Bab Seratus Tiga Puluh Satu: Tengkorak
“Berisik sekali, cepat pergi!”
Xia Zhichan mengangkat kepala dan memandang benda yang mengeluarkan suara aneh di sampingnya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sebaliknya, ia malah memakinya tanpa basa-basi.
Tok-tok-tok, tok-tok-tok.
Di hadapannya berdiri sesosok kerangka putih. Suara aneh itu berasal dari mulutnya yang terus membuka dan menutup. Gigi-gigi pada rahang atas dan bawahnya telah banyak yang tanggal.
Entah karena apa, bagian atas kepala kerangka itu berlubang besar. Tanah bercampur rumput liar memenuhi lubang tersebut, sementara beberapa helai rumput kering yang tidak rata mencuat keluar dan bergoyang mengikuti irama suara tok-tok.
Orang biasa tentu akan ketakutan saat melihatnya. Namun bagi Xia Zhichan, penampilan kerangka itu justru agak lucu. Memang tidak ada yang terlalu menakutkan dari wujudnya.
“Apa maumu?”
Tok-tok-tok, tok-tok-tok.
Kerangka itu mengangkat kedua lengannya dan membungkuk dengan sopan. Lengan kirinya tidak memiliki telapak tangan, sedangkan telapak tangan kanannya juga kehilangan beberapa ruas tulang jari. Yang paling menyedihkan, tulang lengannya dipenuhi bekas gigitan. Melihat bentuknya, luka-luka itu agaknya bukan ulah manusia, melainkan akibat digigit anjing liar.
Tok-tok-tok, tok-tok-tok…
Giginya terus beradu dan suaranya semakin mendesak. Namun, bagaimanapun rahang atas dan bawahnya dibenturkan, tak sedikit pun suara yang keluar selain bunyi benturan yang nyaring.
Xia Zhichan melambaikan tangan. Ia tidak peduli apakah kerangka yang tinggal tulang-belulang itu bisa melihatnya atau tidak, lalu memutar bola mata.
“Aku tidak mengerti. Apa kau punya cara lain untuk menyampaikan maksudmu? Jangan terus-terusan tok-tok-tok begitu…”
Tok-tok-tok…
Kerangka itu masih saja mengetukkan giginya. Namun, barangkali ia juga menyadari bahwa Xia Zhichan sama sekali tidak memahami ucapannya. Dengan pasrah, ia mengusap rumput liar di atas kepalanya.
Tok-tok-tok!
Seolah-olah baru memikirkan sesuatu, ia mengulurkan tangan kanannya. Dengan jari yang tersisa tiga setengah, ia mencelupkannya langsung ke dalam api unggun di hadapan Xia Zhichan.
Ia mengambil sepotong arang yang masih membara, lalu menjepitnya dan menulis di tanah yang baru saja dibersihkan:
“Aku dahulu seorang pemuda terpelajar yang hidup tanpa beban, tinggal di Desa Keluarga Liu sepuluh li di luar pegunungan. Pada suatu hari, ketika keluar rumah, aku bertemu penjahat keji yang membunuhku di dalam kuil. Kasihan jasadku tak seorang pun mengurus, terlunta-lunta dan mengenaskan. Anjing liar menyeret tangan kiriku, lalu menjilati jari kananku…”
“Sudah, sudah. Kalau kau terus menulis, tempatnya tidak akan cukup.”
Xia Zhichan segera menghentikannya. Dengan kesal, ia melirik tulisan hitam legam di tanah. Sekilas saja sudah cukup baginya untuk tahu bahwa semasa hidupnya, kerangka ini adalah seorang cendekia tua yang sok puitis. Bahkan saat menulis pun ia harus membuat setiap kalimat berima.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Ingin aku membalaskan dendammu, atau menyeberangkan arwahmu?”
Kerangka itu berhenti menulis. Isinya tadi telah berubah dari ratapan menjadi kebanggaan tentang betapa cerdasnya dirinya pada masa muda—pada usia tiga tahun sudah mengenal huruf, lima tahun mampu menghafal puisi, dan pada usia tujuh tahun entah sudah menguasai apa lagi.
Sayangnya, tanah yang tersedia memang tidak cukup luas. Kalau tidak, ia mungkin masih akan terus menulis.
