Bab Empat Puluh Satu: Letusan Gunung Api
Wajah Yi Yang yang berlumuran darah tampak beringas saat ia melangkah lebar mendekati bek nomor 3 Kansas yang telah melakukan pelanggaran padanya. Tangan pria itu sudah mengepal, siap untuk memukul lawannya kapan saja!
Jangan tertipu dengan fakta bahwa sejak masuk NCAA, Yi Yang tak pernah tersandung berita negatif apa pun. Jika kau mengira dia anak baik-baik, maka kau benar-benar keliru! Saat SMA, jumlah konflik fisik yang melibatkan Yi Yang dengan pemain lawan paling banyak di timnya. Hampir setiap minggu ia terlibat perkelahian di lapangan basket. Paling parah, ia pernah memukul rekan setim yang membuatnya marah hingga masuk rumah sakit.
Tentu saja Yi Yang bukan pembuat onar. Sebaliknya, setiap permasalahan selalu dimulai oleh orang lain. Namun, jika kau berani melewati batasnya, jangan harap Yi Yang akan berkompromi.
Dulu, alasan utama Yi Yang berkelahi adalah karena hinaan verbal yang diterimanya. Kali ini, pelanggaran sengaja yang dilakukan pemain nomor 3 lawan benar-benar membuatnya muak! Melanggar memang bagian dari permainan basket. Dalam dua menit saja, Yi Yang sudah beberapa kali dijatuhkan tanpa mengeluh. Tapi pelanggaran yang diniatkan untuk mencederai, itu persoalan lain. Jika kau ingin melukaiku, maka sebelum kau berhasil, aku yang akan melukaimu lebih dulu!
Para juru kamera langsung mematikan kamera mereka. Adegan berdarah seperti ini tak boleh terlalu lama tayang. Apalagi, ekspresi Yi Yang yang sangat menyeramkan, tentu tak baik jika dilihat para penonton di rumah.
Yi Yang mengangkat lengannya, siap menghantam! Bek cadangan Wildcat yang ketakutan bahkan lupa menghindar, hanya berdiri terpaku di tempat.
Tiba-tiba, seseorang menarik Yi Yang dari belakang sehingga pukulannya meleset.
“Kembali ke sini!” suara Stevens terdengar di belakang kepala Yi Yang. Pemain muda Asia itu tak menyangka, pelatih sendirilah yang pertama melompat ke lapangan dan memeluknya.
“Kepalamu harus segera dibalut! Ayo, terima perawatan dulu. Kami masih butuh kau di pertandingan!” Dengan campur tangan Stevens yang memaksa dan bujukan dari para pemain lain, Yi Yang akhirnya melepaskan tinjunya dan langsung digiring menuju lorong pemain.
Bek nomor 3 lawan yang ketakutan langsung dikeluarkan dari pertandingan. Mungkin malam ini dia akan terus teringat wajah Yi Yang yang berlumuran darah mendekatinya.
Bagaimana dengan Yi Yang? Untung Stevens datang tepat waktu. Jika pukulan Yi Yang sampai mendarat di wajah lawan, dia hampir pasti akan terkena sanksi larangan bertanding.
“Huff... Huff... Huff...” Yi Yang masih terengah-engah bersandar pada tembok di lorong pemain. Bukan karena lelah, melainkan karena emosinya yang belum juga reda.
“Jangan banyak bergerak, bro. Lukamu tidak parah, tapi darahnya cukup banyak!” Dokter tim utama Bulldogs dengan sigap menangani luka di hidung Yi Yang yang berdarah akibat benturan.
Dokter itu meraba hidung Yi Yang, dan syukurlah, tulangnya tidak patah. Ia hanya perlu menutup luka dan menghentikan pendarahan. Setelah itu, Yi Yang bisa kembali bermain tanpa masalah.
