Bab Sepuluh: Sama Sekali Tidak Mendapat Petunjuk
Halaman (1/3)
Setelah membaca berkas perkara, hati Li Wenxi terasa agak berat.
Dengan kemampuan penyelidikan pada zaman ini, jangan berharap perkara tiga tahun lalu mudah diusut; bahkan kasus yang baru terjadi tiga bulan sebelumnya pun sudah sulit dilacak.
Kemampuan Paman Zhong dalam melakukan autopsi... ck, ck, ia sungguh tak berani memujinya. Dirinya yang hanya setengah-setengah saja sudah entah berapa kali lebih baik daripada lelaki itu.
Dari mana ia harus mulai menyelidiki perkara ini?
“Juru Tulis Li, ada seseorang mencarimu di depan,” teriak Wang Tiezhu, memutus lamunannya.
“Segera datang! Terima kasih, Paman Wang.”
Li Wenxi biasanya jarang keluar rumah dan hanya mengenal sedikit orang. Siapa pun yang datang mencarinya ke kantor pemerintahan, tak perlu dipikirkan lagi, pasti hanya Su Hui.
Benar saja, Su Hui sedang menunggu di luar dengan tubuh membungkuk. Begitu melihatnya keluar, ia segera maju menyambut dengan senyum.
“Tuan muda, halaman kecil itu sudah selesai dirapikan. Hamba datang khusus untuk memberi tahu bahwa kapan pun Anda siap, kita bisa segera pindah. Apakah Anda ingin ikut hamba melihatnya sekali lagi? Kalau ada yang kurang berkenan, masih bisa dibereskan kembali.”
Rumah baru itu tidak jauh. Lin Yongsi sedang tidak berada di tempat, sementara dirinya juga sedang senggang, maka setelah berpamitan kepada Jiang Shaowen, ia menyelinap pergi untuk melihat rumah itu saat jam makan siang.
Su Hui adalah orang yang sangat teliti. Rumah itu dapat dikatakan telah berubah total.
Rumput liar di halaman kecil sudah dicabuti hingga bersih. Tanahnya bahkan telah dicangkul ulang. Jika segera ditanami bayam dan sawi putih, mereka masih bisa menikmati sayuran hijau yang segar pada musim dingin.
Tali rami tua di sisi sumur juga telah diganti dengan yang baru. Embernya dicuci bersih hingga menampakkan kesegaran kayu asli. Bahkan kertas penutup jendela pun telah dipasangkan kembali oleh Su Hui.
Perabot di dalam rumah tidak banyak: dua lemari pakaian tua, satu meja bundar beserta empat kursi, serta dua ranjang yang tidak terlalu baru dan tidak terlalu usang. Namun semuanya telah dilap hingga tak bernoda.
Tungku di dapur dibangun dengan cukup baik. Di beberapa bagian yang tanah pelapisnya terkelupas, tampak bata hijau. Di sampingnya terdapat meja kerja sederhana, sementara di bawah meja tersimpan seikat kayu bakar kering. Asal ditambah panci dan mangkuk, dapur itu sudah dapat langsung digunakan.
Kayu bakar itu jelas juga dibelikan oleh Su Hui.
“Sudah merepotkanmu.”
Li Wenxi melihat semua itu dan menerima niat baik Su Hui. Ia mengeluarkan lima puluh keping uang tembaga lalu menyerahkannya.
“Untuk kertas jendela, kayu bakar, dan tali rami. Terima kasih.”
Harga ketiga barang itu sedikit di bawah lima puluh keping, jadi kelebihannya ia anggap sebagai upah.
Su Hui bersikap sungkan sejenak, lalu menerima uang itu dan tersenyum sebelum pamit.
Begitu Paman kembali, ia akan menanyakan hari baik, lalu mereka pun pindah rumah!
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Karena tidak makan siang di kantor pemerintahan kabupaten, Li Wenxi membeli dua bakpao sayur seadanya di Jalan Besar Huai’an untuk mengganjal perut. Kulitnya terbuat dari tepung kasar, sedangkan isinya sawi putih yang minim minyak dan garam. Rasanya memang tidak bisa dibilang enak, tetapi harganya murah—tiga keping uang tembaga untuk dua buah. Jauh lebih baik daripada mengunyah mantou kering.
