Bab 149: Wanita Licik dan Jahat
Di tengah malam, suara jangkrik berderik tanpa henti. Dua sosok manusia berjalan dengan langkah senyap keluar dari sebuah gang yang sempit dan remang-remang.
Nan Qiang berjalan separuh jalan, lalu tiba-tiba berhenti dan meringkuk di sudut tembok. Huai Qing yang berjalan di belakangnya langsung menubruknya mentah-mentah.
"Apa yang kamu lakukan!" Nan Qiang menoleh dan memelototi Huai Qing dengan tajam.
Entah angin apa yang sedang merasuki Nan Qiang hari ini, emosinya terasa begitu sengit dan mudah meledak.
Huai Qing menarik kain kasa di wajahnya. "Bukan salahku! Kamu yang tiba-tiba berhenti, makanya aku menubrukmu."
"Apa matamu tidak berfungsi? Tidak lihat aku berhenti? Apakah kamu tidak punya kemampuan antisipasi?"
"Aku memang melihatnya, tapi kakiku tidak mau mendengarkan perintahku, lantas aku bisa apa?"
Belum pernah ia melihat orang yang datang menyusup untuk melakukan pencurian tetapi bersikap begitu tidak tahu malu dan tidak masuk akal.
Nan Qiang mengangkat kakinya dan menginjak jari kaki Huai Qing. Dengan sigap, Huai Qing melompat mundur untuk menghindar.
Nan Qiang mencengkeram kerah baju Huai Qing. "Bukankah tadi kamu bilang kakimu tidak mau mendengarkan perintah?"
Huai Qing menelan ludah. "Memang tidak mendengarkan perintah, tapi reaksi insting tubuhku masih tetap ada..."
Dalam situasi seperti ini, orang yang tidak menghindar pastilah seorang bodoh...
Nan Qiang menarik kerah baju Huai Qing lebih erat. "Pendeta tengik, kamu masih berani membela diri. Setelah tinggal beberapa hari di istana kekaisaran, kemampuanmu rupanya sudah semakin hebat, ya."
Huai Qing mencekik leher Nan Qiang, dan keduanya langsung berkelahi bergulat di atas tanah. Anjing-anjing di kejauhan yang mendengar keributan itu langsung berlari keluar. Melihat dua sosok hitam pekat bergelut menjadi satu, seekor anjing menggonggong sekali. Nan Qiang langsung melepas sepatu Huai Qing dan melemparkannya ke arah anjing tersebut.
Anjing itu mengeluarkan suara dengkusan tertahan, lalu duduk di samping sambil memiringkan kepalanya mengamati kedua orang itu.
Huai Qing tertekan di bawah tubuh Nan Qiang, bibir tipis Nan Qiang hampir saja menyentuh pipi Huai Qing.
Dalam sekejap mata saling bertatapan, amarah di dalam dada mereka tiba-tiba padam seketika, menyisakan sedikit kecanggungan yang sulit dijelaskan.
Huai Qing menegangkan tubuhnya dan tidak berani bergerak. Nan Qiang duduk di atas tubuh Huai Qing sambil mengerutkan keningnya dengan ekspresi aneh.
Huai Qing menelan ludahnya dengan susah payah, lalu mendorong Nan Qiang menjauh. "Kita datang ke sini untuk urusan yang benar."
Nan Qiang bangkit berdiri dan merapikan pakaiannya. Wajah Huai Qing merona merah, beruntung suasana di dalam gang itu terlalu gelap sehingga Nan Qiang tidak bisa melihatnya.
Sambil melompat-lompat dengan satu kaki, Huai Qing pergi untuk mengambil kembali seadanya sepatunya. Anjing yang tadi meringkuk jinak di dekat sepatu itu melihat Huai Qing mendekat, lalu memamerkan taringnya dengan ekspresi waspada...
Huai Qing hendak maju tidak bisa, hendak mundur pun tidak bisa, sementara Nan Qiang berdiri tidak jauh darinya.
"Bahkan pada seekor anjing pun kamu takut?"
"Aku bertarung dengan tangan kosong, sementara ia memiliki seengganya sebaris gigi yang tajam." Huai Qing menoleh sejenak ke arah pedang pendek di tangan Nan Qiang, lalu berjalan kembali.
"Bukankah kamu membawa tongkat?"
"Mana mungkin aku membawa tongkat?"
"Barusan aku jelas-jelas menduduki sesuatu yang mirip tongkat." Nan Qiang mengulurkan tangan untuk meraba-raba tubuh Huai Qing. Huai Qing menepis tangan Nan Qiang dengan perasaan malu bercampur marah.
"Berikan kemari!"