“Sial, tadi nyaris saja kau kena larangan bertanding!” Stevens masih syok. Saat melihat Yi Yang mengepalkan tinju di pinggir lapangan, ia tahu harus segera bertindak! Untung dia bergerak cepat—kalau tidak, Yi Yang pasti sudah tidak bisa bermain lagi malam ini.
“Anak itu memang perlu pelajaran!” Yi Yang membalas dengan kesal. Selain hinaan, tindakan melukai lawan dengan sengaja adalah hal yang paling ia benci di lapangan basket.
“Wasit sudah memberinya pelajaran! Kalau lain kali terjadi lagi, aku tidak mau melihatmu kehilangan kendali seperti barusan!” Stevens paham betul, NCAA bukanlah lapangan jalanan. Bertarung di sini tak akan memberimu keuntungan apa-apa.
Yi Yang mendengus tak puas. Sejak kecil, siapa pun yang mencoba menindasnya selalu mendapat balasan. Itulah sebabnya ia bisa bertahan hidup di kawasan Wood dengan aman.
Dokter tim menempelkan plester penahan darah secara melintang di hidung Yi Yang, lalu mengangguk pada Stevens, menandakan semuanya siap. “Dia sudah bisa main lagi.”
“Kemari, bro, ayo.” Stevens pun melonggarkan sikap tegasnya, merangkul Yi Yang menuju lapangan.
“Aku tahu kau marah, aku juga. Pelanggaran curang itu, dikeluarkan saja tidak cukup untuk menghukumnya. Tapi ini pertandingan basket. Kalau kau sampai kehilangan kontrol dan dikeluarkan, itu artinya mereka berhasil! Mereka memang ingin kau keluar, tahu kenapa? Karena mereka takut padamu!” Di sepanjang lorong, suara gaduh dari lapangan makin terdengar jelas.
“Mereka pasti mengira kau tak akan kembali. Sekarang mereka pasti memanfaatkan momen ini untuk mengejar ketertinggalan. Kita sudah di luar sekitar sepuluh menit, bahkan aku sendiri tak tahu seperti apa situasi pertandingan sekarang! Aku ingin kau kembali, gunakan amarahmu di lapangan. Hancurkan mereka dengan cara bermain basket!” Stevens menutup ucapannya bersamaan dengan mereka sampai di ujung lorong. Para fotografer yang jeli sudah mengarahkan kamera pada pasangan pelatih dan pemain itu.
Stevens menatap Yi Yang, namun wajah remaja China itu tanpa ekspresi, sulit ditebak apa yang ia rasakan.
“Hancurkan mereka!” Yi Yang melemparkan kalimat pendek, lalu melangkah masuk ke lapangan, menuju meja wasit untuk menggantikan Norid.
Stevens menengadah ke papan skor. Sisa waktu pertandingan tinggal tiga menit, dan Wildcats sudah menyusul hingga selisih hanya empat poin. Meski Hayward dan Shelvin Mack punya kemampuan, Bulldogs yang terbiasa menyerang lewat Yi Yang masih belum bisa menyesuaikan ritme tanpa dirinya.
“Tuh, lihat! Itu Yi!”
“Yi kembali! Dia baik-baik saja!”
“Syukurlah, Yi kembali! Kita pasti menang!”
Desas-desus di tribun penonton makin lama makin ramai dan akhirnya berubah menjadi sorakan serempak.
“Let’s go Yi! Let’s go Yi! Let’s go Yi!...”
Mu Ran meletakkan kameranya, terbawa suasana menyemangati Yi Yang. Ayo, Yi Yang, lapangan ini membutuhkanmu!
Mendengar seluruh stadion meneriakkan namanya, wajah Yi Yang tetap datar, tapi batinnya sudah bergejolak. Seperti kata Stevens, sekarang Yi Yang hanya ingin bermain basket. Semua amarah dan kekuatannya akan ia lampiaskan di lapangan!
Di lapangan, Hayward mencoba menembus pertahanan, tetapi Cole Aldrich menghadangnya dan terkena pelanggaran bertahan.
