Bab 52: Berhadapan dengan Naga, Kemunculan Kitab Pengabaran kepada Arwah
“Ugh!” Limru yang kembali dengan santai ke sisi tuannya yang malas, sendawa puas. Louis menatap makhluk ajaib peliharannya itu dengan ekspresi tak percaya.
Makhluk itu tak memiliki organ pencernaan atau kerongkongan, jadi tak ada alasan baginya untuk perlu bersendawa. Sepertinya, ia hanya meniru setelah melihat orang lain bersendawa saat makan.
Namun, setelah pesta besar yang diberikan oleh naga muda safir, sepertinya Limru akan mengalami perubahan lagi. Setidaknya Louis bisa merasakan kekuatan baru mulai terbentuk dalam tubuhnya—kekuatan khas naga permata.
Tenggorokan Louis terasa gatal. Ini adalah efek dari “Penguasa Ketamakan” yang melalui kontrak sedang meniru perubahan pada Limru. Ia tak tahu pasti apa hasil akhirnya, baik bagi dirinya maupun Limru.
Sambil melamun, tangannya tetap sibuk memutar katapel. Seekor burung besar melayang, dan sebuah batu sebesar telur angsa meledakkan satu mayat hidup hasil konversi petualang. Begitu hendak mengulangi aksinya, ia menyadari bahwa semua mayat hidup di tempat itu sudah habis terbunuh.
Gila! Jumlah mayat hidup di situ minimal ada beberapa ribu. Jangan remehkan angka seribu lebih—bahkan di sebagian besar SMA, jumlah muridnya saja tak sampai seribu. Jika para siswa berkumpul di lapangan saat upacara bendera hari Senin, kepala-kepala mereka pasti tampak memenuhi seluruh lapangan.
Sebagian besar mayat hidup itu tampaknya adalah penduduk setempat dan beberapa petualang yang hilang kontak. Bahkan, di antara mereka, ada yang semasa hidupnya terkenal sebagai sosok teladan.
Namun, hanya dalam beberapa gelombang serangan dari Pengawal Kerajaan, mereka semua habis tak tersisa. Kepala pelayan, Lumi, bahkan sendirian mampu menekan Raja Mayat Hidup hingga tak berkutik. Jika saja tubuhnya tak punya kemampuan pulih yang luar biasa, barangkali ia sudah tewas di tangan Lumi.
Akhirnya, setelah sebagian besar mayat hidup disapu bersih oleh pasukan kerajaan, Raja Mayat Hidup pun mengalami kematian untuk kedua kalinya.
Louis mendongak dan melihat kerumunan orang di kejauhan bergegas ke arah mereka. Setelah diamati, ternyata itu rombongan petualang yang telah ia undang dengan bayaran tinggi.
Gelombang mayat hidup yang tiba-tiba meletus di Padang Tulang Naga telah menyeret kelompok petualang ini, memaksa mereka bertarung sambil mundur. Sementara itu, ketua kelompok petualang “Penelan Ikan Paus”, Hiu Raksasa, terus menerobos ke arah lokasi Raja Mayat Hidup. Dalam perjalanannya, makin banyak petualang bergabung, hingga jumlah mereka yang semula belasan bertambah menjadi puluhan, lalu ratusan.
Rombongan ini bergerak dengan penuh semangat. Bahkan, jika otak para mayat hidup sudah dikuasai virus, mereka pasti tidak akan membiarkan begitu banyak “makanan lezat” berjalan begitu saja di padang rumput.
Namun, semakin lama kecepatan mereka semakin berkurang. Saat Hiu Raksasa dan yang lainnya tiba di lokasi, yang mereka temukan hanyalah tumpukan mayat.
“Ya ampun, berapa banyak yang sudah mati di sini! Terlambat! Gelar besar itu lenyap begitu saja!” Hiu Raksasa meratapi nasibnya, sangat kecewa.
Awalnya, ia hanya berpikir dengan membawa lebih banyak orang akan meringankan bebannya, tapi ia tak menyangka situasi berubah begitu cepat. Ia merasa bahwa di akhir pertempuran tadi, kapak pemenggal andalannya sudah hampir aus.
Kepala pelayan memandang para petualang dengan tajam dan langsung berkata, “Di Pegunungan Asap Api masih ada pertempuran. Sekarang, saya merekrut sementara beberapa petualang untuk ikut bersama kami menumpas mayat hidup. Ada yang keberatan?”
Tak ada satu pun yang menjawab.
Louis tadinya mengira pasti ada yang menolak di antara para petualang itu. Namun, ia tak menyangka Lumi langsung menunggangi kuda besar yang dibawa para pengawal, menerima burung angsa kecil dari ksatria wanita, lalu memimpin pasukan menuju gunung.
Pengawal Kerajaan segera mengikuti, meninggalkan para petualang dalam kebingungan.
“Benarkah mereka bisa mengerahkan semua petualang ini?” Namun, bahkan sebelum debu akibat derap kaki kuda para pengawal kerajaan menghilang, Louis melihat para petualang mulai tampak bimbang.
“Kalau aku bisa membunuh lima puluh mayat hidup, apa ada kesempatan masuk pasukan kerajaan?”
“Formasi? Di mana ada formasi?”
“Kalau bisa masuk formasi pasukan kerajaan, siapa yang mau terus jadi petualang?!”
“Formasi atau tidak, yang penting, kalau kerajaan turun tangan, bayaran pasti melimpah!”
