada di antara kalian yang berambisi besar. Hidup ini pun ada tingkatan: atas, tengah, bawah.
Apa itu golongan atas?
Pertama Buddha, kedua Dewa, ketiga Kaisar, keempat Pejabat, kelima Pengusaha Arak, keenam Juragan, ketujuh Pedagang, kedelapan Pengelana, kesembilan Petani.
Golongan menengah? Pertama Sarjana, kedua Tabib, ketiga Ahli Feng Shui, keempat Peramal, kelima Seniman, keenam Ahli Wajah, ketujuh Biksu, kedelapan Pendeta, kesembilan Pemusik dan Pecatur.
Golongan bawah kalian pasti tahu, pertama Pemain Sandiwara, kedua Penjual Dorong, ketiga Preman, keempat Penipu, kelima Tukang Cukur, keenam Tukang Pijat, ketujuh Pelacur, kedelapan Pencuri, kesembilan Penjual Abu.
Kalian pasti berpikir, kami para murid Maoshan, semuanya pendeta—paling-paling hanya urutan kedelapan di golongan menengah, apa bisa jadi orang besar?
Hari ini saya bicara blak-blakan pada kalian, tak ada yang saya tutupi!
Di Maoshan, Empat Gerbang Tiga Departemen, selama kalian bisa menembus ujian tiga departemen, kalian sudah setara dengan pejabat.
Mengapa? Sekarang belum bisa saya jelaskan rinci. Tapi saya ingin kalian tahu, selama masuk Yinshanbu, peluang kalian mengubah nasib sangat besar. Tak peduli apa pekerjaan kalian atau leluhur kalian sebelumnya.
Mau jagal anjing, tukang potong kambing, penggembala kuda, atau pemain sandiwara, selama kalian berbakat di Yinshanbu dan lulus ujian tiga departemen, hidup kalian sudah termasuk golongan atas—paling rendah tingkat empat, yakni pejabat.”
Ucapan Xu Hucheng benar-benar gamblang. Sudah lama kudengar Empat Gerbang Tiga Departemen di bawah Maoshan, dan tiga departemen itu memang terkenal sangat misterius.