Mendengar pertanyaan Xia Zhichan, kerangka itu tertegun. Walaupun kerangka tidak memiliki ekspresi, gerakannya yang terpaku tetap tertangkap oleh Xia Zhichan.
“Jangan-jangan kau bersusah payah keluar hanya untuk menulis cerita dan menunjukkannya kepadaku?”
Melihat gerakan kerangka itu, Xia Zhichan langsung tahu bahwa makhluk ini adalah orang bodoh yang bahkan tidak tahu cara menjadi hantu. Setelah bersusah payah berjalan kemari, rupanya ia hanya ingin menulis kisah menyedihkan tentang hidupnya untuk diceritakan kepadanya.
Tok-tok-tok…
Kerangka itu tidak bisa berkedip. Dengan canggung, ia memalingkan wajah, seolah-olah tindakan itu dapat menyembunyikan rasa malunya. Rumput liar yang semula berantakan di atas kepalanya pun ikut terkulai.
Sebenarnya, ia memang tidak tahu harus berbuat apa. Jika ingin membalas dendam, ia bahkan tidak tahu sudah berapa lama berdiam di kuil ini. Penjahat yang dahulu membunuhnya mungkin sudah lama meninggal. Bagaimana mungkin ia membalas dendam?
Namun, jika ingin meminta arwahnya diseberangkan…
Kerangka itu mundur selangkah dengan ketakutan. Ia tidak tahu metode apa yang dimaksud Xia Zhichan dengan menyeberangkan arwah—apakah memanggil biksu untuk membacakan doa, atau mengundang pendeta Tao untuk mengusir roh jahat.
Tok-tok-tok…
Kerangka itu memasukkan separuh arang yang masih dipegangnya ke dalam mulut. Ia mengunyahnya beberapa kali dengan bunyi krek-krek, lalu remah-remah hitam berjatuhan dari bawah dagunya.
“Kau mati terbunuh. Karena hatimu dipenuhi keengganan, kau berubah menjadi seperti sekarang. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, kebencianmu sebenarnya hampir seluruhnya telah lenyap.”
Xia Zhichan tidak memedulikan tingkah kerangka itu. Ia menjelaskan dengan sungguh-sungguh mengapa, meskipun telah sampai pada keadaan dimakan anjing liar, kerangka itu masih belum dapat bereinkarnasi. Alasannya adalah tulang-belulangnya tidak lengkap, sehingga ia tidak dapat beristirahat dengan tenang.
“Sekarang kau dimangsa anjing liar karena dahulu kau pernah salah membunuh seekor induk anjing yang sedang bunting. Anak-anaknya kini datang menuntut balas…”
Kerangka itu mengguncangkan kepalanya kuat-kuat, lalu merapatkan kedua tangannya di depan dada dan membungkuk berkali-kali kepada Xia Zhichan dengan sikap sungguh-sungguh, seolah memohon agar diselamatkan.
Tok-tok-tok, tok-tok-tok.
“Siapa yang sepanjang hidupnya tidak pernah berbuat salah? Selama seseorang menyadari kesalahannya dan mau memperbaikinya, masih ada kesempatan untuk menebusnya.”
Xia Zhichan menghitung dengan jari, lalu kembali mengamati bentuk tulang kerangka itu.
Ada orang yang mungkin bertanya, bagaimana mungkin seseorang membaca peruntungan dari kerangka yang hanya tinggal tulang? Tentu saja bisa. Manusia memiliki wajah kulit, juga wajah tulang. Kini kulit dan dagingnya telah lenyap, tetapi tulangnya masih ada.
“Begini saja. Aku akan memberimu sebuah saran. Mau mendengarkannya atau tidak, terserah padamu.”
Pria itu menunjuk ke arah pintu, memberi isyarat agar kerangka keluar, lalu melanjutkan:
“Malam ini mereka akan datang lagi untuk menuntut balas. Sebaiknya kau keluar dan biarkan mereka memakanmu sampai puas…”
Xia Zhichan belum selesai berbicara ketika kerangka itu menggelengkan kepala sekuat-kuatnya seperti giring-giring. Rumput liar di atas kepalanya ikut bergemerisik.
