Bab 153: Kejam

Menteri yang Angkuh Tiga ratus tiga puluh tujuh tahun 2489kata 2026-03-30 08:27:02

Nan Qiang memecahkan jendela dan masuk. Keduanya saling bertatapan dengan mata terbelalak.

Song Qingyu menegakkan tubuhnya sambil bergidik, "Siapa kamu?"

Nan Qiang terdiam sejenak, lalu berlari ke arahnya sambil mengacungkan pedang dan menodpkkannya ke tenggorokan pemuda itu.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari luar pintu. Nan Qiang melirik Song Qingyu sekilas, lalu mengangkat tangannya dan menusuk ke depan.

Song Qingyu menahan tangan Nan Qiang, sementara Nan Qiang hanya mengerahkan tenaga kurang dari tiga puluh persen.

Seorang pria dewasa hanya punya tenaga sebesar ini? Nan Qiang memukul dada Song Qingyu dengan sebelah telapak tangan, lalu memanfaatkan kekacauan untuk melarikan diri.

Ada pencuri di kediaman tersebut. Butuh waktu agak lama bagi Fu Song untuk keluar sambil mengenakan jubah luarnya. Begitu masuk, ia melihat Song Qingyu merosot di lantai dengan keringat bercucuran.

Wajahnya pucat pasi dan bibirnya keunguan. Sekilas saja sudah tahu bahwa ia sangat ketakutan.

Pelayan di sisi Song Qingyu dengan tergesa-gesa membantunya bangkit.

Song Qingyu tersentak kaget, lalu sadar dari ketakutannya. "Ada pembunuh! Ada pembunuh yang ingin membunuhku!"

Fu Song meletakkan satu tangan di belakang punggung, lalu melangkah maju dan membungkuk. "Pembunuh?"

Song Qingyu menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Pembunuh, dia mau membunuhku!"

"Biasanya aku sudah menyuruhmu agar tidak terlalu dekat dengan orang-orang dunia persilatan, itu semua demi menghindari malapetaka di kemudian hari." Tatapan Fu Song sama sekali tidak bergelombang, nadanya tetap lembut.

Song Qingyu menelan ludah, lalu duduk dengan gemetar dibantu oleh pelayannya.

Song Qingyu menenggak semangkuk besar air dalam sekali teguk. Biasanya Song Qingyu selalu sesumbar ingin menegakkan keadilan di dunia persilatan, itu karena ia merasa percaya diri.

Namun sekarang, ketika benar-benar didatangi orang dan lehernya diancam dengan senjata tajam, tentu saja ia merasa takut. Mengatakan bahwa tidak ada orang yang takut mati adalah omong kosong belaka. Ketika bilah pisau yang dingin benar-benar diletakkan di leher, tidak sampai terkencing-kencing karena ketakutan saja sudah merupakan perbuatan seorang pria sejati.

Bagaimanapun juga, begitulah cara Song Qingyu menghibur dirinya sendiri di dalam hati.

Fu Song menyuruh pelayan pergi ke dapur untuk merebus teh penenang bagi Song Qingyu guna meredakan ketakutannya.

Menjelang paruh kedua malam itu, semua pelayan di kediaman berjaga dengan penuh kewaspadaan. Lampu-lampu dinyalakan di dalam maupun di luar halaman, dan bahkan ada beberapa pelayan yang berjaga tepat di depan pintu kamar Song Qingyu.

Nan Qiang berlari sepanjang jalan menuju hutan, melepas cadarnya, lalu melemparkan cadar itu ke tanah.

"Cih, dengan nyali sekecil itu masih berani mengaku sebagai pamanku."

Nan Qiang kembali ke halamannya. Huai Qing sedang menunggunya di paviliun teh di halaman sambil menyiapkan sepotong teh dan ayam panggang.

"Mau ke mana malam-malam begini? Pergi ke Biro Mata-Mata lagi?"

Nan Qiang duduk, lalu menyilangkan kakinya. "Pergi ke tempat Song Qingyu."

Melihat Nan Qiang mengenakan perlengkapan lengkap, Huai Qing yakin gadis itu pasti tidak sedang berbuat kebaikan.