Huai Qing merebut pedang pendek dari tangan Nan Qiang, mencabutnya dari sarungnya, dan menyerbu dengan penuh amarah.
Melihat postur tubuh Huai Qing, padahal di depan sana hanya ada seekor anjing yang meringkuk, orang yang tidak tahu pasti akan mengira ada ribuan pasukan musuh yang sedang menunggu di hadapan mereka.
Setelah mengenakan kembali sepatunya, Huai Qing memasang wajah kaku dan menatap Nan Qiang.
Kedua orang itu menyusup secara diam-diam hingga tidak jauh dari Kantor Intelijen Rahasia. Nan Qiang mengenakan cadar kainnya.
Huai Qing berdiri di tempat yang tinggi untuk mendengarkan gerakan di dalam kompleks tersebut. Nan Qiang menunggu Huai Qing cukup lama hingga akhirnya mulai kehilangan kesabaran. Saat ia hendak memanjat tembok untuk masuk, Huai Qing tiba-tiba menariknya turun.
Huai Qing menyeret Nan Qiang bersembunyi ke dalam tempat yang gelap. Saat itu juga, sesosok pria berjubah hitam dengan bordiran pola ekor ikan tampak berdiri di atas tembok.
Begitu pria itu pergi, Huai Qing menarik Nan Qiang berjalan menjauh sejauh beberapa tombak.
Kantor Intelijen Rahasia ini benar-benar tempat yang penuh dengan orang-orang hebat dan tersembunyi. Bagaimana pria tadi bisa menyadari kehadiran mereka?
Huai Qing mematahkan sebatang ranting pohon dan menggambar sebuah diagram di atas tanah. "Entahlah."
Huai Qing menusuk-nusuk gambar di tanah itu dengan rantingnya. "Ini adalah gerbang utama. Masuk dari gerbang utama lalu berjalan lurus. Di arah timur, selatan, barat, dan utara, masing-masing terdapat tiga penjaga yang berjaga. Jika kamu ingin masuk, kamu harus melewati para penjaga itu tanpa boleh mengejutkan ular di dalam rumput.
Para penjaga itu pastilah agen rahasia yang memiliki ilmu bela diri tinggi.
Setelah menghindari para penjaga dan berjalan lebih ke dalam, ada dua belas agen rahasia yang berpatroli di luar. Dua belas orang ini melakukan patroli setiap selang waktu satu cangkir teh.
Apakah kamu tahu di arah mana gudang arsip rahasia berada di dalam halaman ini?"
Nan Qiang menggigit jarinya. "Di paviliun sebelah tenggara."
Huai Qing melanjutkan, "Kamu bisa memanfaatkan waktu satu cangkir teh itu untuk langsung menuju ke arah tenggara. Di sana, ada setidaknya tiga orang dari Kantor Intelijen Rahasia. Jika kamu bisa menyusup ke dalam gudang arsip rahasia di bawah pengawasan mereka, itu artinya separuh dari rencana kita sudah berhasil.
Begitu kamu masuk ke dalam gudang arsip rahasia, kamu sama sekali tidak boleh mengeluarkan suara apapun."
Nan Qiang menatap gambar yang dibuat Huai Qing di tanah, lalu mengangkat sebelah alisnya. "Pernahkah kamu datang ke sini sebelumnya?"
"Tidak pernah."
Kalo begitu, bagaimana kamu bisa mengetahuinya sedetail ini?"
"Matamu buta dan telingamu tuli, bukan berarti orang lain sama sepertimu."
"Apakah kamu mendengarnya? Atau melihatnya?"
Nan Qiang menatap Huai Qing dengan rasa tidak percaya. Mungkinkah di dunia ini benar-benar ada orang yang memiliki telinga super dan mata dewa? Terlebih lagi, mata dewa itu bahkan dilengkapi kemampuan penglihatan malam?
Huai Qing menepuk kepala Nan Qiang sambil menghela napas panjang. "Nanti kamu masuklah dari arah timur, dan saat keluar, kaburlah ke arah selatan."
"Kenapa?"
Huai Qing memasang wajah lurus, menjentikkan jari-jarinya seolah sedang menghitung sesuatu dengan serius demi menciptakan kesan berwibawa. "Aku sudah menghitungnya. Masuk dari arah timur mendatangkan keberuntungan, sedangkan arah selatan adalah gerbang kehidupan. Dengarkan aku, ini demi menjamin keselamatanmu."
Nan Qiang memutar bola matanya malas. "Trik penipuan kecilmu itu paling-paling hanya bisa menipu anak berusia tiga tahun dan wanita yang tidak tahu apa-apa."
Nan Qiang menarik cadarnya menutupi wajah, lalu berjalan beberapa langkah. Melihat Huai Qing tidak bergerak, ia mendongakkan dagunya untuk menilai pria itu.
