Bab Seratus Tiga Puluh Empat: Roda Takdir Langit
Dia berpura-pura tidak terjadi apa-apa, lalu bangkit untuk menyambut.
"Qing'er, hari ini pasti melelahkan sekali, ya?"
Siluman rubah itu mengangguk mendengar pertanyaan tersebut.
"Anak menantu keluarga Sun, tetangga rumah ibuku, baru berumur seratus hari. Badannya gemuk sekali, wajahnya bulat menggemaskan seperti anak orang lain yang sudah berusia dua atau tiga tahun. Lihatlah, aku menjahitkan pakaian untuknya sepanjang sore sampai ujung jariku berlubang-lubang tertusuk jarum."
Siluman rubah itu sengaja menyodorkan jemari lentiknya kepada Sun Wentao. Di ujung jari-jarinya memang tampak titik-titik kemerahan, persis seperti bekas tusukan jarum.
Jika Sun Wentao yang dulu, dia pasti sudah menggenggam erat jemari itu ke dadanya, lalu merangkai kata-kata manis untuk menyenangkan hati sang kekasih. Namun, hari ini berbeda. Mudan masih duduk di dalam rumah. Betapapun cantiknya siluman rubah itu, cinta lama tetap tak bisa mengalahkan pesona cinta yang baru. Terlebih lagi, suami Mudan adalah orang kaya. Hidup mewah bersama wanita itu tentu jauh lebih menguntungkan daripada terus-menerus makan sayur asin dan mi bersama seekor siluman.
Sun Wentao takut Mudan cemburu, sehingga dia tidak memedulikan siluman rubah itu sama sekali.
"Masuklah ke dalam untuk makan. Adik kita sudah memasak nasi merah, masakannya cukup enak."
Siluman rubah itu masuk ke dalam rumah tanpa menyadari keanehan apa pun. Ia adalah makhluk spiritual yang lugu; mana mungkin ia mengerti betapa jahatnya hati manusia? Dulu, Sun Wentao begitu penuh kasih sayang kepadanya. Siapa sangka, kehadiran seorang wanita lain bisa membuat pria itu berubah menjadi begitu dingin dan tidak berperasaan.
"Kenapa kamu tidak memakai baju lagi? Nanti kamu masuk angin, lho."
Ucapannya bernada teguran, namun suaranya tetap lembut dan ramah. Ia pun mengambilkan pakaian bersih dari lemari dan melemparkannya kepada Sun Wentao. Ia sempat berniat membantu mengancingkan baju itu, namun pandangannya tertuju pada saku celana Sun Wentao yang tampak menggembung, membuatnya merasa penasaran.
"Aduh! Mengapa suamiku belum juga kembali?"
Mudan tiba-tiba menepuk telapak tangannya, lalu melirik Sun Wentao dengan penuh arti. Hubungan gelap antara pria dan wanita, meski disembunyikan sedemikian rupa, pasti akan terpancar dari sorot mata mereka.
"Kak, kalian makanlah duluan. Sepertinya suamiku sudah mau pulang. Aku akan menjemputnya di ujung desa."
Mudan berpamitan begitu saja, lalu pergi menuju ujung desa.
Ketika Mudan dan suaminya kembali ke rumah keluarga Sun, siluman rubah itu telah selesai membereskan meja makan dan hendak mencuci pakaian. Ia mendesak Sun Wentao untuk melepas celananya. Sun Wentao awalnya menolak dengan setengah hati, namun saat mendengar suara pintu gerbang terbuka dan melihat Mudan bersama suaminya telah kembali, ia segera menanggalkan celananya dengan cepat. Ia berharap bisa memamerkan otot pahanya yang kekar agar Mudan bisa melihatnya.
"Adik, jangan masuk dulu. Kakak iparmu sedang ganti celana!"
Siluman rubah itu berseru dengan suara nyaring, menghentikan langkah Mudan dan suaminya. Sun Wentao terpaksa memakai celana baru lagi, dan tiba-tiba saja, rasa benci mulai memenuhi hatinya terhadap siluman rubah tersebut.
Tak lama kemudian, Mudan dan suaminya masuk ke dalam rumah. Saat siluman rubah itu sedang merogoh saku celana lama, tanpa sengaja ia mengeluarkan selembar jimat.
"Sayang, benda apa ini? Kelihatannya menyeramkan sekali. Kalau tidak ada gunanya, aku buang saja ya?"
Siluman rubah itu sama sekali tidak berniat buruk. Ia tidak tahu benda apa itu, jadi ia menunjukkannya kepada Sun Wentao di depan Mudan dan yang lainnya.
Melihat jimat itu, Sun Wentao mendadak tergagap. Mudan segera memberinya kode dengan kedipan mata. Mudan bukannya sengaja memanas-manasi, ia hanya ingin memastikan komitmen Sun Wentao. Rencana keji mereka untuk menyingkirkan pasangan masing-masing sudah disepakati; meskipun suami Mudan sakit-sakitan, ia adalah orang kaya. Jika Sun Wentao tidak menunjukkan keseriusan, Mudan tidak akan berani mempertaruhkan segalanya untuk berselingkuh dengannya.
Sun Wentao segera menangkap maksudnya dan merampas jimat itu dari tangan siluman rubah.