“Kenapa? Tidak setuju? Tidak apa-apa. Kau bisa terus mempertahankan keadaan seperti ini. Kalaupun berhasil bersembunyi hari ini, kau tidak akan mampu menghindari hari esok.”
“Utang kepada orang lain, cepat atau lambat harus dibayar.”
Perkataan Xia Zhichan tepat menghantam lubuk hati kerangka itu. Mulutnya yang sedari tadi terus berbunyi tok-tok akhirnya berhenti. Kepalanya berulang kali menoleh kepada Xia Zhichan, lalu ke arah luar.
Waktu berlalu lama. Matahari di luar telah sepenuhnya tenggelam, dan cahaya terakhir pun lenyap di kedalaman hutan lebat.
Kerangka yang entah telah berapa lama menjadi seperti itu akhirnya mengambil keputusan. Untuk terakhir kalinya, ia membungkuk hormat kepada Xia Zhichan yang duduk bersila di dekat api unggun, lalu mendorong pintu dan berjalan keluar.
“Jangan lupa. Tak peduli bagaimana mereka menggigit dan memakanmu, kau harus menahannya. Kalau tidak, pada akhirnya tulangmu tidak akan lengkap dan dendammu belum terselesaikan. Saat itu, jiwamu akan tercerai-berai.”
Itulah kalimat terakhir yang didengar kerangka tersebut dari Xia Zhichan.
Kerangka itu keluar dari kuil bobrok. Selama bertahun-tahun, ia selalu bersembunyi di sini. Setiap kali anjing-anjing liar datang menyerang, ia akan berusaha menghalangi pintu agar mereka tidak dapat masuk, atau bersembunyi di aula belakang supaya tidak ditemukan.
Namun hari ini, ia tidak akan bersembunyi lagi.
Begitu langit mulai gelap, terdengar suara gemerisik dari semak-semak tak jauh dari sana. Beberapa anjing liar belang berukuran sedang menerobos keluar satu demi satu. Mereka menatap kerangka yang berjalan keluar dengan tenang.
Guk!
Setelah anjing liar terbesar menggonggong keras, semua anjing itu serentak menerkam. Sebagian menggigit lengannya, sebagian lagi menggerogoti pahanya.
Kerangka itu terjatuh terduduk di tanah dan membiarkan anjing-anjing tersebut memakannya. Tulang-belulangnya yang telah lama diterpa angin dan hujan mengeluarkan bunyi berderak. Serpihan tulang putih terlihat jelas berjatuhan.
Anjing-anjing liar itu bukan sedang berusaha mengenyangkan perut. Kerangka itu hanya terdiri atas tulang, tanpa sedikit pun daging. Memang anjing kadang-kadang menggerogoti tulang, tetapi tentu saja memakan tulang tidak akan membuat mereka kenyang.
Krak-krek, krak-krek…
Di tengah malam, anjing-anjing liar menggerogoti tulang putih itu, menimbulkan suara nyaring yang membuat gigi ngilu.
Krak!
Dengan sebuah bunyi patahan, lengan kiri kerangka itu menjadi bagian pertama yang putus. Anjing-anjing liar itu belum puas setelah menggigit putus tangan kirinya. Mereka terus menerkam dan menggerogoti tulang-tulang lainnya.
Tak lama kemudian, tulang rusuknya yang rapuh mulai patah. Pecahan-pecahannya jatuh ke tanah. Sebagian menancap miring di permukaan tanah, sementara sebagian lainnya menggelinding jauh.
Krak, krak, krak…
Suara patahan terus terdengar. Kerangka yang semula duduk bersila di tanah kini berubah seperti tertancap di dalamnya. Kedua tulang kakinya telah digigit putus seluruhnya, sehingga tulang panggulnya langsung menancap ke tanah.
Kini keempat anggota tubuhnya telah habis digerogoti. Tulang rusuk dan tulang-tulang lainnya pun satu demi satu dipatahkan oleh anjing-anjing liar. Yang tersisa hanyalah tulang belakang dan tengkorak dengan rumput liar di atasnya.
Anjing-anjing itu juga menghentikan serangan. Mereka tidak menerkam kerangka tersebut untuk mematahkan tulang belakang terakhirnya. Sebaliknya, mereka mundur beberapa langkah, seolah hendak pergi.
Guk!