"Aku akan pergi untuk memancing perhatian orang-orang itu ke mari!" Huai Qing berjalan maju dengan perasaan enggan.
Nan Qiang memerhatikan Huai Qing berjalan ke tempat yang tadi, dan akhirnya ia tetap memilih pergi menuju tembok sisi timur.
Begitu mendengar keributan di sebelah barat, Nan Qiang dengan gesit memanjat tembok dan menyusup ke halaman dalam Kantor Intelijen Rahasia di tengah kekacauan tersebut.
Sesampainya di halaman dalam, situasinya benar-benar seperti yang dikatakan Huai Qing. Orang-orang yang berpatroli di halaman sama sekali tidak terpengaruh oleh keributan yang terjadi di luar.
Nan Qiang merasa bergidik ngeri. Menunggu hingga para agen rahasia itu berjalan menjauh, ia menyusup lebih dalam ke halaman bagian dalam dan berjalan lurus ke arah tenggara.
Di bagian dalam yang sunyi itu terdapat sebuah area terbuka. Setelah melewati area terbuka tersebut dan mendongak ke depan, tampak sebuah plakat papan nama dengan tulisan tangan yang berantakan digantung di sana.
Nan Qiang tidak bisa mengenali tulisan yang menyerupai cakar ayam itu. Melihat papan prasasti tulisan yang begitu besar, tempat seketat ini pastilah merupakan area penting yang dijaga dengan mekanisme pertahanan!
Saat Nan Qiang baru saja melangkahkan kakinya keluar dari koridor panjang dan hampir mencapai gudang arsip rahasia, sebelum sempat merasa gembira di dalam hatinya, tiba-tiba bagian atas kepalanya diselimuti oleh kegelapan pekat.
Nan Qiang secara refleks menghindar, dan sebuah bilah pedang tajam menghantam tanah hingga memercikkan bunga api.
"Serangannya kejam sekali!" Nan Qiang mendengus tertahan. Karena penyamaran mereka sudah terbongkar, maka pilihan terbaik adalah melarikan diri.
Nan Qiang berniat untuk segera berbalik dan kabur, namun lawannya tampaknya juga menyadari niatnya. Hanya dalam tiga atau lima jurus, Nan Qiang sudah dipukul hingga memuntahkan setetes darah di atas tanah.
"Punya sedikit kemampuan bela diri tingkat rendahan rupanya."
Mendengar ejekan dari pria itu, Nan Qiang bangkit menopang tubuhnya. "Kalau begitu, Nyonya besar ini akan tunjukkan padamu seberapa hebat kekuatan bela diri tingkat rendahan ini!"
Nan Qiang sama sekali tidak menyembunyikan suara aslinya sebagai perempuan. Ia mengeluarkan beberapa jarum tipis dari gelungan rambutnya dan melemparkannya ke arah pria tersebut.
Begitu lawannya mendekat, isi kepala Nan Qiang dipenuhi oleh kata-kata Si Pincang Qi: "Hancurkan kekuatan dengan kelihaian, ikuti arah tulang dan patahkan urat dengan berlawanan..."
Nan Qiang bangkit melompat, menekan tengkorak kepala pria itu untuk menotok titik suaranya, lalu kedua tangannya mencengkeram dengan gerakan membuka dan menutup. Dengan mengerahkan tenaga pada satu tekukan, ia membuat sendi tulang tangan pria itu bergeser dari posisinya. Selanjutnya, Nan Qiang mengangkat kakinya dan menendang dengan kuat ke arah selangkangan pria tersebut, lalu menusukkan pedang pendeknya ke bagian pantat si pria.
Nan Qiang segera bangkit, memanjat tembok, dan kabur melarikan diri ke arah selatan.
Keributan yang terjadi di sebelah barat tadi baru saja mereda ketika suara gaduh terdengar dari paviliun tenggara. Belum sampai waktu satu cangkir teh berlalu, para agen rahasia sudah berhamburan keluar dari segala penjuru.
Yan Song bergegas tiba, mencabut pedang panjangnya dan menatap bayangan hitam di atas tembok. Para agen rahasia di belakangnya segera melakukan pengejaran.
Yan Song melepaskan totokan suara pada pria tersebut, yang langsung mengerang kesakitan. "Perempuan itu benar-benar keji dan tidak tahu malu!"
Wajah Yan Song terlihat semakin muram. Kantor Intelijen Rahasia yang begitu megah ternyata berhasil dibobol oleh seorang perempuan, dan bahkan membiarkannya melarikan diri begitu saja. Jika berita ini sampai menyebar keluar, di mana wajah Kantor Intelijen Rahasia harus ditaruh?