Bab 154: Pelukan Terakhir Sebelum Keberangkatan
Wilson menarik sebuah kursi dan duduk di tepi ranjang Luan Jiye. Hu Hanying dan Zhang Chunming pun keluar terlebih dahulu. Wilson berkata, "Halo, Luan!"
"Halo!" ucap Luan Jiye. "Besok adalah pertandingan pertamamu di Los Angeles Lakers, bersemangatlah!"
"Terima kasih! Aku sudah sering mendengar tentangmu sejak masa NCAA-mu. Saat itu aku masih di San Antonio Spurs, tetapi kemampuan menyeluruhmu benar-benar di luar jangkauanku. Sungguh, aku sangat mengagumimu!" kata Wilson.
Pada saat ini, Brook dan yang lainnya juga datang untuk menjenguk Luan Jiye. Begitu melihat Hu Hanying dan Zhang Chunming duduk di kursi di dekat pintu bangsal, mereka pun berniat menyapa, "Bibi, Hu! Apa kabar? Kenapa di luar?"
"Kalian datang! Luan Jiye dan Wilson sedang membahas sesuatu di dalam, jadi kami keluar dulu," jawab Hu Hanying.
Wilson? Keempat orang itu berseru dalam hati. Ingram bahkan merasa sangat tidak masuk akal. Luan Jiye dan Wilson sama sekali belum pernah bertemu, apalagi berteman, mengapa Wilson datang menjenguk Luan Jiye?
Ingram mengetuk pintu, dan setelah mendengar Luan Jiye mempersilakan masuk, mereka keempatnya pun melangkah ke dalam. Begitu melihat Brook dan kawan-kawan datang, Luan Jiye tersenyum dan berkata, "Kalian juga datang?"
Begitu masuk, Ingram benar-benar melihat Wilson, tetapi ia tetap tidak habis pikir. Dua orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan bisa-bisanya datang menjenguk ke rumah sakit, sungguh di luar nalar!
"Luan, bagaimana cedera kakimu?" tanya Nance.
"Begitu lah, butuh waktu beberapa bulan untuk pemulihan. Waktu itu tiba, mungkin separuh musim sudah terlewati. Kalau dipikir-pikir, sungguh membuat pusing, kenapa aku harus cedera!" keluh Luan Jiye.
"Kita tidak akan pernah bisa menebak apakah esok hari atau kecelakaan yang datang lebih dulu," ucap Ball.
Saat itu, Wilson berkata, "Kalau begitu, Luan, aku duluan ya!" Selesai berkata demikian, ia bangkit untuk pamit. Ingram melihat punggung Wilson berjalan keluar dari bangsal, barulah ia berkata, "Dia benar-benar datang menjengukmu?"
"Iya, aku juga sangat terkejut, tidak menyangka dia akan datang menjengukku. Apakah kalian sudah pergi menjenguk Jeremy Lin?" tanya Luan Jiye.
"Kami baru mau pergi! Bukankah mampir ke sini dulu?" ujar Brook.
Kelima orang itu mengobrol sebentar, lalu Brook dan yang lainnya bangkit untuk pamit. Setelah mereka pergi, Hu Hanying dan Zhang Chunming masuk. Melihat ekspresi wajah Hu Hanying yang tampak sedikit tidak wajar, Luan Jiye bertanya ada apa dengannya.
"Aku harus pergi besok, tentu saja karena aku merasa berat meninggalkanmu," ucap Hu Hanying.
Luan Jiye terdiam. Ia bahkan lupa bahwa besok adalah hari di mana Hu Hanying harus pulang ke negeri asal. Luan Jiye berkata, "Kalau begitu, mari kita manfaatkan waktu hari ini sebaik-baiknya! Bagaimana kalau kau jalan-jalan berkeliling bersama ibuku untuk menyegarkan pikiran?"
"Xiao Ye! Xiao Ying kan sudah bilang, dia berat meninggalkanmu," tegur Zhang Chunming. Tampaknya Zhang Chunming sangat merestui hubungan keduanya. Zhang Chunming kemudian berkata lagi, "Ibu pulang dulu ya!" Setelah berkata demikian, ia mengambil tasnya dan melangkah keluar bangsal.
"Xiao Ying, sejujurnya, aku juga berat meninggalkanmu," tutur Luan Jiye.