“Makan sehemat itu? Bukankah belum lama ini Tuan Lin baru memberimu hadiah uang?”
Melihat Li Wenxi berjalan sambil makan, Jiang Shaowen menjulurkan leher untuk melirik, lalu segera memalingkan wajah dengan sedikit jijik.
Ia sama sekali tidak sudi menyantap makanan semurah dan seburuk itu.
Mendengar perkataannya, Li Wenxi berhenti sejenak.
“Paman Jiang ternyata mendapat kabar dengan sangat cepat.”
Ketika Lin Yongsi memberinya hadiah uang waktu itu, tidak ada siapa pun di sisinya. Baik dirinya maupun Tuan Lin bukanlah orang yang suka bergunjing, jadi mereka tentu tidak akan mengumumkannya ke mana-mana. Bagaimana Jiang Shaowen bisa tahu?
“Di dunia ini tidak ada tembok yang tidak memiliki celah.”
Jiang Shaowen mengerucutkan bibir.
“Tuan Dong datang siang tadi dan menyuruhmu menemuinya.”
“Aku bilang kau sakit perut dan pergi ke kakus. Bagaimanapun, seluruh kantor kabupaten tahu bahwa pencernaanmu lemah. Nanti jangan sampai keceplosan di depan beliau.”
Li Wenxi mengangkat alis. Di kantor pemerintahan Kabupaten Shanyang terdapat dua kakus. Satu disediakan untuk para pejabat, terletak di sudut barat laut halaman kedua. Satu lagi digunakan oleh seluruh juru tulis dan petugas, terletak di halaman belakang.
Untungnya, kakus itu cukup besar dan tata letaknya agak mirip toilet umum zaman modern, dengan bilik-bilik serta tempat buang air kecil. Setiap kali pergi ke sana, Li Wenxi selalu masuk ke bilik dengan pandangan lurus ke depan. Lama-kelamaan, semua orang mengira pencernaannya buruk dan ia sering diare. Terhadap kesalahpahaman itu, ia justru senang hati membiarkannya.
“Tuan Dong, bawahan datang menghadap.”
“Masuklah.”
Dong You meletakkan kuas, lalu meniup perlahan tulisan besar yang baru saja dibuatnya.
“Wenxi, kemarilah dan lihat bagaimana tulisan ini menurutmu.”
Ah, Tuan, pertanyaan ini terlalu sulit baginya. Meskipun telah menjalani dua kehidupan, dalam hal kaligrafi ia tetap benar-benar orang luar. Tulisan kecil yang sekarang masih dapat dibaca itu pun merupakan hasil belajar keras pada kehidupan sebelumnya di Kediaman Raja Zhongshan.
Ia masih ingat, guru tua yang mengajarinya selama empat tahun pernah menggelengkan kepala dan berkata bahwa tulisannya hanya memiliki bentuk tanpa jiwa, seperti kayu lapuk yang tak mungkin dipahat. Ia memang tidak pandai menulis, apalagi memahami mana tulisan yang bagus dan mana yang buruk.
Kebetulan, Dong You menulis dengan gaya kursif. Setelah memandangi seluruh karyanya, Li Wenxi bahkan tidak mengenali satu huruf pun.
“Eh, tulisan Tuan ini... sungguh bebas dan anggun. Sekilas saja sudah terlihat bahwa penulisnya memiliki keluasan wawasan dan cita-cita besar.”
Pujian tentu selalu enak didengar. Ia cukup mengatakan hal-hal baik.
“Hehe, jangan menjilat orang tua ini.”
Dong You mengangkat cangkir teh dan menyesapnya. Wajahnya tampak lebih ceria daripada sebelumnya, jelas sangat menikmati pujian itu.
“Sudah tiga hari berlalu sejak perjalananmu ke Prefektur Huai’an. Entah apakah kau sudah menemukan petunjuk?”
“Bawahan tidak cakap dan masih belum menemukan apa pun.”
