35 Irama yang Sulit Diselaraskan
Dari luar terdengar ketukan pelan beberapa kali. Biluo tertawa dan berkata, “Tuan Guo, jangan mendesak lagi, bagaimanapun juga aku tidak akan pergi sekarang.” Namun suara ketukan tak juga berhenti. Biluo membuka pintu sambil berseru, “Mana ada bos seperti kau ini...” Belum selesai ucapannya, ia melihat seseorang berdiri di luar, memandangnya dengan senyum penuh kehangatan.
“Qiu Yi.” Biluo tersenyum dan menariknya masuk ke dalam kamar. “Apa kau sudah melupakanku?”
Qiu Yi tersenyum lembut. “Mana mungkin aku melupakanmu?”
“Kalau begitu, kenapa kau lama sekali tidak menjengukku?” Biluo pura-pura merajuk.
Qiu Yi memalingkan wajah, menatap Biluo dengan tenang cukup lama, lalu berkata pelan, “Jika aku tidak datang menjengukmu, apakah kau merindukanku?”
Biluo menundukkan kepala, diam sangat lama, akhirnya mengangguk. Dia menengadah sambil tersenyum, berbisik, “Aku ingin makan pangsit di toko sebelah selatan kota, tapi tak ada yang menemaniku. Kalau lelah berjalan, tak ada yang menggendongku.”
Qiu Yi merasa hatinya tersentuh, seperti ada sesuatu yang mulai ia pahami, hanya menatapnya penuh perhatian. Biluo diam-diam menghela napas, tiba-tiba sedikit menyesal, lalu menariknya bangkit, “Ayo, temani aku menengok Kakak Wei dan Liangcai.”
Qiu Yi mengangguk. Biluo berbalik hendak melangkah, tiba-tiba sebuah tangan menggenggam erat tangannya. Tangan itu kokoh dan hangat. Biluo tertegun sesaat, namun tak menoleh, hanya berkata sambil tersenyum, “Kau tak hafal jalan, atau takut aku akan menjualmu pada pedagang budak?”
Qiu Yi tersenyum tipis. “Kalau aku tidak segera memegangmu, takutnya kau akan menghilang dalam sekejap.”
Ia menggenggam tangan Biluo semakin erat, melangkah keluar kamar dengan langkah lebar. Mata Biluo mendadak berkaca-kaca, seolah-olah melihat bayangan seseorang berdiri di bawah pohon bunga persik, hatinya terasa pedih, namun ia hanya tersenyum tipis dan mengikuti Qiu Yi keluar.
Mereka berdua meninggalkan Kedai Harum dan menuju rumah Wei Zhixing. Jalanan tampak lengang, hanya sedikit orang yang lalu-lalang. Biluo digandeng Qiu Yi, namun tubuhnya seolah-olah secara naluriah menjaga jarak. Qiu Yi melangkah cepat, ia memperlambat langkah. Qiu Yi melambat, ia pun makin lamban. Langkah keduanya tak pernah seirama. Qiu Yi menghela napas, tiba-tiba berhenti. Biluo yang tak siap, spontan melepaskan genggaman tangannya.
Qiu Yi menarik napas panjang, berkata pelan, “Kalau kau…”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan di depan, “Berhenti! Tangkap pencuri itu…” Keduanya segera menoleh. Terlihat seorang pria berwajah penuh bekas luka berlari tergesa-gesa dari arah barat, usianya sekitar dua puluh tahun, sambil berlari ia menoleh ke belakang. Di belakangnya, seorang perempuan mengejar sambil berteriak keras, “Tangkap pencuri itu, dia mengambil barangku!” Beberapa orang dari toko di pinggir jalan ingin membantu menghadang, namun pria itu memukul dan mendorong mereka hingga tersungkur. Orang-orang yang melihat dia punya sedikit kemampuan beladiri, memilih menyingkir dan tak mau terlibat.
Qiu Yi berdiri di tengah jalan. Melihat pria itu hampir sampai di depannya, ia tidak menghindar, tiba-tiba mengangkat kaki dan menendang perut pria itu hingga terjatuh. Qiu Yi tanpa banyak bicara, maju dan menginjak dada pria itu, membentak, “Apa yang kau curi dari orang ini?”
Perempuan itu pun tiba, mengenakan baju kain bermotif bunga, usianya sekitar empat puluh tahun, wajahnya bulat seperti bulan purnama, tampak sederhana namun bersih. Setelah mengejar hingga di situ, ia hanya sedikit terengah, lalu ikut menginjak pria itu dengan kakinya.
Pria berwajah luka itu terjepit di bawah dua orang, berteriak-teriak. Perempuan itu merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan bungkusan kain bermotif bunga. Ia segera membukanya, memeriksanya dengan saksama, lalu menghela napas lega, “Untung saja, barangku tidak hilang.” Ia tersenyum kepada Qiu Yi, “Anak muda, barangku sudah kembali, biarkan dia pergi saja.”
