Bab 157: Muslihat Rahasia
Mata hari baru saja terbenam ketika Nan Qiang melihat sebuah warung mi di hadapannya. Ia duduk dan memesan semangkuk mi. "Beri aku semangkuk mi panas, jangan pakai daun bawang dan perbanyak dagingnya."
"Anak Muda, harga mi dengan tambahan daging tentu sedikit lebih mahal."
Pelayan itu mengamati penampilan Nan Qiang yang serba hitam dari ujung kepala hingga kaki, siapa yang tahu apakah ia memiliki uang di sakunya.
Nan Qiang melirik beberapa pria berbadan tegap yang mengekor dan ikut duduk di dekatnya. Ia merendahkan suaranya, "Apakah ini cukup?"
Melihat kepingan perak di atas meja, pelayan itu buru-buru mengangguk. "Cukup, cukup."
Nan Qiang menunduk sejenak, melirik sekelompok pria berbadan tegap yang sedang memperhatikannya dengan seksama. Tanpa menunjukkan reaksi apa pun, ia menghabiskan mienya, melemparkan kepingan perak ke meja, lalu bangkit dan pergi.
Usai makan, Nan Qiang berjalan santai menyusuri jalanan dengan tangan bersidekap di dada. Berkelok-kelok melewati beberapa lorong, ia melihat ujung pagoda Chongning. Dari Pagoda Chongning, hanya butuh waktu sebatang dupa lagi berjalan kaki untuk tiba di Kantor Intelijen Rahasia.
Sekelompok pria berbadan tegap itu membuntutinya sepanjang jalan. Ketika melihat Nan Qiang berjalan menuju arah Kantor Intelijen Rahasia, mereka saling bertukar pandang.
Mereka mempercepat langkah. Nan Qiang lantas menghentikan langkahnya. Para pria berbadan tegap itu menyingsingkan lengan baju dan melangkah maju dengan gagah.
Bibir tipis Nan Qiang sedikit terangkat membentuk senyuman. Sepasang mata buah persiknya yang indah menatap dengan tatapan yang membuat siapa pun merasa gentar, membuat beberapa pria itu saling melirik ragu.
"Cih! Apa kita harus takut pada satu orang bocah! Saudara-saudara, serbu!" Sebagian dari mereka memberanikan diri dan berlari cepat menerjang Nan Qiang.
Namun, melihat senyuman Nan Qiang yang mengerikan, tanpa sadar mereka kembali mundur beberapa langkah.
"Bagaimana bisa Baitenge terus mengirimkan pesuruh-pesuruh bodoh untuk datang mencari mati? Nyawa kalian benar-benar tidak ada harganya."
Nan Qiang menghunus belati pendek di tangannya. Hanya terdengar suara retakan tulang, dan orang yang memimpin terjangan tadi langsung meringkuk di atas tanah menahan kesakitan.
Bibir merah merona Nan Qiang kembali terangkat. Tangannya terulur dan mematahkan tangan yang lain dari pria yang sedang meringkuk di tanah tersebut.
Pria itu menjerit kesakitan dengan wajah yang berkerut menahan siksaan. "Kalian datang pada malam yang tepat."
Beberapa orang lainnya bahkan belum sempat mencerna maksud ucapannya dan berniat menghadang Nan Qiang, namun gerakan Nan Qiang jauh lebih cepat dari dugaan mereka.
"Aku belum sempat menguji racun baru yang kuacik beberapa hari lalu, hari ini kalian datang tepat untuk menjadi kelinci percobaanku."
Nan Qiang mengeluarkan sebungkus bubuk dari balik ikat pinggangnya, menebarkan senyuman yang tampak tidak berbahaya seraya meniupkan sedikit bubuk itu ke mulut para pria tersebut.
Seketika, raut wajah para pria berbadan tegap itu berubah menjadi pucat kesakitan luar biasa. Mereka bahkan tidak mampu mengeluarkan suara, hanya bisa memegangi tenggorokan mereka sambil berguling-guling di tanah.
Memanfaatkan kelengahan mereka saat berbalik, Nan Qiang kembali melancarkan beberapa tusukan jarum. Jarum-jarum itu melesat tanpa meleset, tepat mengenai titik vital di tubuh para pria itu.
Nan Qiang berjalan melewati sekelompok pria tersebut dengan angkuh, lalu menyeret tubuh mereka ke dalam celah gelap di sudut jalan.
"Wajah sudah begitu menyedihkan, masih berani berkeliaran di tengah malam. Tidak takut membuat orang lain ketakutan setengah mati?"
Nan Qiang membayangkan rupa mereka yang berperawakan gempal dan tebal, satu berwajah penuh bopeng, satu lagi dipenuhi janggut kasar, dan yang terakhir bertubuh pendek namun sangat gemuk. Hanya dengan membayangkannya saja perutnya terasa mual.