Hayward berdiri di garis bebas. Tembakan pertama masuk mulus. Melihat itu, Yi Yang langsung berdiri, diikuti oleh seluruh penonton!
Norid berlari ke luar lapangan, Yi Yang melakukan pemanasan ringan di depan meja wasit.
“Tuhan, tadi aku kira Yi mengalami cedera parah. Tapi sekarang dia kembali di saat-saat krusial! Pelatih Marvin Scott pasti pusing, kehilangan satu bek cadangan, tapi tetap tak bisa menghentikan Yi kembali bermain!” Reggie Miller memandang ke lapangan dengan penuh kekaguman. Tanpa disadari, ia mulai menyukai pemain nomor satu berkulit kuning itu.
“Anak ini akan menorehkan prestasi besar, Reggie. Lihat sorot matanya! Itu adalah tatapan seorang pemenang!” Chris Webber di sebelahnya pun melontarkan pujian.
Yi Yang menepuk tangan Norid, lalu berlari masuk ke lapangan. Seketika, stadion bergemuruh. Bahkan komentator yang mengenakan headset pun tak bisa mencegah suara sorakan itu membanjiri telinga mereka. Nomor satu itu kini menjadi pilar spiritual seluruh penggemar Bulldogs.
Tembakan bebas kedua Hayward meleset, selisih skor tetap tiga poin. Jarak sekecil itu bisa saja terkejar dalam sekejap.
Xavier Henry baru saja melewati garis tengah ketika langsung meminta bola dari Mike Daniels. Ia harus segera menyusul skor—Wildcats tak boleh kehilangan waktu!
Daniels merespons, mengoper bola. Henry sudah siap menerima dan menembak. Tapi tiba-tiba, bayangan hitam melesat dan memotong bola di tengah jalan! Xavier Henry bahkan tak sempat bereaksi, ia hanya melihat punggung pemain bernomor satu yang membawa bola melaju kencang!
“Astaga! Chris, kau lihat itu? Bahkan Tuhan sekalipun belum tentu bisa memotong bola seperti tadi! Yi bergerak begitu cepat, ia melesat dari sisi kiri ke sisi kanan ring dalam sekejap, tepat di jalur bola! Kaki Yi itu pasti dipasang mesin!” Reggie Miller sampai memegangi kepalanya, aksi barusan akan jadi tontonan spektakuler bahkan di NBA!
Tentu saja kaki Yi Yang tak dipasangi mesin. Ia hanya mengubah amarah dalam hatinya menjadi bahan bakar untuk melaju!
Tak seorang pun bisa mengejarnya. Begitu satu kaki Yi Yang menginjak garis lemparan bebas, ia langsung meloncat.
Ia melompat tinggi, seolah-olah gravitasi di lapangan basket menghilang. Di udara, ia memutar pinggang hingga membelakangi ring. Lalu, di ketinggian menakjubkan itu, ia melakukan slam dunk dengan kedua tangan di belakang kepala!
“Duar!” Dalam sekejap, lautan penonton meledak dalam semangat membara.
“BOOM! Slam dunk membelakangi ring! Yi, dia membuat Indianapolis bertekuk lutut! Pergilah ke NBA, Nak, NBA butuh pemain sepertimu!” Teriakan Reggie Miller begitu keras hingga banyak penonton TV terpaksa mengecilkan volume. Faktanya, Reggie Miller sendiri bahkan tak sadar apa yang ia teriakkan.
Sambil membelakangi ring, Yi Yang sempat melakukan pull-up sebelum akhirnya melepaskan tangan dan mendarat.
Setelah itu, pemain nomor satu itu mengangkat tangan kirinya ke arah tribun, sementara tangan kanannya mengepal. Lalu, kedua tangan itu saling beradu keras—seakan palu petir Yi Yang benar-benar memercikkan api!
Ribuan penonton mengikuti gerakan yang sama. Pesan Yi Yang sangat jelas:
Mulai saat ini, pertandingan ini, aku yang memegang kendali!