Hiu Raksasa terpaku di tempat. Ia bergumam, “Mungkin ini satu-satunya kesempatan dalam hidupku untuk melampaui nenek moyang. Sungguh, ini godaan terbesar!”
Mendengar itu, Louis menyadari bahwa tatapan para petualang mulai berubah, dari anjing liar yang suka berbuat onar menjadi serigala penguasa salju.
Astaga! Apakah hadiah yang diberikan kerajaan memang semenarik itu?
Mata Louis pun mulai memerah. Kalau para petualang saja bisa dapat imbalan, tak mungkin dirinya yang sudah membantu sejak awal tak kebagian apa-apa.
Saat kembali menegakkan kepala, matanya tampak berapi-api. Dosa Besar “Ketamakan” berbisik dalam hatinya, mungkin kali ini ia akan mendapatkan keuntungan besar!
“Apa lagi yang kalian tunggu? Ikuti aku!”
Louis menarik Limru, yang masih menikmati “cita rasa ibu”, dan melesat menuju arah para pengawal kerajaan.
Para petualang baru sadar. Kekayaan yang melimpah ini, mana bisa diserahkan pada orang lain!
Dengan penuh semangat, para petualang pun berlari mengejar ke arah Pegunungan Asap Api.
…
Beberapa jam kemudian.
Setelah menembus gelombang mayat hidup, Louis dan rombongannya tiba di medan pertempuran, di mana dua kekuatan tengah saling berhadapan dengan tegang.
Di satu sisi, pasukan Pengawal Kerajaan bersenjata lengkap telah berkumpul. Louis bahkan bisa melihat Gino Kain yang juga bersenjata lengkap di antara mereka.
Di sisi lain, berdiri dua makhluk raksasa yang tubuhnya memancarkan cahaya dingin menakutkan—lebih tepat disebut sebagai “naga”.
Kedua belah pihak dengan teratur membersihkan mayat hidup yang terus keluar dari sebuah lubang di tanah, tapi mata mereka saling mengawasi, seolah khawatir yang lain tiba-tiba menyerang.
Louis menatap medan pertempuran di sekitarnya. Kawasan itu seperti baru saja disapu oleh rudal, dengan reruntuhan dan bekas sabetan pedang di mana-mana. Sekilas terlihat jelas, gurunya pasti sudah bertarung dengan para naga itu cukup lama. Namun, kondisinya tampak tidak terlalu baik.
Tak lama, semua mayat hidup yang keluar dari gua dibantai habis.
Gino tampaknya menyadari kehadiran Louis, wajahnya tampak sangat muram, seolah-olah ketidaksenangan tercetak jelas di wajahnya.
Louis berkedip. Gurunya sepertinya baru saja dihajar! Dari ekspresinya, tampaknya ia harus menghadapi dua musuh sekaligus dan terluka oleh naga safir.
Ia tak mendekat untuk menyapa. Hari ini, ia hanyalah petualang bernama Caesar, dan tak akrab dengan Gino!
Gino yang sadar akan tatapan Louis, langsung membalas dengan mendengus dan menatap tajam.
Marah besar!
Tiba-tiba, ia mengangkat pedang besarnya ke atas, dan cahaya api yang menyilaukan melesat ke angkasa, lalu menghantam bagian atas gua seperti meteor jatuh.
Suara ledakan keras mengguncang tanah, permukaan bumi menganga membentuk lubang raksasa. Tanah di sekitarnya ambruk, memperlihatkan rongga besar di bawahnya.
Melihat mata Louis berbinar, Gino hanya mendengus tanpa berkata apa-apa.
“Berani-beraninya kau meremehkanku?!”
Di saat yang sama, atap gua yang hancur memperlihatkan sebuah altar tulang putih di bawah tanah. Di atas altar, ada sebuah buku sihir yang dikelilingi oleh tumpukan tulang belulang.
Kekuatan sihir kotor yang gelap dan sulit dijelaskan menyembur dari buku itu, berubah menjadi pilar hitam yang menjulang ke langit.
Semua orang—baik petualang, Pengawal Kerajaan, maupun dua naga—tampak merasa tak nyaman.
Kecuali Louis dan Olivia.
Entah kenapa, kekuatan sihir kotor yang melesat ke langit itu sama sekali tidak berpengaruh padanya. Hatinya tetap tenang, bahkan sedikit ingin tertawa.
Namun, si angsa kecil cukup unik. Sihir kotor itu bahkan belum mendekat, sudah otomatis menghindarinya.
“Tidak mungkin, ini sungguh tidak mungkin!” Patung raksasa di samping Louis berkata tak percaya, “Padahal, kita sudah memusnahkan Kitab Kematian Baru itu!”
Mendengar itu, wajah semua orang seketika berubah.
Dalam hampir lima abad terakhir, bencana terbesar yang menimpa dunia ini, salah satunya adalah Sepuluh Hari Berdarah Sang Raja Gila. Kini, Kitab Kematian Baru yang menjadi simbol warisan Sang Raja Gila kembali muncul?
Seketika, ekspresi semua orang menjadi sulit ditebak.
Ada yang panik.
Ada yang terkejut.
Ada yang tamak.
Namun, tak seorang pun menyadari suara katapel yang mulai berputar dan mendesing.
Brak!
Seekor slime raksasa langsung menghantam altar itu.
“Hancurkan, Limru.”
Tanpa ragu, Louis mengeluarkan perintah yang membuat beberapa orang di tempat itu kaget dan marah.