Huai Qing menjadi cemas. "Kamu mau mencuri harta karun? Jangan-jangan kamu benar-benar berniat menculik seorang sastrawan Kota Huan yang cukup terkenal di bawah kaki langit Kaisar?!"

"Siapa juga yang mau menculik dia? Aku pergi untuk membunuh si keparat Song Qingyu itu."

Sepasang mata Huai Qing tiba-tiba membelalak sebesar lonceng tembaga. "Untuk apa kamu membunuhnya?"

Dia itu kan pamanmu, hanya karena beberapa kalimat candaan di siang hari apa perlu sampai membunuh dan melenyapkan saksinya?

Kalimat terakhir Huai Qing tertelan kembali ke dalam perutnya. Nan Qiang menepis tangan Huai Qing yang terulur. "Aku tidak berniat membunuhnya. Siapa suruh dia mempermainkanku untuk bersenang-senang? Tunggu saja, besok dia pasti akan datang."

Mata Nan Qiang menyipit seperti rubah. Huai Qing mengendus-endus hidungnya. "Ada konspirasi."

Nan Qiang menyeringai lebar hingga memperlihatkan giginya. "Mana bisa perbuatanku disebut konspirasi? Paling-paling ini disebut strategi terang-terangan."

"Ah, benar-benar ada ya? Muslihat busuk apa lagi yang sedang kamu rencanakan di dalam kepalamu itu?"

Nan Qiang memisahkan paha ayam. Sejak bergaul bersama sang pendeta Tao keparat itu, ia hampir setiap hari makan paha ayam, sampai-sampai hampir muntah saking seringnya makan.

Nan Qiang menggigit sedikit, merasa makanannya hambar, lalu mengembalikannya kepada Huai Qing. Huai Qing menatap dengan jijik, lalu meletakkan kembali paha ayam tersebut.

"Tidak akan kuberi tahu. Kamu lihat saja sendiri besok. Aku lelah, mau istirahat lebih awal."

Nan Qiang baru berjalan beberapa langkah lalu berbalik lagi. "Beberapa hari ini tidak melihatmu keluar, apa kamu sedang menghindari sang putri?"

Huai Qing memutar bola matanya. Nan Qiang bersenandung kecil sambil melangkah pergi dengan perasaan gembira.

Benar saja, pagi-pagi buta keesokan harinya, Song Qingyu datang mengetuk pintu. Bai Zhi yang sedang menguap membukakan pintu dan mempersilakan Song Qingyu masuk. Song Qingyu meminta Bai Zhi mencarikannya sebuah kamar, lalu masuk ke dalam kamar dan tidak keluar lagi.

Setelah matahari naik cukup tinggi, Nan Qiang dan Huai Qing keluar secara bersamaan. Keduanya berpapasan, lalu Nan Qiang melangkah melewati Huai Qing.

Begitu melihat Nan Qiang, wajah Song Qingyu langsung dipenuhi kecemasan. "Gu... Guru..."

"Bicaralah yang benar."

"Tadi malam ada orang yang ingin membunuhku! Guru, kamu harus membantuku menangkap pencuri kecil itu, dan membuatnya..."

Song Qingyu memperagakan gerakan menyayat leher. Nan Qiang mengejek, "Aduh, sudah hebat ya, sekarang sedikit-sedikit sudah berani menyebut tentang membunuh orang? Bukankah tadinya kamu bilang masalah seperti ini seharusnya dilaporkan kepada pejabat? Orang itu telah melakukan kejahatan besar, sudah sepatutnya ditangani oleh hukum, bagaimana bisa dengan mudah merenggut nyawa orang lain."

Nan Qiang sengaja memasang nada menyindir. Song Qingyu tampak seperti balon yang kehilangan angin. Nan Qiang menepuk bahu Song Qingyu.

"Tadi malam aku sudah melapor ke kantor pejabat, tapi pagi-pagi begini bahkan tidak ada suaranya sama sekali!"

Nan Qiang duduk. "Kantor pejabat mana yang kamu lapori?"

