Bab 151: Teror Manusia Kertas
"Keponakan yang budiman, hari sudah larut, segeralah beristirahat."
Kepala Keluarga Bai sengaja batuk beberapa kali dengan gaya berpura-pura sakit, lalu diam-diam memberikan isyarat mata yang samar kepada Pengurus Rumah Tangga Dong. Mengingat Bai Su telah berhasil melewati ketiga ujian tersebut, mereka sebagai keluarga cabang harus memperlakukannya dengan penuh hormat. Terlebih lagi, kedudukan Bai Su berbeda dari anggota Keluarga Bai yang lain dan jauh lebih mulia.
"Paman, jaga kesehatan Anda. Keponakan pamit."
Xia Zhichan tidak terburu-buru menunjukkan sikapnya. Ia dan Nan Er diantar oleh para pelayan Keluarga Bai untuk tinggal di sebuah pekarangan kecil yang asri. Nan Er beberapa kali tampak seolah ingin mengatakan sesuatu, namun terhalang oleh kehadiran para pelayan yang melayani di dekatnya sehingga ia tidak dapat berbicara terus terang.
Hingga setelah mereka selesai menikmati camilan malam dan membersihkan diri.
"Katakan padaku... apakah kita akan tinggal begitu saja?"
Tanpa mengetuk pintu, Nan Er langsung mendorong pintu kamar Xia Zhichan. Melihat pemuda itu berbaring santai di atas ranjang tanpa menunjukkan rasa cemas sedikit pun, ia bertanya dengan nada bingung.
"Lalu memangnya kenapa? Apa lagi yang ingin kau lakukan?"
Ditemani cahaya lampu pelita di sudut meja, Xia Zhichan sedang tekun membaca dengan cahaya temaram. Mendengar pertanyaan Nan Er, ia bahkan tidak mengangkat kelopak matanya dan menjawab dengan santai.
"Bukankah kita berniat membantu Bai Erlang membersihkan namanya..."
"Lalu?"
"Jadi... kita seharusnya memberitahu Kepala Keluarga Bai bahwa Bai Erlang tidak bersalah. Kalau tidak, ia akan menjatuhkan hukuman pribadi demi menegakkan hukum keluarga, dan bukankah semuanya akan selesai begitu saja."
Nan Er duduk di samping. Memanfaatkan cahaya lampu yang meredup, ia mengintip buku di tangan Xia Zhichan, mencoba mengenalinya dengan cermat, lalu berkata dengan nada ragu:
"Pertapa... Lampu Kertas?"
Plak!
Xia Zhichan melemparkan buku di tangannya, tepat mengenai kepala Nan Er yang sedang melirik dari samping. Sambil mendengus kesal, ia berkata:
"Pertapa apa? Coba katakan, apa kau bisa membaca buku yang benar sesekali!"
"Kalau kau sendiri belum pernah membacanya, bagaimana bisa tahu kalau yang kubaca ini buku yang tidak benar..."
Nan Er mengambil buku berpenjilid benang dari atas kepalanya, lalu mengamati tulisan di sampulnya dengan teliti. Ia mendapati judulnya seharusnya adalah "Kisah Pertapa Rumpput di Bawah Lampu".
Ia membalik-balik halaman buku itu dengan bosan. Isinya mengisahkan otobiografi seorang pertapa tua, mulai dari masa mudanya saat menuntut ilmu, mengalami berbagai liku-liku kehidupan, pernah terperosok ke dalam lembah kenikmatan hingga kehilangan jati diri, jatuh miskin dan hidup menggelandang sebagai pengemis, hingga akhirnya mencapai pencerahan sejati dan memasuki gerbang keBuddhaan.
"Apa menariknya ini? Isinya hanya penuh dengan ajaran Buddha yang membosankan. Jangan-jangan kau tidak berniat melanjutkan ilmu Taoismemu, dan beralih bersiap menjadi biksu?"
Nan Er meletakkan kembali buku di tangannya ke atas meja dan bertanya dengan nada kebingungan.
"Meskipun ajaran Buddha di dalam buku ini biasa saja, orang yang menyebut dirinya sebagai pertapa rumput ini cukup menarik. Kemampuan sastranya sangat tinggi; baik puisi yang ditulisnya semasa belajar maupun kiasan Zen setelah ia memasuki gerbang pertapaan, semuanya sangat memikat."