Qiu Yi menarik kakinya, menggeleng, “Dia sudah mencuri barangmu, seharusnya dibawa ke kantor pengadilan. Aku akan mengantarnya ke sana.”
Mendengar akan dibawa ke kantor pengadilan, pria itu langsung memohon ampun dengan suara keras. Perempuan itu tertegun, lalu segera berbalik hendak pergi. Biluo maju dan menahannya, “Kalau kami membawa dia ke pengadilan, kau juga harus ikut, menjadi saksi.”
Perempuan itu terus berjalan tanpa menoleh, bergumam, “Kalau mau ke pengadilan, silakan bawa sendiri. Aku tidak mau pergi ke kantor penguasa.” Biluo dan Qiu Yi hendak menahan, tapi pria itu sudah bangkit dan lari menjauh. Qiu Yi mengerutkan kening dan berkata keras, “Aku akan menangkapnya dan membawanya ke kantor pengadilan. Kau pergi dulu ke rumah Kak Wei, nanti aku menyusul.” Sambil berkata, ia langsung mengejar ke arah itu.
Perempuan itu melihat dua orang itu berlari ke timur, lalu tertawa dan bertanya pada Biluo, “Temanmu itu kok tegas sekali, memang pekerjaannya apa?”
Biluo menarik tangannya dan berkata, “Dia perwira Pengawal Istana, bekerja langsung di bawah Kaisar, sedikit saja berbuat salah bisa jadi dosa besar. Wajar saja dia sangat hati-hati. Kau ikut aku ke pengadilan.” Sebenarnya Biluo sendiri juga tidak tahu pasti apa pekerjaan Qiu Yi di istana, tapi ia tak tahan untuk membanggakannya.
“Pengawal Istana,” perempuan itu mengulang dengan suara lirih, lalu tersenyum pada Biluo. “Adik, kalian sudah menolongku mengembalikan barang, biar ku traktir minum teh!”
“Kau benar-benar tidak mau ke pengadilan?” Biluo mengerutkan kening.
“Tidak, tidak. Hidup jangan masuk ke kantor pengadilan, mati jangan masuk neraka.” Perempuan itu mengibaskan tangan berkali-kali.
Biluo, yang dulu sering mendengar ayahnya bekerja di Zhaonan, juga sering mendengar orang mengatakan hal yang sama. Ia tahu kebanyakan orang enggan berurusan dengan kantor penguasa, lalu tertawa, “Kalau begitu, traktir aku minum teh di Kedai Harum saja!”
“Kedai Harum itu terlalu mahal untukku.” Perempuan itu tertawa keras. “Kita cari saja kedai teh sederhana.”
Mereka berdua lalu mencari sebuah kedai teh biasa di dekat jalan barat, duduk di dalam dan menikmati teh. Perempuan itu juga memesan beberapa kue kecil. Meski pakaiannya tampak sederhana, tapi dalam memilih makanan ia terlihat sangat teliti, terutama saat memilih teh, ia sangat paham dan hanya meminta pucuk daun teh terbaik, seolah berasal dari keluarga terpandang.
Biluo menanyakan nama lengkapnya. Perempuan itu berkata bahwa nama keluarganya adalah Meng, maka Biluo pun memanggilnya Bibi Meng. Ia lalu bercerita bahwa beberapa tahun lalu, putrinya menghilang dari rumah, sejak itu ia dan suaminya berkelana ke mana-mana, suaminya bekerja sebagai pedagang kuda untuk menghidupi mereka, sembari mencari putrinya. Hampir seluruh negeri sudah mereka jelajahi, namun belum juga mendapat kabar tentang sang putri. Baru saja sampai di Qujing, suaminya kini sedang berbisnis di pinggir selatan kota, sedangkan ia sendiri lebih dulu masuk kota untuk melihat-lihat. Percakapan mereka terasa akrab dan menyenangkan.
Bibi Meng bertanya, “Biluo, dari logat bicaramu, sepertinya kau orang Zhaonan?”
“Aku memang dari Zhaonan,” jawab Biluo sambil tersenyum, “Waktu itu juga ada seorang tua yang langsung tahu aku orang Zhaonan.”
Bibi Meng tertawa, “Gadis-gadis Zhaonan itu bicaranya lembut dan manis, nada akhirnya selalu panjang, bahkan saat bertengkar pun tetap terdengar manis.”
Biluo tertawa terbahak-bahak dan mengangguk. Ia sudah lama tinggal di Qujing, dari logat Bibi Meng yang agak campur-campur, ia tetap bisa menebak bahwa dasarnya adalah logat Qujing. Ia pun bertanya, “Bibi Meng, saya dengar logatmu logat Qujing, kenapa justru tidak tinggal di sini?”
“Aku memang lahir dan besar di Qujing. Setelah menikah ikut suamiku berkelana ke mana-mana,” jawab Bibi Meng.
“Pantas saja kau terlihat sangat akrab dengan kota Qujing,” sahut Biluo sambil mengangguk, lalu penasaran bertanya, “Apa kau hanya punya satu anak perempuan? Kenapa dia sampai pergi dari rumah?”