Memperhitungkan waktu yang tepat, Nan Qiang mengenakan cadar dan melangkah cepat menuju Kantor Intelijen Rahasia.
Huai Qing berjongkok di balik rimbunan pohon di area Kantor Intelijen Rahasia. Ia sudah menunggu selama waktu pembakaran sebatang dupa, namun suasana di sekitar Kantor Intelijen Rahasia begitu sunyi senyap tanpa bayangan manusia sedikit pun.
Baru saja Huai Qing hendak berbalik, sebuah bayangan hitam melintas. Sebelum sempat bereaksi, titik akupunkturnya telah ditotok, membuatnya kehilangan suara.
Huai Qing berdiri mematung di tempat, keringat dingin bercucuran deras di sekujur tubuhnya. Jangan bilang... misinya gagal sebelum ia sempat bertindak?
Sejak kapan Kantor Intelijen Rahasia memiliki sosok ahli seperti ini? Jangan-jangan ketua Kantor Intelijen Rahasia telah kembali?
Beberapa saat kemudian, beban di punggungnya terasa menghilang. Huai Qing menarik napas lega, lalu berbalik dan mendapati sosok yang seluruh tubuhnya tertutup rapat hingga matanya pun tak terlihat. Sama sekali tidak mungkin mengenali siapa orang di balik pakaian itu.
Huai Qing mencium aroma yang terpancar dari tubuh orang tersebut, merasa familiar, namun tidak kunjung mengingat di mana ia pernah mencium bau itu.
Sesaat kemudian, orang itu menghunus pedang panjang. Pantulan cahaya bulan di bilah pedang itu menyala tepat di wajah Huai Qing.
Huai Qing melihatnya melesat langsung menuju Kantor Intelijen Rahasia. Sosok itu berdiri tegak di atas dinding pembatas Kantor Intelijen Rahasia. Pedang terangkat dan terayun, tidak ada seorang pun yang mampu mendekatinya dalam jarak setengah meter.
Melihat sosok itu melompat turun ke dalam area halaman, jantung Huai Qing berdegup kencang karena terkejut. Apakah orang ini berniat membantai seluruh penghuni Kantor Intelijen Rahasia?
Huai Qing kemudian melihat sesosok bayangan lain memanjat tembok utara untuk masuk ke dalam Kantor Intelijen Rahasia. Meskipun hanya melihat gumpalan hitam pekat, Huai Qing yakin seratus persen bahwa sosok itu adalah Nan Qiang.
Mereka adalah komplotan... lalu, siapa para pendekar berilmu tinggi itu?
Apakah itu Qi Si Kaki Pincang?
Untuk apa Qi Si Kaki Pincang ikut-ikutan membuat kekacauan bersamanya? Alis Huai Qing terpaut erat. Jika bukan Qi Si Kaki Pincang, lalu siapa?
Jangan-jangan kedatangan Nan Qiang ke ibu kota memang menyimpan tujuan tersembunyi? Bencana Dinasti yang ia ramalkan... mungkinkah itu berkaitan dengan Keluarga Nan?
Huai Qing menarik napas dalam-dalam. Baru saja ia melangkah maju, telapak kakinya terasa bagai dibebani timah, membuatnya tidak mampu bergerak sedikit pun.
Nan Qiang menyusup masuk ke dalam Gedung Arsip Rahasia dengan sangat mahir dan terbiasa. Setibanya di dalam, ia menyalakan sebatang lilin kecil.
Nan Qiang mendongak memandangi sekeliling Gedung Arsip Rahasia. Tempat itu penuh sesak dengan tumpukan dokumen rahasia, rak-rak buku menjulang hingga menyentuh langit-langit, dan sebuah tangga berputar berdiri di tengah ruangan.
"Ya ampun, besar sekali." Nan Qiang merasa kesulitan di dalam hatinya. Dengan area seluas dan sebanyak ini, jangankan waktu sebatang dupa, bahkan jika diberi waktu tiga hari tiga malam pun belum tentu ia bisa menemukan apa yang dicarinya.
Nan Qiang mengamati angka-angka di rak buku dengan kening berkerut, lalu menarik sembarang sebuah gulungan dokumen.
"Dana bantuan bencana banjir di Sungai Yangtze..."
Nan Qiang melempar dokumen itu kembali dan mengambil dokumen kedua. "Kebakaran di Kuil Tao Chong'an..."
"Kantor Intelijen Rahasia ini benar-benar tidak ada kerjaan. Masalah sepele seperti rempah-rempah dapur pun dicatat sedemikian rupa, bahkan catatan lama dari bertahun-tahun lalu juga masih disimpan."
Nan Qiang melemparkannya kembali, memicu kepulan debu tipis. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur rak buku di belakangnya.
