Bab 140: Bertemu Paman di Dunia Persilatan
Pelayan kecil itu menatap Wenren Zhongshu dengan ekspresi seolah hendak menangis, "Nona..."
"Ambil pedang yang ada di tanah itu, nanti kirimkan kembali kepada Tuan Muda Song di lain hari." Wenren Zhongshu berbalik dan berbisik pelan, "Lain kali jika keluar, bawalah lebih banyak pelayan."
Nan Qiang berlari mengejar dan langsung mencengkeram sang pendao, "Bagus ya, Tuan Pendao bau, masih berani lari?!"
Begitu sang pendao berbalik, serangkaian argumen yang sudah disiapkan Nan Qiang di dalam hatinya mendadak lenyap begitu saja.
"Begitu jelek, kenapa malah jadi pendao!" ucap Nan Qiang dengan nada jijik menatap sang pendao.
Sang pendao meringis kesakitan, "Siapa bilang orang jelek di dunia ini tidak boleh jadi pendao."
"Aku yang bilang!" bentak Nan Qiang dengan penuh emosi kepada sang pendao.
Pendao itu memungut kantong bagua yang jatuh di tanah, lalu berlari terbirit-birit hingga menghilang dalam sekejap.
Song Qingyu menyusul dengan napas tersengal-sengal dan menepuk pundak Nan Qiang.
Nan Qiang mengerutkan kening dan memelintir tangan Song Qingyu.
"Ini aku! Ini aku!"
Nan Qiang menoleh dan menatap Song Qingyu, "Kenapa lagi-lagi kau, anak muda?!"
Song Qingyu bangkit berdiri, "Pendekar, kita sudah bertemu beberapa kali, tetapi aku belum sempat menanyakan nama kehormatan Anda."
Karena berlari terburu-buru, tenggorokan Song Qingyu terasa kering dalam sekejap.
"Xu Junzhi!" Nan Qiang memutar bola matanya.
Tepat saat Song Qingyu mendengarnya, perut Nan Qiang berbunyi keroncongan.
"Tuan Muda Xu, bagaimana kalau kita pindah tempat dan berkumpul sebentar di Restoran Fanlou?"
"Fanlou? Kau yang traktir?"
Fanlou adalah restoran terbaik di ibu kota, tempat yang dikunjungi oleh orang-orang terpandang dan terkemuka. Sekali makan di sana sudah cukup untuk menghidupi keluarga rakyat biasa selama setahun.
Song Qingyu tersenyum lebar, "Tentu saja aku yang traktir."
Nan Qiang memasang senyum di wajahnya, "Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo pergi."
Di sebuah ruangan pribadi di Restoran Fanlou, Nan Qiang duduk dengan santai di kursi kayu cendana beralaskan bantalan empuk.
Nan Qiang memesan seluruh hidangan andalan paling terkenal di Fanlou tanpa henti, sementara ekspresi Song Qingyu sama sekali tidak menunjukkan rasa sayang pada uangnya.
"Anak muda, apa kau punya uang untuk membayar?" tanya Nan Qiang sambil menatap Song Qingyu yang terus memandangnya.
Mangnya ada bunga di wajahnya?
Dengan gaya dermawan dan gagah, Song Qingyu berkata, "Hanya uang kecil seperti ini, Tuan muda tentu punya."
Nan Qiang meneguk secangkir teh sambil mengamati penampilan Song Qingyu dari atas ke bawah.
"Benar juga, orang yang bisa membuat pedang bertatahkan permata dan berlapis benang emas tentu saja bukan orang yang tidak punya uang."
Song Qingyu tampak canggung, "Minum teh, minum teh."
Begitu teko teh diletakkan, Song Qingyu menatap Nan Qiang, "Aku melihat Tuan Muda Xu memiliki kepandaian yang hebat dan ilmu bela diri yang luar biasa. Entah dari perguruan mana Tuan Muda Xu belajar? Bisakah memperkenalkannya kepadaku?"
Nan Qiang memperkirakan usia Song Qingyu tidak jauh berbeda darinya.