Li Wenxi segera memberi hormat dan memohon maaf.
“Ah, tiga tahun lalu aku juga pernah mengawasi langsung perkara ini. Sayangnya, waktu tidak berpihak kepadaku, dan hingga kini tak ada penemuan berarti.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Bolehkah saya tahu tersangka mana saja yang pernah Tuan periksa?”
Li Wenxi memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya. Kesaksian langsung dari orang-orang yang terlibat pada masa itu tentu jauh lebih terperinci daripada uraian kering dalam berkas perkara.
“Waktu itu, Prefek Ji mengawasi perkara ini dengan ketat. Aku memang menangkap cukup banyak orang yang berkaitan.”
“Setelah perkara terjadi, semua orang yang dekat dengan Luo Honghui, seperti beberapa anak buahnya, para perempuan penghibur di rumah bordil, termasuk adik perempuannya, sudah kuinterogasi.”
“Orang-orang yang terakhir kali melihatnya pada malam kejadian juga telah ditanyai oleh para petugas—semua orang di Rumah Musim Semi dan Rumah Judi Sukacita, tanpa terkecuali.”
“Terakhir, orang-orang yang pernah bermusuhan dengannya. Lingkupnya terlalu luas. Ia menjalankan usaha pinjaman berbunga mencekik, pernah memotong tangan dan kaki banyak orang, bahkan memaksa sejumlah keluarga hingga hancur. Jika dijumlahkan, ada sekitar seratus orang. Semuanya sudah diperiksa satu per satu, tetapi tidak ditemukan apa-apa.”
“Oh, benar juga. Penyelidikan perkara itu berlangsung hampir tiga bulan. Aku ingat, di antara orang-orang yang kami periksa, ada satu yang meninggal dan satu yang menghilang.”
“Yang menghilang adalah tangan kanan dan kiri Luo Honghui, Luo San. Sementara yang meninggal adalah seorang rakyat jelata yang berutang kepadanya, bernama Qi Sheng.”
“Qi Sheng ditemukan tewas di rumahnya. Tenggorokannya digorok hingga hampir putus oleh senjata tajam, dan darah yang menyembur bahkan memercik sampai ke balok atap.”
Karena kematiannya begitu mengenaskan, Dong You masih mengingat jelas pemandangan itu meskipun beberapa tahun telah berlalu.
“Jangan terlalu membebani dirimu. Perkara yang tak terpecahkan adalah hal biasa. Nanti akan kubicarakan dengan Yongsi dan memintanya memohonkan keringanan untukmu, agar pekerjaanmu tetap aman.”
Li Wenxi adalah orang yang direkomendasikan oleh Lin Yongsi. Dalam pandangan Dong You, gadis itu tentu membawa tanda sebagai orangnya Kepala Keamanan Kabupaten Lin.
“Terima kasih atas kata-kata baik Tuan.”
“Ada apa ini?”
Sebagaimana pepatah mengatakan, baru saja membicarakan seseorang, orangnya pun tiba. Lin Yongsi melangkahi ambang pintu dalam keadaan berdebu dan lelah setelah perjalanan.
Begitu kembali ke kantor kabupaten, ia hendak menemui atasannya untuk melaporkan bahwa masa cutinya telah berakhir, tetapi ia justru mendengar mereka sedang membicarakan dirinya.
“Adik Lin, akhirnya kau pulang juga.”
Seandainya orang ini pulang lebih cepat, mana mungkin Dong You harus pergi ke Prefektur Huai’an dan menanggung penghinaan? Seberani apa pun Ji Huai’en bertindak, ia tetap tak akan berani bertingkah di hadapan Lin Yongsi.
Yang satu adalah putra sulung dari selir Raja Zhongshan, sementara yang satu lagi adalah putra sah dari pejabat kepercayaan Raja Zhongshan. Jika membandingkan kedudukan, Ji Huai’en memang lebih tinggi. Namun jika membandingkan tingkat kepercayaan dan pemanfaatan, Ji Huai’en bahkan tak mampu mengejar Lin Yongsi meski berlari sekuat tenaga.
Halaman (3/3)