Nan Qiang menopang tubuhnya pada rak buku, membuat sebuah dokumen terjatuh. Ia memungutnya: "Tahun kedua belas Yuan-yang, kasus korupsi Menteri Upacara Ruan Tian Shu."
Nan Qiang teringat saat pertama kali pergi ke Gedung Kesenian Jiaofang, ketika Huai Qing menceritakan latar belakang keluarga pelacur terkenal Ruan Zhu—bahwa Ruan Tian Shu adalah ayah dari Ruan Wen.
Nan Qiang merasa tertarik dan membuka sebuah halaman secara acak. Catatan yang tertera di dalamnya membuat pupil matanya menyusut seketika.
Nan Qiang merobek beberapa halaman dari gulungan itu dan memasukkannya ke dalam saku. Melihat tulisan-tulisan penanda di rak buku di atasnya, ia tiba-tiba mendapatkan sebuah gagasan.
Nan Qiang melompat ke atas, berdiri di tingkat paling atas rak, lalu mengamatinya dengan saksama.
Sudut bibir Nan Qiang terangkat. "Ternyata benar."
Era Qi-chang, era Ming-de, era He-xing, era Ming-xi, era Yuan-yang, era Long-chang—setiap nama era menempati satu gedung, dan angka-angka menunjukkan tahun, bulan, dan hari.
Tiga puluh tahun lalu... Nan Qiang menghitung dalam hati: "Baris ketiga!"
Nan Qiang berhasil menemukan arsip rahasia Keluarga Tian. Mendengar suara gerakan di luar, ia dengan cepat mencari arsip rahasia Kediaman Pangeran Nanhuai.
Nan Qiang mengambil dokumen tersebut dan mendapati arsip Kediaman Pangeran Nanhuai masih disegel dengan lilin lebah utuh.
Nan Qiang mengeluarkan pisau kecil, mengiris segel lilin lebah itu dengan rapi tanpa merusaknya, lalu mengeluarkan berkas rahasia di dalamnya.
"Tahun keempat belas Yuan-yang, laporan rahasia Xin Pingshan di Nanhuai menyatakan bahwa Pangeran Nanhuai memelihara seribu prajurit pribadi di Gunung Changdu, diam-diam membuka tambang bijih besi, serta melakukan perdagangan gelap bijih besi hitam dengan Tian Sheng.
Tahun kelima belas Yuan-yang, jumlah prajurit pribadi di Gunung Changdu bertambah lima ratus orang, Pangeran Nanhuai menggelapkan delapan puluh ribu tael perak dana militer.
Tahun keenam belas Yuan-yang, mata-mata Tian Sheng melaporkan kembali bahwa Pangeran Nanhuai mengirim surat rahasia kepada Duan Ya dari Tian Sheng.
Tahun ketujuh belas Yuan-yang, Duan Ya menduduki Gunung Wohu, prajurit dari pasukannya mengirim laporan darurat jarak delapan ratus li di tengah malam dan mendaki Gunung Wohu.
Awal era Long-chang, Pangeran Nanhuai datang ke ibu kota untuk menghadap kaisar, bersekongkol dengan para sastrawan dan cendekiawan, berniat merekrut para penasihat politik."
Hanya dalam beberapa baris kalimat singkat itu, Nan Qiang membaca dengan keringat bercucuran. Ia membalik halaman berikutnya, di mana setiap peristiwa dijelaskan secara rinci: siapa yang membuat laporan rahasia, bukti-bukti, kesaksian, serta tanggal, bulan, dan tahun kejadian.
Nan Qiang dengan hati-hati memanaskan lilin lebah tersebut dan menyegel kembali berkas itu seperti semula, lalu mengembalikannya ke tempat asal.
Nan Qiang memeriksa beberapa arsip lainnya untuk memastikan tidak ada lagi dokumen rahasia Kediaman Pangeran Nanhuai yang tertinggal, kemudian ia beralih memeriksa arsip Kediaman Pangeran Yu serta Baitenge.
Melihat seluruh rak buku yang dipenuhi catatan mengenai Baitenge, Nan Qiang mendesah pelan karena merasa pusing.
Nan Qiang mengambil dokumen yang berada di urutan paling depan dan paling belakang. Setelah selesai membacanya, ia membolak-balik dokumen di bagian tengah, hingga akhirnya ia memahami garis besar situasinya.
Memperhitungkan waktu pembakaran sebatang dupa yang hampir habis, Nan Qiang meniup padam lilin, lalu menutup pintu dengan sangat hati-hati.
Begitu melangkah keluar pintu, sesosok bayangan hitam berdiri tegak di bawah cahaya rembulan, sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah Nan Qiang.
"Pencuri kecil, masih mau kabur?!"