Bab Tujuh Puluh Lima: Inti Iblis Menghilang
(Klik, klik, mohon para anggota untuk klik, agar aku tetap berada di daftar klik. Sekarang aku memperbarui satu bab, saat ini aku sedang berada di luar kota, sebentar lagi akan naik kendaraan untuk pulang ke rumah. Bab berikutnya akan diperbarui sore ini. Mohon bantuan dari saudara-saudari semua untuk membantuku, tolong lebih banyak klik dan lemparkan juga beberapa suara. Benar-benar, terima kasih banyak semuanya!)
“Menjelajah Menuju Kedalaman Gaib”, saat itu, Xiao Chen duduk diam di teras taman langit penginapan Castro, dengan sebuah buku yang baru saja ia dapatkan di tangannya. Buku itu adalah salah satu teknik meditasi, jauh lebih tinggi tingkatannya dibanding “Teknik Konsentrasi Diri” yang dulu ia latih.
“Teknik Konsentrasi Diri” hanyalah teknik paling dasar. Jika hanya mengandalkan teknik itu untuk bermeditasi, jangan harap kekuatan mental bisa mencapai tingkat Guru, bahkan untuk menembus tingkat Prajurit Menengah saja hampir mustahil.
Namun, “Menjelajah Menuju Kedalaman Gaib” ini lain. Ini adalah teknik tingkat tinggi yang disediakan akademi bagi para siswa jenius, dapat dilatih siapa pun di bawah tingkat Guru. Melalui teknik ini, tidak mustahil untuk memperkuat kekuatan mental hingga mencapai tingkat Guru.
Akan tetapi, buku ini dilindungi oleh larangan sihir. Hanya bisa dibaca dengan kekuatan mental, dan hanya satu kali saja. Setelah itu, tulisan magis di buku akan lenyap. Cara ini ampuh untuk mencegah teknik tingkat tinggi tersebar ke tangan yang tidak semestinya.
Xiao Chen mengerahkan kekuatan mentalnya, dan seketika, arus informasi membanjiri benaknya.
Inti latihan dari “Menjelajah Menuju Kedalaman Gaib” mengalir ke pikirannya, sedangkan buku di tangannya kini berubah menjadi lembaran kertas kosong.
“Menarik juga,” gumam Xiao Chen memandang kertas putih itu, sembari merasakan tambahan kesadaran baru di pikirannya.
Metode pewarisan teknik seperti ini lebih maju dibandingkan cara dunia kultivasi. Biasanya, transmisi teknik di dunia kultivasi dilakukan melalui ‘pengisian langsung’, tidak seperti sihir yang mampu mewariskan teknik hanya lewat buku.
“Tuanku, teknik serendah ini tak perlu dipelajari. Aku punya teknik meditasi yang jauh lebih tinggi, cukup untuk membawamu hingga tingkat Guru,” ujar Denoks.
Xiao Chen menggeleng, “Tak perlu. Barusan aku hanya ingin merasakan sensasi transmisi kesadaran ini. Untuk mengasah kekuatan mental, aku punya caraku sendiri.”
Bagi Xiao Chen, kekuatan mental adalah inti jiwa. Ketika mencapai puncak, ia bisa mengubahnya menjadi roh utama.
Semua teknik meditasi itu baginya terlalu lembut. Ia memiliki teknik rahasia warisan “Sekta Bintang Ilusi” yang bernama “Teknik Jiwa Bintang Langit”.
Setelah berhasil membuka sirkulasi internalnya lewat latihan keras sebelumnya dan membentuk sirkulasi kecil, ia kini bisa mengasah teknik rahasia ini.
Xiao Chen duduk bersila di tengah formasi, telapak tangan menempel di ubun-ubun.
“Alirkan kekuatan langit, jiwa bintang...”
Duar!
Di tengah kehampaan gelap, mendadak terbuka celah, cahaya putih mengalir bak air.
Kesadaran terhubung dengan kehampaan semesta.
Xiao Chen membuka “mata”. Saat ini, ia telah menjadi sosok cahaya putih, melangkah di hamparan galaksi, dengan sebuah planet raksasa di bawah kakinya.
Manusia, berdiri di hadapan sebuah planet, betapa kecil dan tak berarti.
Perbandingan itu sungguh mengguncang, cukup untuk membuat seseorang kehilangan akal dan meragukan keberadaannya sendiri.
Xiao Chen berdiri diam di atas planet tandus itu.
Kesadaran menahan kesunyian tanpa batas.
Kejayaan dan kemegahan, keheningan kuno, keluasan, dan keterbatasan. Semua perbandingan itu silih berganti menabrak benak dan jiwanya.
Kadang ia seolah menjadi sebesar planet, kadang sekecil debu di lautan.
Entah berapa lama waktu berlalu...
Ubun-ubunnya bergetar.