"Bukankah kau datang ke ibu kota untuk ikut ujian kekaisaran? Dilihat dari pakaianmu saja sudah jelas kau berasal dari keluarga kaya atau terpandang. Mana mungkin anak dari keluarga bangsawan membiarkan putranya belajar bela diri dan menjadi orang kasar."
Nan Qiang menyiramkan seember air dingin ke kepala Qingyu, membuat pemuda itu langsung lemas.
"Siapa bilang belajar bela diri akan menghambat ujian kekaisaran!"
Nan Qiang menatap Song Qingyu dengan nada mengejek, "Heh, kau sedang membual padaku ya? Aku lihat kau kerjanya hanya bermalas-malasan dan mencampuri urusan orang di jalanan, jelas bukan tipe orang yang bisa menenangkan pikiran."
Song Qingyu memasang wajah kaku, "Asal kau mau memperkenalkanku, aku akan memberimu uang."
"Berapa?"
"Seratus liang."
"Lima ratus liang!"
"Baik, sepakat!" Song Qingyu menepuk meja dengan penuh semangat.
Nan Qiang melihat ekspresi antusias Song Qingyu, "Lima ratus liang, apa kau punya uang sebanyak itu?"
Song Qingyu duduk kembali ke tempatnya, "Soal uang, kau tenang saja. Asalkan aku menulis surat ke rumah, ayahku pasti akan menyuruh orang mengantkesannya."
Nan Qiang mengangkat cangkir anggurnya, "Kelihatannya latar belakang keluargamu cukup mapan. Asalmu dari mana?"
"Keluarga Song di Lanxi."
Nan Qiang terkejut dalam hati, anggur yang baru saja melewati tenggorokannya langsung disemburkan keluar, membuatnya batuk-batuk hingga tenggorokannya terasa terbakar.
"Keluarga Song di Lanxi?!" Mata Nan Qiang membelalak lebar.
Song Qingyu tersenyum gembira, "Kau juga tahu Keluarga Song di Lanxi? Wah, kalau begitu kau pasti pernah mendengar reputasi pamanku, Tua Rumah Song. Keluarga kami di Lanxi memang keluarga bangsawan terhormat yang menjunjung tinggi sastra turun-temurun, murid-murid keluarga kami tersebar di seluruh penjuru negeri."
Di tengah pujian diri Song Qingyu, Nan Qiang batuk semakin keras.
Nan Qiang mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan. Bagaimana mungkin dia tidak tahu Keluarga Song di Lanxi? Itu adalah keluarga asal ibunya, Song Qingluan, yang berarti itu adalah keluarga kakek dari pihak ibunya.
Ini ibarat air bah menerjang kuil Raja Naga. Dilihat dari marga dan silsilah ini, pemuda di hadapannya ini seangkatan dengan ibunya, yang jika dihitung-hitung berarti pamannya sendiri.
Nan Qiang berusaha meredakan dadanya yang bergemuruh. Keluarga Song memiliki cabang keturunan yang sangat banyak, bisa jadi pemuda ini berasal dari selir, jadi jika dihitung demikian, hubungan kekerabatannya mungkin tidak terlalu dekat.
Nan Qiang menelan ludah, "Aku pernah mendengar bahwa Istri Pangeran Nanhua juga merupakan putri dari Keluarga Song di Lanxi."
Song Qingyu mengangguk, "Itu kakak perempuanku."
"Kandung?"
"Kandung."
Nan Qiang mengangkat alisnya, "Jarak usianya begitu jauh?"
Song Qingyu menjawab, "Ayahku adalah putra bungsu dari istri sah. Aku sendiri adalah anak yang lahir di usia senja ayahku, ibuku melahirkanku saat usianya empat puluh tahun."
Nan Qiang menarik napas dalam-dalam secara diam-diam. Dengan kata lain, orang di hadapannya ini benar-benar paman sepupu kandungnya sendiri?!
Nan Qiang memaksakan senyum canggung, "Sungguh tuan muda dari keluarga kaya raya. Kau mengeluarkan lima ratus liang perak hanya untuk belajar bela diri, apa kau tidak takut ayah tua tirimu itu mematahkan kakimu? Kudengar aturan keluarga Song sangat ketat."