"Eh, Istriku. Ini sengaja kubelikan di kuil khusus untukmu. Aku tahu tidurmu sering tidak nyenyak. Kepala kuil bilang, kalau kamu meletakkan jimat ini di bawah bantal saat tidur, pikiranmu akan tenang dan damai."
Mendengar itu, siluman rubah mengira Sun Wentao benar-benar perhatian kepadanya. Hatinya merasa sangat tersentuh, dan wajahnya tak mampu menyembunyikan kebahagiaan.
"Menjadi istri Kakang adalah berkah terbesar dalam hidupku. Baiklah, nanti malam akan kucoba. Kakang..."
Siluman rubah itu ingin mengatakan sesuatu lagi, namun Sun Wentao sudah tidak memedulikannya. Begitu hati seorang pria telah berpaling, secantik apa pun wanita itu, tak akan ada gunanya lagi.
Malam pun tiba. Mudan dan suaminya telah pulang ke rumah mereka, sementara Sun Wentao dan siluman rubah telah berbaring di tempat tidur. Sun Wentao sengaja meletakkan jimat itu di bawah bantal siluman rubah. Malam itu, Sun Wentao dan Mudan, yang tinggal di rumah bersebelahan, tidak bisa tidur. Sun Wentao berbaring dengan perasaan gelisah, memutar otak dan berharap jimat pemberian Mudan itu tidak akan gagal.
Namun, siluman rubah itu justru tidur dengan nyenyak sepanjang malam, bahkan sempat terdengar suara dengkuran halus darinya. Sun Wentao menjadi cemas. Ia berpikir, jika jimat ini tidak mempan, bagaimana rencananya dengan Mudan? Harta suami Mudan yang melimpah itu adalah godaan yang terlalu besar untuk diabaikan! Dalam keputusasaannya, Sun Wentao bahkan sempat berpikir untuk mencekik leher siluman rubah itu sendiri. Tangannya sempat meraba-raba leher siluman rubah yang sedang tertidur, namun karena pengecut, ia tidak berani melakukannya. Akhirnya, Sun Wentao jatuh tertidur karena kelelahan.
Keesokan harinya, saat ayam berkokok dan Sun Wentao terbangun, ia mendapati siluman rubah di sampingnya sudah tidak bernapas lagi. Yang tersisa hanyalah sesosok mayat Jia Qing yang telah membusuk. Sun Wentao merasa sangat senang melihat siluman rubah itu mati. Namun, ia tetap harus bersandiwara seolah-olah ia adalah suami yang berduka. Ia mengenakan pakaian berkabung, memilihkan tanah makam yang bagus, lalu memakamkannya dengan megah.
Setelah melihat siluman rubah itu mati, Mudan pun membulatkan tekad. Ia membeli racun tikus dan meracuni suaminya sendiri hingga tewas. Setelah itu, Mudan memakamkan suaminya bersama dengan siluman rubah tersebut. Pasangan keji itu kemudian hidup berfoya-foya menggunakan harta yang mereka curi.
Namun, mereka lupa bahwa hukum karma itu nyata. Perbuatan jahat pasti akan menuai balasannya cepat atau lambat.
Sun Wentao dan Mudan hidup bahagia hanya selama setengah tahun. Sun Wentao tidak bisa mengubah tabiat buruknya; ia menghamburkan harta Mudan sekaligus terus bermain wanita di luar. Mudan bukanlah siluman rubah yang polos dan lugu. Ia adalah wanita berhati ular. Begitu melihat Sun Wentao tidak lagi memperlakukannya seperti dulu, ia langsung mengambil langkah nekat dengan melaporkan semua kejahatan Sun Wentao ke kantor pemerintah. Sun Wentao, yang merasa dikhianati hingga terancam hukuman mati, akhirnya membongkar semua perbuatan Mudan yang telah meracuni suaminya sendiri.
Akhirnya, Sun Wentao dan Mudan sama-sama dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal.
Sementara itu, Dong Hun, anak dari Dong Xintian yang pernah kusebutkan sebelumnya, adalah seorang penggali kubur yang jauh lebih kejam dari ayahnya. Ia tidak punya hati nurani dan sangat nekat. Selama ia tidak punya uang, bahkan mayat pun akan ia curi. Jika makam yang ia bongkar berisi mayat pria atau sudah menjadi tulang-belulang, ia tidak terlalu peduli. Namun, jika yang berada di dalamnya adalah wanita muda yang cantik, maka nasib mayat itu akan berakhir tragis. Dong Hun bahkan membawa pergi mayat-mayat tersebut untuk diperjualbelikan. Benar-benar perbuatan yang sangat keji.
Kali ini, Dong Hun kembali kehabisan uang dan memutuskan untuk membongkar makam di tengah malam. Tanpa disangka, makam yang ia bongkar ternyata adalah tempat peristirahatan terakhir sang siluman rubah dan suami Mudan.
Perlu diketahui, siluman rubah itu adalah salah satu dari empat makhluk spiritual kuno. Bagaimana mungkin ia bisa mati hanya karena selembar jimat? Pada malam itu, ia sebenarnya hanya merasa tidak enak badan, lalu menutup kelima indranya untuk beristirahat dan memulihkan diri, menunggu saatnya untuk bangkit kembali!