Anjing terbesar kembali menggonggong beberapa kali. Anjing-anjing lainnya pun menurut dan kembali ke sisinya. Kawanan anjing liar yang tidak diketahui asal-usulnya itu hendak pergi ketika mereka melihat semak-semak di kejauhan bergoyang perlahan.
Sesaat kemudian, sepasang mata merah menyala muncul dari balik semak.
Anjing-anjing liar itu mundur dengan gentar beberapa langkah, lalu segera berbalik dan masuk ke dalam hutan. Tidak lama kemudian, sosok mereka pun lenyap dari pandangan.
Sepasang mata merah itu perlahan keluar dari semak-semak. Ternyata itu seekor serigala kelabu yang tubuhnya dipenuhi luka. Dari penampilannya, ia agaknya telah terusir dari kawanannya. Tubuhnya kurus kering, seolah sudah lama tidak makan.
Serigala itu melompat ringan keluar dari semak-semak. Dalam dua-tiga langkah, ia telah tiba di depan kerangka yang hanya tersisa tulang belakangnya. Ia berputar-putar dengan gembira, menjilati serpihan tulang di tanah, lalu mengarahkan pandangannya kepada kerangka tersebut.
Ia menyeringai, memperlihatkan mulut panjang yang dipenuhi taring. Air liur amis menetes dari sudut mulutnya.
Hari ini akhirnya ia bisa berpesta.
Punggungnya melengkung, kaki belakangnya menjejak kuat, lalu ia menerkam ke arah kerangka. Kedua kaki depannya telah mencengkeram tulang belakang itu. Namun, entah karena kerangka tersebut tertancap terlalu dalam di tanah atau karena serigala itu telah terlalu lama kelaparan hingga kehilangan tenaga, ia tetap tidak berhasil menjatuhkannya.
Xia Zhichan hanya mengatakan bahwa anjing-anjing liar itu adalah utang dendam yang harus dibayar kerangka tersebut. Ia tidak pernah mengatakan bahwa seekor serigala kelabu juga akan datang. Entah ini hanya kebetulan, atau memang sudah ditakdirkan.
Kerangka itu menundukkan kepala. Rongga matanya yang kosong menatap serigala kelabu yang berada begitu dekat dengannya. Tiba-tiba ia merasa raut serigala itu seperti pernah dilihatnya di suatu tempat, tetapi ia tidak mampu mengingatnya dengan jelas.
Mendadak sebuah pikiran melintas, dan kerangka itu pun tersadar.
Serigala kelabu di hadapannya sangat mirip dengan penjahat yang dahulu membunuhnya. Bagaimana mungkin seekor serigala menyerupai manusia? Namun, keserakahan dalam tatapan mereka ternyata sama persis. Meskipun wajah seseorang dapat terlupakan, sorot matanya tidak akan berubah.
Kerangka itu membuka mulut dan tertawa tanpa suara.
Separuh arang yang tersangkut di tenggorokannya jatuh keluar. Arang yang tadinya telah padam sepenuhnya tiba-tiba kembali menyala merah membara, lalu jatuh tepat ke tubuh serigala kelabu itu.
Sesaat kemudian, api berkobar hebat. Tidak ada satu pun benda lain yang terbakar. Api itu hanya melahap serigala kelabu tersebut hingga menjadi setumpuk abu, yang kemudian buyar ditiup angin.
Kerangka itu membuka mulut lebar-lebar, seolah sedang tertawa terbahak-bahak, lalu jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi.
Dendam telah lunas.
Xia Zhichan yang duduk di dekat api unggun tiba-tiba mengulurkan tangan dan menangkap sesuatu, seolah-olah ia baru saja menangkap seekor serangga terbang. Ia menggoyangkan tangannya dan melemparkan benda itu ke dalam lengan bajunya, lalu masih merasa kurang yakin dan menepuk-nepuk tangan kirinya.
“Kucing kecil yang baik, dia tidak boleh dimakan.”
Begitu selesai berbicara, Xia Zhichan tiba-tiba menyadari bahwa tempat kerangka itu menulis tadi telah berubah. Tulisan panjang yang memenuhi tanah sudah lenyap. Yang tersisa hanyalah serpihan arang hitam yang tersusun berliku-liku membentuk dua kata besar:
“Cepat lari.”