Hu Hanying hanya menunduk dan berbisik, "Ya." Suasana hatinya tampak masih kurang baik. Luan Jiye menghibur, "Jangan bersikap seolah kita sedang mengalami perpisahan hidup dan mati. Bagaimana jika setelah kau lulus kuliah, aku menjemputmu ke Amerika Serikat? Lagipula, aku belum sempat bertemu Paman dan Bibi!"
"Baiklah, tapi kan masih tiga tahun lagi. Entah kapan aku bisa datang ke Amerika lagi," ujar Hu Hanying.
Melihat Hu Hanying yang tampak murung, Luan Jiye merasa sangat iba. Ia merengkuh kepala Hu Hanying dan menyandarkannya di dadanya seraya berkata, "Tenang saja, aku tidak akan mengingkari janji. Bukankah kau percaya padaku?"
Hu Hanying memeluk Luan Jiye balik dan berkata, "Siapa bilang aku tidak percaya padamu? Aku hanya merasa tiga tahun itu waktu yang terlalu lama!"
"Nanti kalau sudah lulus, kau akan merasa tiga tahun itu berlalu sangat cepat!" kata Luan Jiye.
Keduanya mengobrol hingga larut malam. Menjelang tengah malam, Hu Hanying baru berniat untuk pulang. Hari sudah terlalu malam, dan preman di Amerika Serikat bukannya tidak ada. Luan Jiye merasa sangat khawatir padanya, tetapi kakinya sendiri tidak bisa digerakkan, sehingga ia terpaksa meminta tolong kepada Brook yang berada di dekat sana untuk mengantar Hu Hanying pulang. Brook dengan sigap langsung menyetujuinya.
Hu Hanying berkata, "Kau menyuruh seorang bintang bola basket mengantarku pulang? Tidak takut terkena skandal?"
Luan Jiye berpikir sejenak, benar juga. Ia kemudian menelepon Brook lagi. Sebenarnya Brook sudah memikirkan hal itu, jadi ia menyuruh manajernya saja yang repot sedikit, dan nanti dibalas dengan traktir bir saja.
Hu Hanying diantar kembali ke hotel dengan selamat, membuat Luan Jiye akhirnya bisa bernapas lega. Ia pun berbaring bersiap untuk tidur. Ia berharap hari ini tidak akan pernah berlalu, dengan begitu ia tidak perlu berpisah lagi dengan Hu Hanying.
...
Namun, hari esok tetaplah datang. Sekitar pukul enam pagi, mengabaikan segala nasihat, Luan Jiye bersikeras meminta ibunya mendorong kursi roda ke bandara untuk mengantar Hu Hanying. Baik perawat maupun Zhang Chunming tidak mampu membujuknya, sehingga mereka hanya bisa berpesan kepada Zhang Chunming agar tidak membiarkan Luan Jiye bergerak sembarangan.
"Sungguh, kalau semua bintang basket keras kepala sepertimu, tamatlah riwayat!" tukas Zhang Chunming.
"Xiao Ying akan pergi hari ini, apa salahnya aku mengantarnya ke bandara untuk perpisahan terakhir?" Luan Jiye membela diri.
"Sudahlah, dengarkan saja nasihat Bibi!" ucap Hu Hanying.
Setibanya di pintu masuk bandara, Hu Hanying berkata, "Sudah, sampai di sini saja! Kalian cepatlah kembali!"
Luan Jiye berdiri dengan bertumpu pada kruknya dan berkata, "Tidak berpelukan dulu denganku sebelum pergi?"
Kali ini Hu Hanying tidak merasa malu. Ia hanya tersenyum kecil, lalu berbalik dan memeluk Luan Jiye. Kedua tangan Luan Jiye menopang kruk, sehingga ia tidak bisa membalas memeluk Hu Hanying.
Hu Hanying memeluk Luan Jiye, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Luan Jiye dan berbisik, "Jaga dirimu baik-baik, jangan memaksakan diri lagi, ya?"
"Ya, aku akan menjaganya!" jawab Luan Jiye.
Hu Hanying melepaskan pelukannya dan berkata, "Bibi, kalau begitu aku kembali dulu! Sampai jumpa!"
"Xiao Ying, semoga perjalananmu lancar!" ucap Zhang Chunming.
Hu Hanying menatap Luan Jiye sekali lagi, lalu tersenyum manis dan berkata, "Aku pergi!"
"Ya! Sampai jumpa!" kata Luan Jiye.
Barulah Hu Hanying berbalik dan melangkah masuk ke dalam bandara. Luan Jiye terus memandanginya hingga punggung Hu Hanying menghilang dari pandangan.