Xia Zhichan mengambil kembali buku tersebut. Alih-alih menjawab pertanyaan Nan Er, ia justru dengan sengaja bertindak penuh misteri dan membalik buku itu ke halaman terakhir.
"Penulis buku ini bukanlah sang pertapa rumput, melainkan putra sang pertapa rumput. Buku ini kemungkinan ditulis sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan marga penulisnya adalah Yang."
"Lalu?"
Nan Er tidak mengerti maksud Xia Zhichan, jadi ia langsung mendesaknya.
"Dua puluh tahun yang lalu, sang pertapa rumput wafat pada usia lima puluh empat tahun. Putra bungsu beliau kini telah menjadi tokoh terkemuka yang memegang kekuasaan tertinggi di istana dinasti kita. Bisakah kau menebak siapa sebenarnya dia?"
Xia Zhichan hanya memberikan beberapa informasi sederhana dan sengaja memberi teka-teki kepada Nan Er, ingin melihat apakah pemuda itu mampu menebak identitas sang pertapa rumput di dalam buku tersebut.
"Wafat dua puluh tahun lalu, bermarga Yang, putra bungsunya memegang kekuasaan besar... Mungkinkah..."
Nan Er menggaruk-garuk kepalanya. Ia tiba-tiba teringat akan sebuah rumor yang pernah didengarnya, lalu berkata dengan nada ragu:
"Mungkinkah itu Yang Li? Tokoh yang dijuluki sebagai jenius puitis yang jarang ditemui dalam seratus tahun di Daqi. Kudengar perdana menteri di ibu kota Daqi saat ini juga bermarga Yang, dan kabarnya ia adalah putra dari Yang Li."
"Benar."
Xia Zhichan mengangguk puas. Pujian yang hendak ia berikan kepada Nan Er seketika terhenti saat ia mendengar sesuatu, membuatnya terpaku di tempat.
"Hehe, jangan meremehkanku ya."
Nan Er merasa sangat bangga karena berhasil menebaknya dengan benar. Namun, ketika melihat ekspresi wajah Xia Zhichan yang tampak tidak biasa, ia seketika menyadari bahwa sesuatu telah terjadi.
"Ada apa?"
Bahkan sebelum kata-katanya selesai, ia melihat Xia Zhichan mendorong jendela, dengan hati-hati mengamati keadaan sekitar terlebih dahulu, lalu melompat keluar dengan gesit.
Sebelum menutup jendela, pemuda itu memberikan isyarat tangan ke atas kepada Nan Er.
Bugh.
Bersamaan dengan tertutupnya jendela, sosok Xia Zhichan melesat sekejap dan terbang ke atas atap.
"Jika kau menjadi pencuri, kau pasti sudah menjadi leluhurnya para pencuri."
Nan Er paham bahwa isyarat Xia Zhichan tadi berarti ia ingin naik ke atas untuk melihat situasi, jadi ia mengomel sejenak sebelum kembali mengambil buku di atas meja dan melanjutkan bacaannya di bawah temaram cahaya lampu.
...
Dong Xuan bahkan tidak berani mengeluarkan suara napasnya karena takut menimbulkan kebisingan yang akan mengejutkan mangsa, sehingga ia menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.
Ia membelalakkan mata indahnya, menatap tanpa berkedip ke arah sosok berpakaian putih di atap koridor.
Wajah sosok berpakaian putih itu tidak terlihat jelas, tetapi bentuk tubuhnya tegap, hanya saja gerak-gerik anggota tubuhnya tampak kurang terkoordinasi dan berjalan meliuk-liuk di atas atap.
"Ternyata pria simpanan itu adalah seorang ahli bela diri. Pantas saja Ayah dan aku sudah menggeledah seluruh sudut Keluarga Bai namun tidak kunjung menemukannya."
Dong Xuan beranggapan bahwa seseorang yang mampu berjalan di atas atap dengan begitu mudah pastinya bukanlah orang sembarangan, melainkan salah satu ksatria dunia persilatan yang memiliki ilmu meringankan tubuh, atau bahkan mungkin pencuri bunga yang terkenal di dunia hitam.