"Aku hanya bilang butuh uang untuk biaya sosial di ibu kota. Mereka hanya punya aku sebagai satu-satunya penerus, mana mungkin tega membiarkanku menderita kekurangan pakaian dan makanan di luar."
Nan Qiang mencemooh dalam hatinya, bagaimana bisa Keluarga Song melahirkan anak pembangkang yang tidak punya pikiran seperti ini.
"Kakak perempuanmu ada di ibu kota. Jika ayah tua di rumahmu menyuruh kakakmu menyelidiki hal ini dan semuanya terbongkar, bisa-bisa aku ikut terkena imbasnya. Bagaimana kalau urusan ini kita batalkan saja."
Song Qingyu langsung merasa tidak senang, "Tidak boleh! Sekalipun terjadi sesuatu, aku yang akan menanggungnya!"
Nan Qiang memutar bola matanya. Dia yang menanggung? Menanggung dari Hongkong!
"Aku tetap saja takut repot," kata Nan Qiang dengan ekspresi tak berdaya.
Alis Song Qingyu berkerut menjadi satu, "Jika kau tidak mau mengajariku, aku akan terus mengikuti dan mengekorimu setiap hari!"
Nan Qiang menggoyangkan kakinya, "Terserah."
Song Qingyu mengancam, "Sekarang juga aku akan pergi melapor ke kantor pejabat ibu kota dan mengatakan bahwa kau telah melecehkan gadis rakyat di tempat umum!"
Nan Qiang berkata dengan nada meremehkan, "Pergilah sana."
Song Qingyu dibuat murka hingga sesak napas, "A-aku akan pergi mengadu kepada kakak dan kakak iparku, bilang saja kau telah menggangguku! Bahkan mematahkan pedangku! Ayahku bilang jika aku menghadapi masalah di ibu kota, cari saja kakakku. Dia adalah Istri Pangeran Nanhua, dengan keberadaannya di ibu kota, tidak ada seorang pun yang berani merundungku!"
Nan Qiang menarik kembali kakinya, "Anak muda, apa pun tidak bisa kau lakukan, tapi kemampuanmu untuk mengadu benar-benar hebat!"
Nan Qiang memasukkan segenggam kacang ke dalam mulutnya, "Baiklah, demi membayar traktir makanmu ini, besok datanglah mencariku di Halaman Selatan Pohon Huai."
Song Qingyu seketika mengubah ekspresinya menjadi penuh sanjungan, membuat Nan Qiang kembali memutar bola matanya.
"Sebelumnya kau selalu mengikuti pria yang bernama... Fu itu. Siapa hubungan dia denganmu?"
Nan Qiang berpikir dalam hatinya, jika pria itu juga masih kerabat jauh, maka kelak hubungan kedua keluarga bisa menjadi semakin erat, bukan hal yang tidak mungkin.
"Maksudmu Tuan Muda Fusong? Dia adalah cendekiawan dari Kota Jiong. Ayahku menyuruhku pergi bersama ke ibu kota agar aku bisa belajar darinya."
"Jadi sepanjang perjalanan ini kau bertindak sebagai pelayannya?"
"Aku dan Tuan Muda Fusong adalah belahan jiwa sekaligus sahabat karib, bagaimana mungkin dia memperlakukanku sebagai pelayan."
Nan Qiang memandang rendah, "Seorang cendekiawan dan seorang pria kasar, bahkan untuk berbicara saja tidak sampai setengah kalimat, bagaimana bisa menjadi sahabat karib? Jangan-jangan itu hanya khayalanmu sendiri."
Song Qingyu mengangkat dagunya dengan bangga, "Siapa bilang aku pria kasar? Aku tetap paham Empat Kitab Lima Klasik, serta puisi dan persajakan. Hanya saja aku merasa hal-hal itu membosankan. Kelak aku ingin menjadi seorang jenderal gagah berani yang membasmi musuh di medan perang!"