Kesadaran Xiao Chen keluar dari ilusi purba dan kembali ke dunia nyata. Kejutan itu nyaris membuatnya kehilangan kendali.
Denoks yang berjaga di sampingnya tertegun. Ia melihat tatapan kosong Xiao Chen, seperti kehilangan jiwa.
“Tuanku...” Ia tak tahu apa yang terjadi, tak berani mendekat.
Xiao Chen duduk terpaku, entah berapa lama.
Mendadak sorot matanya kembali hidup.
Darah segar menetes dari mulutnya, namun matanya menjadi jernih.
Huff~
Denoks menghela napas lega. Meski tak tahu apa yang terjadi, jelas tuannya telah sadar.
“Berapa lama aku bermeditasi?” tanya Xiao Chen pelan setelah sekian lama.
“Tiga hari...”
Xiao Chen mengangguk, lalu menutup mata untuk beristirahat.
Baru saja ia terlalu memaksa saat mengamati kehampaan, mengasah jiwa, hampir saja tenggelam dalam ilusi itu. Di detik terakhir, ia mengandalkan tekadnya, menebas segala khayal, dan kembali ke kenyataan.
Semua teknik latihan dari “Sekta Bintang Ilusi” selalu terkait dengan jagat raya, sangat mendominasi. Meski dapat mempercepat kemajuan, bahayanya pun tak kalah mengerikan dari menyeberangi lautan api dan tebing tajam. Sedikit saja lengah, tamatlah segalanya.
Latihan “Teknik Jiwa Bintang Langit” pun demikian, bahkan lebih berbahaya.
Jiwa adalah inti manusia. Jika jiwa hancur, maka segalanya pun sirna.
Namun, risiko besar sepadan dengan hasil yang diperoleh. Kali ini, kekuatan mental Xiao Chen minimal bertambah satu persen lagi.
...
Xiao Chen mengenakan jubah baru dan keluar dari penginapan.
Setelah tiga hari berlatih di sana, hari ini ia harus pergi ke akademi luar untuk mengambil hadiahnya.
Sebuah inti sihir, sangat berharga.
Kereta kuda berhenti di depan akademi luar, Xiao Chen menuju bagian logistik.
Tiga hari lalu, Anthony sudah memberitahunya bahwa hadiah siswa baru dapat diambil di bagian logistik, tinggal datang dan mengambilnya.
Xiao Chen memasuki gedung logistik, sebuah bangunan berbentuk oval, ciri khas arsitektur di seluruh Kekaisaran Bintang Langit.
Ia langsung menuju sebuah loket kecil.
Di dalam, seorang wanita berseragam biru duduk dengan wajah kaku.
Melihat Xiao Chen datang, ia bertanya dingin, “Ada perlu apa, Saudara?”
Xiao Chen mengeluarkan kartu identitasnya dan menyerahkannya, “Saya ingin mengambil hadiah pertandingan siswa baru. Ini kartu identitas saya.”
Wanita itu mengambil kartu identitas, membandingkan dengan data, lalu terkejut. Wajahnya berubah ramah, ia tersenyum dan berkata dengan suara lebih halus, “Kamu juara satu di pertandingan itu.”
Setiap tahun, juara pertama selalu siswa jenius. Kepada mereka, wanita itu tentu tak berani berlaku kasar.
Tak lama, ia mengeluarkan sebuah kotak giok berukir indah dan sebuah kantong kecil.
Xiao Chen membuka kotak itu, di dalamnya terdapat sebutir buah Angin Hijau, sedangkan kantong kecil itu penuh dengan kristal.
“Inti sihirnya mana?” Xiao Chen mengerutkan kening. Ia tidak melihat hadiah terpenting itu.
“Inti sihir? Tidak ada, hadiahnya hanya ini,” jawab wanita itu.
“Apa maksudmu tidak ada inti sihir?” Wajah Xiao Chen menjadi suram, menatap wanita itu dingin, “Apa kamu tidak lihat hasil pertandinganku?”
Di bawah tatapan Xiao Chen, wajah wanita itu mendadak pucat pasi.
Rasanya seperti diterkam binatang buas.
Menghadapi kekuatan mental Xiao Chen yang setara Guru, wanita itu jelas tak mampu menahan.
“Be... benar-benar tidak ada, kalau tidak percaya...” Wanita itu gemetar, air mata mulai menggenang di matanya.
“Tampaknya bukan bohong!”
Kekuatan mental Xiao Chen menyelimuti wanita itu, ia bisa merasakan aliran darah dan detak jantungnya, tampak wanita itu memang tidak tahu apa-apa.
“Jangan-jangan akademi menilap hadiahnya? Sebutir inti sihir memang sangat berharga, tapi apa akademi sebesar ini tega melakukan itu?” Sebulas senyum sinis muncul di wajah Xiao Chen.