Sosok berpakaian putih itu berjalan dengan liukan aneh, seolah-olah kedua kakinya kurang selaras sehingga tubuhnya selalu bergoyang dan berayun tidak menentu saat melangkah.
Sambil berjalan, ia tiba-tiba berhenti.
Dong Xuan seketika bingung harus berbuat apa. Ia hanyalah seorang wanita lemah yang tidak memiliki kemampuan bela diri; jika benar-benar menarik perhatian orang itu, ia sangat mungkin dibunuh untuk menghilangkan jejak.
Oleh karena itu, ia berdiri kaku di tempatnya, menatap tajam ke arah sosok berpakaian putih di atap koridor seberang.
Sosok berpakaian putih itu berdiri tegak dengan posisi membelakangi Dong Xuan, sehingga sang gadis tidak dapat melihat wajahnya. Namun, tepat pada saat itu, ia tiba-tiba menolehkan kepalanya.
Bukan menoleh seperti orang biasa pada umumnya, melainkan memutar kepalanya hingga setengah lingkaran penuh sehingga wajahnya menghadap ke belakang. Cukup dengan sedikit menunduk, ia bahkan bisa melihat punggungnya sendiri.
Dong Xuan tiba-tiba merasakan hawa dingin merayap. Padahal jarak mereka terlalu jauh hingga ia tidak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas, namun ia tetap bisa merasakan bahwa sosok tersebut sedang tersenyum.
Memutar kepalanya ke belakang, lalu tersenyum menyeringai kepada wanita di kejauhan.
Tap...
Atap tepat di atas kepala Dong Xuan juga mengeluarkan suara gesekan kecil. Ia bahkan tidak berani mendongak karena takut melihat pemandangan yang mengerikan.
Namun, ketika ia mengalihkan pandangannya sejenak lalu kembali menatap ke tempat semula, ia terkejut mendapati bahwa sosok berpakaian putih di atap koridor seberang telah lenyap tanpa jejak.
Segala hal yang terjadi barusan seolah-olah hanya mimpi atau sekadar ilusi semata.
"Hah... Jika ini ulah hantu, itu akan jauh lebih menakutkan."
Dong Xuan menghela napas panjang. Saat itulah ia merasakan hawa dingin yang mencekam telah menghilang. Dengan kaki lemas, ia mengulurkan kedua tangannya untuk berpegangan pada tiang di tepi koridor, dan setelah pulih beberapa saat, ia melangkah pergi dengan perasaan penuh curiga.
Bugh!
Xia Zhichan melayangkan tinjunya dengan kuat.
Sosok berpakaian putih itu terkena pukulan telak tepat di tubuhnya. Wajahnya masih menghadap ke belakang sehingga ia sama sekali tidak melihat gerakan tinju Xia Zhichan.
Hingga saat pukulan itu mengenainya dan melemparkannya ke udara, ia baru menyadari bahwa dirinya sedang diserang, lalu mengulurkan kedua tangan di udara untuk menopang kedua sisi kepalanya.
Krek krek krek——
Suara decitan yang tajam terdengar jelas. Sosok berpakaian putih itu mengerahkan tenaga untuk memutar kembali kepalanya ke posisi semula, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Wajah sosok berpakaian putih itu tampak sangat familiar, sangat mirip dengan Bai Erlang.
"Kau, manusia apa?"
Suaranya bergetar. Entah lidah di dalam mulutnya belum kembali ke posisi yang tepat, atau memang suara aslinya yang buruk, yang jelas suara yang ia keluarkan terdengar sangat bising dan tidak enak didengar.
"Makhluk apa kau ini?"
Xia Zhichan mengerutkan kening, mengamati dari atas ke bawah sosok berpakaian putih yang tampak ganjil itu. Makhluk ini hanya memancarkan hawa iblis yang tipis, tetapi tidak menyerupai hantu gentayangan maupun siluman.
Ia justru terlihat seperti sebuah boneka yang sedang dikendalikan.
"Heh, heh, heh."
Setiap kali ia mengeluarkan suara tawa, gerakannya terhenti kaku di setiap jeda. Wajah yang sangat mirip dengan Bai Erlang itu tampak datar tanpa ekspresi, bahkan tidak menyisakan sedikit pun emosi.