"Tentu saja Kantor Bupati Jingzhao."

"Atas dasar apa kamu melapor?" tanya Nan Qiang santai sambil duduk.

Alis Song Qingyu berkerut. "Mana kutahu, pelayanku Lu Tong yang pergi melapor ke kantor pejabat."

Song Qingyu memasang wajah menderita. "Jika kamu tidak mau menyelamatkanku, aku akan membeberkan kejadian malam itu saat kamu membunuh orang di gang."

Huai Qing menatap Nan Qiang, lalu meliriknya sekali lagi. Namun Nan Qiang sama sekali tidak peduli. "Kamu bilang aku membunuh orang di gang, mana buktinya? Keluarga mana dari orang yang sudah mati itu? Jangan asal memfituh, awas kalau kukatakan kamu melakukan pengaduan palsu."

"Aku tidak peduli, pokoknya kamu telah membunuh orang." Song Qingyu seketika melunakkan nadanya. "Bagaimanapun juga, kamu ini dianggap setengah guru resmiku, tidak mungkin kan kamu tega membiarkan aku mati?"

Nan Qiang menggigit sepotong kue. "Aku akan memberimu sebuah ide agar kamu bisa menangkap pencuri yang mencoba membunuhmu itu. Apakah kamu ingin mendengarkannya?"

Song Qingyu tiba-tiba menegakkan tubuhnya, dan ekspresi suram di wajahnya langsung lenyap.

"Ide apa?"

Nan Qiang berkata dengan suara rendah, "Sekarang pergilah sendiri ke Kantor Bupati Jingzhao untuk melapor, dan pergilah dengan cara yang meriah. Semakin banyak orang yang tahu semakin baik. Siapa dirimu? Kamu adalah keturunan sah keluarga Song dari Lanxi, dan keluarga Song adalah keluarga bangsawan terkemuka. Jika kamu membuat masalah ini diketahui oleh semua orang, apakah Bupati Jingzhao berani mengabaikannya? Ayah tuamu pasti akan langsung bergegas datang ke ibu kota untuk menuntut keadilan bagimu.

Tuan Wen adalah orang yang cerdas, dia pasti tidak ingin memperbesar masalah ini. Karena takut terjadi sesuatu padamu, bukankah dia akan mengerahkan sekelompok penangkap di kediamanmu untuk melindungimu?"

Song Qingyu mengerutkan kening. "Tetapi Fu Song bilang masalah ini sebaiknya tidak disebarluaskan, agar tidak memengaruhi ujian kekaisaran di masa depan dan merusak jenjang karier resmi."

Nan Qiang memutar bola matanya. "Pernahkah kamu dengar orang yang rumah kemalingan lalu melapor ke pejabat justru akan merusak nama baiknya sendiri? Kamu bahkan nyaris dikejar pembunuh sampai ke depan pintu, tapi dia malah menyuruhmu menelan ludah kepahitan itu bulat-bulat.

Jika ayah tuamu tahu tentang hal ini, dia pasti lebih rela kamu melepaskan karier resmi daripada membiarkan dirimu, anak muda ini, hidup tidak aman."

"Tetapi..."

Nan Qiang memotong perkataan Song Qingyu. "Selalu ragu-ragu dan penakut, pulanglah sana, cuci lehermu bersih-bersih, lalu duduklah manis menunggu lehermu disayat orang."

Song Qingyu meraba-raba. "Jika aku membuat keributan sebesar ini, apakah ayahku benar-benar tidak akan marah?"

"Omong kosong! Anak siapa yang hampir dibunuh orang, tetapi masih ditutup-tutupi? Tentu saja dia ingin segera menangkap pelakunya."

Nan Qiang mengangkat sebelah alisnya. "Ide sudah kuberi tahu, mau melakukannya atau tidak, pikirkanlah baik-baik. Dengan kemampuan bela dirimu yang dangkal dan tubuhmu yang lemah itu, jika benar-benar datang seorang ahli bela diri yang hebat, besok aku harus pergi ke rumahmu untuk membakar dupa dan meratapi kematianmu."