Sosok berpakaian putih itu mengangkat kedua tangannya dan menerjang maju dengan beringas, berniat mencekik Xia Zhichan.
Bugh!
Xia Zhichan melayangkan tendangan, menghantam balik sosok yang menerjang dari bawah itu, lalu dalam sekejap melesat dan mendaratkan tinju telak di wajah sang musuh.
Sosok berpakaian putih itu terpelanting jatuh ke tanah. Sebuah bekas tinju tercetak jelas di pipinya hingga wajahnya bergeser dan berubah bentuk—satu matanya membesar, matanya yang lain menyipit, dan mulutnya menjadi miring.
"Ugh, ugh, guk..."
Ia terkena pukulan telak hingga tidak dapat berbicara dengan jelas, namun ia tetap membuka lebar mulutnya dan mengeluarkan beberapa suara yang tidak jelas artinya.
Bugh!
Sosok berpakaian putih itu melompat bangkit. Kilau merah terpancar dari kedua matanya yang tidak simetris, lalu ia terlihat bergerak dengan kecepatan tinggi hingga hanya menyisakan kilatan cahaya putih.
Kedua tangannya melesat maju dan hampir berhasil mencekik leher Xia Zhichan sebelum akhirnya berhasil ditangkis oleh pemuda itu. Alih-alih berusaha melepaskan diri, sosok berpakaian putih tersebut justru membuka mulutnya dan memuntahkan gumpalan hawa hitam.
Whoosh—Xia Zhichan menghembuskan hawa pedang yang meluncur tepat menusuk pipi sosok berpakaian putih itu, meninggalkan goresan sayatan tajam pada wajah sang musuh.
Serpihan kertas putih beterbangan di udara.
Di balik kulit wajah yang robek ternyata berongga, hanya terlihat warna putih di bagian dalamnya. Makhluk berpakaian putih ini ternyata terbuat dari kertas.
"Manusia kertas..."
Xia Zhichan bergumam rendah, lalu dengan kuat mengibaskan kedua tangannya ke arah luar, membuat kedua lengan sosok berpakaian putih itu langsung terpelintir ke punggung.
Bugh!
Hawa pedang tak kasat mata menyelimuti telapak tangan Xia Zhichan. Tangan kirinya menebas bagai bilah pedang sementara tangan kanannya mengepal, dan keduanya mendarat secara bersamaan pada tubuh sang musuh.
Bugh——Tebasan tangan kiri memangkas lepas separuh wajah sosok berpakaian putih tersebut, sementara tinju kanannya menghantam seluruh tubuh makhluk itu hingga terpental jauh.
"Argh..."
Sosok berpakaian putih itu mulai melengkingkan jeritan. Kehilangan separuh wajahnya, ia gemetar ketakutan, lalu berbalik dan lari terbirit-birit tanpa peduli apa pun lagi.
Wujud putihnya dengan cepat menghilang dari pandangan.
Xia Zhichan tidak terburu-buru mengejarnya. Ia mengambil separuh wajah kertas yang tergeletak di tanah dan menggenggamnya di tangan. Bel sempat mengamatinya lebih cermat, ia sudah mendengar derap langkah kaki para pelayan yang tergesa-gesa mendekat.
Dalam sekejap mata, ia melesat kembali ke dalam kamarnya.
Sementara itu, nun jauh di sebuah bangunan kecil di pekarangan timur Keluarga Bai, embusan angin kencang tiba-tiba mendorong membuka pintu, lalu meniup lukisan yang menggantung di dinding hingga berkibar kencang.
Wanita yang tadinya tertidur pulas di atas ranjang membuka matanya. Ia mengulurkan kaki dengan lembut menyingkap ujung kelambu, lalu berkata dengan suara malas:
"Kemarilah~"
Lukisan pemandangan tinta yang tergantung di dinding kamar tersebut—yang awalnya menggambarkan seorang pemuda berpakaian putih di bawah naungan pohon willow hijau dan pegunungan asri sedang menunduk melukis—kini telah menolehkan separuh wajahnya, mendongak dan menatap dalam kebisuan ke arah pegunungan di kejauhan.